Langsung ke konten utama

Featured post

Mood Booster❤

Bismillahirrahmanirrahim Sebaik-baik mood booster, adalah kalimat Allah. Buat kalian yang sedang bersedih. Semoga membantu. Terjemahan Al Quran, surah Fushilat. 30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: " Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu " 31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. From me, with a lot of love❤❤❤

Batu Banama

Assalamu'alaikum Blogger..
Selamat berakhir pekan! Apa saja kegiatan yang sudah Blogger lakukan untuk mengisi waktu luang ini? Pasti banyak ya.. Nah pada kesempatan kali ini saya akan berbagi cerita selama saya KKN. Jadi KKN saya tidak dihabiskan di posko untuk bekerja saja, tapi saya sempatkan untuk jalan-jalan dan berwisata. Pada kesempatan kali ini saya wisatanya ke Batu Banama.

Hari itu hari proklamasi, independence day! Yap, tepatnya tanggal 17 Agustus 2014, saya dan keempat rekan saya berwisata ke Batu Banama. Mereka adalah Dendi, Jemmy, Revi, dan Yulieet. Kami berangkat pada pukul 10 pagi. Itulah kesalahan yang pertama. Kesalahan kedua, jalan-jalan ini mendadak alias tanpa perencanaan sebelumnya, jadi bekal yang kami bawa juga seadanya. Tapi apapun kesalahannya, kami tetap lanjut.. :D

Jarak wisata Batu Banama dengan posko kami mungkin sekitar 1 km, cukup dekat karena ditempuh dengan sepeda motor. Tiket masuk, cukup bayar 10.000 dan Anda bisa menghabiskan waktu sesuka hati Anda di bukit ini. Yap, bukit. Jadi Batu Banama adalah nama bukit yang letaknya tidak jauh dari bukit Tangkiling. Jadi jalan-jalannya hari ini tidak mendatar, tapi mendaki :p hehe

Kami memulai pendakian sekitar pukul 10.20 WIB. Ketika matahari sudah jauh dari sepenggal lahan. Awal pendakian ya masih semangat, jalan selangkah selfie, lihat jembatan selfie, lihat pendopo selfie, naik tangga selfie. Pokoknya selfie terus. 
Selfie dimana mana
Pendakian awal sih mudah, karena sudah ada fasilitas tangga dari beton dengan pengaman di kiri kanan. Jadi kami tinggal naik tangga. Pemandangannya subhanallah, kereeennn... Setidaknya, tidak perlu jauh-jauh untuk melihat betapa hebatnya penciptaan Allah. Kami beristirahat sejenak di anak tangga, sekedar melepas lelah. 

Kemudian lanjut mendaki. Pendakian dengan menaiki anak tangga hijau ini tidak cukup berat. Tapi 600 meter kemudian, tangga mulai hilang. Kami mulai menyusuri tanah perbukitan tanpa pengaman di kiri kanan. Alhasil, kalau lengah sedikit ya tanggung resikonya. Dan coba tebak saat itu jam berapa? jam 12 siang. Pas matahari di puncaknya, pas panas lagi terik-teriknya. Jadilah kami berlima sambil bercucuran keringat mendaki. Mungkin untuk pengguna jeans dan sepatu kets, rute ini mudah saja. Tapi hei, saya pakai dress saat itu :D plus pakai sandal biru alay karena saya lupa bawa kets. Jadi setiap saya mendaki, saya benar-benar ekstra hati-hati. Nyaris saja saya terpleset, untung saya sempat berpegangan pada alang-alang.

Selama mendaki, saya harus pintar mengatur napas. Karena sulit sekali bernapas, seolah oksigen mulai langka. Alhamdulillah sekitar 100 meter di depan ada batu besar, sudah tidak sempat berpikir apakah batu itu berdebu atau apa, yang penting bisa bersandar dan istirahat. Di tengah lelah seperti itu, masih sempat saja selfie. Haha. Kalau sedang mendaki seperti ini, saya teringat film 5 cm, bedanya kami cuma berlima, dan kami cuma naik bukit yang cetek :D haha

Kemudian perjalanan dilanjutkan, sampai akhirnya kami tiba di gua yang banyak kelelawarnya. Kami pun beristirahat dan mengambil beberapa gambar. Perjalanan sisa 200 meter lagi, tapi saya rasa sudah tidak sanggup melanjutkan. Napas rasanya masih tertinggal di bawah. Saya sibuk mengatur napas dan minum. Ternyata Uyet alias Yulieet pun berpikir demikian. Jadilah saya dan Uyet menunggu di goa sementara yang lain melanjutkan perjalanan. Di goa, kami bertemu dengan ibu-ibu yang sedang beristirahat juga. Kami pun bergabung sambil ngobrol. 

Sudah 30 menit berlalu, tapi teman kami tak kunjung kembali. Kami mulai bosan menunggu.
"Gimana Yet? kita susul kah? atau kita duluan ke bawah" tanya saya
"Kita susul aja yuk, bisa lama nih"
"Tapi gandengan tangan ya. dan pelan-pelan" sahut saya, soalnya capek banget
Akhirnya kami pun menyusul ketiga rekan kami yang lebih dulu ke puncak. Setelah tertatih, terengah-engah, jatuh bangun (alay), kami pun sampai di puncak, Yeay puncaaakkk. Kami tiba di puncak sekitar jam 1 siang. Subhanallah, capeknya luar biasa. Cukup sekali mendaki seperti ini. Hehe. Jiwa saya memang bukan jiwa pencinta alam. Serius, capeeekk :'( belum lagi turunnya. Andai ada helikopter.

Dari atas puncak, bisa melihat sekeliling. Bisa melihat jalan, bisa melihat sungai. Ah semuanya terasa kecil.. hehee



Di puncak, anginnya deras sekali. Banyak pendaki yang sibuk foto-foto. Kami cuma menghabiskan 20 menit di puncak dan berniat turun. Turun ternyata tidak membutuhkan waktu lama, mungkin sekitar 20-30 menit. Selagi menunggu yang lain turun, kami beristirahat dan lanjut foto lagi :D
dua kurcaci yang mau turun bukit :D
Oke..cukup sekian laporan jalan-jalan edisi KKN-nya yah Blogger...
kalau mau coba mendaki bukit Batu Banama ini, silakan mampir ke Palangka Raya dan menempuh perjalanan sekitar 32 km dari kota. :)

Sekian.. semoga bermanfaat! Salam jalan-jalan ^^

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Hardest Part (1)

Bismillahirrahmanirrahim... Aku akan memberanikan untuk membuka sebuah luka dalam hidupku. Ini tentang sesuatu yang menimpaku setahun yang lalu. Jika ada dari kalian yang merasa tidak nyaman dengan tulisan ini, bisa skip saat ini juga. Tulisan ini entah akan jadi berapa bagian. Saking panjang dan lamanya. *** Kalian mungkin pernah mampir ke tulisanku di bulan maret 2023, judulnya NKTCTHI (Nanti Kita Tidak Cerita Tentang Hari Ini) yang juga ada part 2-nya .  Aku kekeuh selama itu tidak ingin membuka luka ini di blog-ku, karena aku masih beranggapan ini adalah sebuah aib. Tapi waktu berlalu, banyak pengalaman yang ku dapat, banyak artikel dan cerita orang lain bersliweran, yang membuat aku mengerti bahwa ini bukanlah aib, dan tak apa kalau kita terbuka membicarakan ini. Luka ini seperti luka luka lain yang normal untuk dimiliki dan bisa sembuh. Luka ini bisa terjadi pada siapa saja. Luka ini pun bukanlah dosa, jadi tak apa. Tujuan aku menceritakan luka ini adalah aku sangat berharap...

Kejujuran itu Terlampau Mahal

Hari ini aku berdiri di hadapan banyak pasang mata siswaku, sambil menggenggam puluhan lembar kertas soal.  Minggu lalu kami mengadakan PTS menggunakan aplikasi yang diakses dengan HP. Jaman semakin canggih, bahkan menjawab soal seperti ini saja diharuskan menggunakan teknologi. Ku akui memang lebih mudah menggunakan teknologi ini, tak payah kami mengoreksi jawaban satu satu dengan sebelumnya melubangi LJK pakai obat nyamuk. Walau katanya Lembar Jawaban Komputer, tetap saja mengoreksinya manual. Tapi begitulah~ Itu beberapa tahun silam. Meski kami tak bau asap obat nyamuk lagi, nyatanya teknologi selalu punya celah untuk dikeluhkan. Anak anak lebih suka berlelah lelah mempelajari tips dan trik untuk curang, ketimbang tips dan trik menjawab soal dengan mudah. Kalau guru punya 1001 cara untuk meminimalisir kecurangan, siswa juga punya 1001 cara menyiasati agar bisa curang. Apakah kecurangan senikmat itu? Hingga mereka lebih suka berkubang di dalamnya? Hari ini aku mengulang PTS itu. ...

My Hardest Part (2)

Bismillahirrahmanirrahim Tulisanku kedua, yang pertama bisa baca disini . Aku tidak tau kapan tulisan ini akan rampung ya.  *** Aku dan ibu akhirnya membuat janji temu dengan psikiater. Malam-malam gerimis kami memesan taksi online. Aneh rasanya di sepanjang perjalanan, apalagi saat supirnya mencoba ramah dengan bertanya apakah kami mau berobat? Berobat apa? Padahal satu-satunya dokter yang ada saat itu adalah dokter jiwa. Aku bertemu psikiater. Rasa di dalam dadaku campur aduk. Takut, malu, sedih, dan emosi lain silih berganti. Aku menceritakan apa yang ku alami pada dokternya, sambil menggegam erat buku jariku, sesekali aku menangis. Dokternya merespkan obat, mengatakan padaku bahwa sakitku ini memang ada, namanya anxiety disorder  atau gangguan kecemasan berlebih, dan bisa diobati.  Waktu pengobatannya enam bulan. Tapi sebenarnya waktu pengobatannya fleksibel, bisa lebih cepat, bisa juga lebih lama. Bahkan bisa tahunan. Aku lemas dan gontai berjalan keluar ruangan. Puk...

Mood Booster❤

Bismillahirrahmanirrahim Sebaik-baik mood booster, adalah kalimat Allah. Buat kalian yang sedang bersedih. Semoga membantu. Terjemahan Al Quran, surah Fushilat. 30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: " Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu " 31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. From me, with a lot of love❤❤❤

Selamat Berpisah, Tuan

Selamat berpisah, Tuan Terima kasih karena menyempatkan singgah ke pelukan gadis malang sepertiku, Terima kasih untuk antusiasmu yang hanya sebentar, Terima kasih telah membawakan aku sebongkah harapan yang merekah, Terima kasih sebab menjadi mimpi baikku sampai sekarang. Kamu benar Tuan, kurasa ini karmaku, Karena telah menyia-nyiakanmu, Karena berbohong padamu dan pada perasaanku, Aku sedikit menyesal, Tuan. Mestinya aku mengaku. Tapi apakah itu akan mengubah hari ini? Apakah dengan kejujuranku, kamu tidak akan pergi? Aku meraba-raba, kenangan kita di masa lampau, Kamu hadir di saat aku sangat terjebak dalam kubangan gelap pikiranku, Kamu menawarkan cinta tulus nan sederhana. Lantas, semudah itu perasaanmu berubah Tuan Apakah tak ada sedikit pun rasa yang tertinggal? Aku memang gadis bodoh. Benar aku bagus dalam pelajaran, Tapi sangat bodoh dalam perasaan, Aku ingin membencimu Tuan, Tapi hatiku berontak, Penat. Selamat berpisah, Tuan Aku mengikhlaskanmu. Aku tak apa. Sudah biasa. Han...

Sang Pembaharu

Jujur sebagai manusia biasa yang sedikit idealis, aku cukup lelah mental dan fisik. Belakangan ini dunia semakin bercanda. Negara semakin melucu. Dan makin banyak manusia dengan ambisinya yang beragam, aku tentu berharap ambisinya baik untuk dunia, namun semua itu hanya khayalanku saja. Bahkan tanpa ambisi itu, iklim dunia saja sudah amburadul. Pemanasan global, cuaca ekstrem, dan ancaman kerusakan bumi yang tak main main. Malah sebagian manusia rakus nan tamak justru dengan kesadaran penuhnya, makin semangat dan gelap mata merusak bumi gila gilaan. Ugh. Masalah tiap harinya makin banyak. Baru saja membuka mata di pagi hari, gempuran berita buruk bermunculan. Aku sampai kebingungan dan berharap tidak tau apa apa. Sebagai manusia, aku seperti punya tanggung jawab untuk menjaga lingkungan dan moral di negara yang morat marit ini. Terlebih peranku sebagai guru, aku makin harus 'ideal' untuk menyadarakan ratusan siswaku agar mereka juga mau berkontribusi demi kehidupan yang lebih b...

My Hardest Part (4)

Bismillahirrahmanirrahim... Baca dulu part sebelumnya ya, part 1 , part 2 , dan part 3 . Hari-hari berjalan perlahan. 21 Maret itu aku mulai memberanikan diri jalan berdua dengan temanku ke kafe di kota kami. Pagi-pagi kami sudah duduk manis memesan es stroberi dan nasi goreng. Kafe-nya masih sepi. Sejak itu, aku mulai berani membuka diri di keramaian (yang sepi). Selama sakit aku sama sekali tidak keluar rumah untuk main, pikiranku runyam sekali, aku lebih suka tiduran di samping ibuku. Dan kini aku menatap jalan raya dari balik jendela kafe.  Ah. Menyenangkan bisa kembali setelah nyaris kehilangan diriku . Setelah dari kafe, kami ke miniso, kemudian jalan memutari sebuah kebun hijau. Aku bersyukur untuk banyak hal. Aku mulai kembali kerja lagi. Walau masih tertatih. Atasanku sangat bijaksana saat itu, beliau memberikan aku ruang dan waktu hingga pemulihanku.  Beliau tidak menuntut banyak hal. Aku menjalani hari yang terik dan hujan yang dingin. Ku nikmati tiap detailnya deng...

Jadi Guru Itu...

Jadi guru dulu ku kira pekerjaan yang gampang sekali. Ternyata sulitnya minta ampun! *** Cita cita pertamaku jadi guru. Sebab jadi dokter atau perawat terlalu berisiko. Sejak aku kecil aku sudah menyadari diriku tidak mampu mengemban tanggung jawab seberat itu. Maka ku putuskan aku akan menjadi guru. Entah kenapa rasanya menyenangkan, melihat bapak ibu guruku dulu di depan kelas. Maka disinilah aku, sedang menikmati sarapanku di ruang kantor yang sepi di hari senin pagi, dalam balutan pakaian seragam dinas.  Ternyata setelah satu dekade aku mengajar, aku tak hanya mengajar. Aku juga jadi detektif, jadi hakim, perawat, psikolog, jadi apa saja semua ku kerjakan demi melindungi anak anak. Melindungi yang diartikan secara luas ya, melindungi yang tidak bisa diartikan secara gamblang oleh pemikiran anak anak. Hari ini aku menemui lagi, kasus anak anak yang menderita stres berat, sampai panic anxiety . Mungkin karena aku pernah mengalaminya, aku tau bagaimana mengatasinya. Tapi banyak p...

Tangga Nada

Kurang random apalagi sih aku? Ke toko, malah naksir mas random? Tapi ngalamin starstruck (star in my heart) wkwk Aku selama ini nggak pernah memperhatikan. Entah kenapa minggu itu kayak, kok mas ini manis sih? Udah gitu tinggi dan lembut juga. Tapi akuuuuu masih merasa bodo amat. Walau ketika pulangnya, ada perasaan aneh kayak...aku suka deh sama masnya🥲 Ada momen dia nyamperin aku dan aku blank, diem, suara parau. Kesal😭 Kenapa harus parau? Kenapa aku tidak menanggapi dengan sangat berterima kasih dan ngobrol dikit? Huuu Di jalan aku nyesel, kepikiran🥲 Waktu aku cerita sama temen temenku, mereka semua kayak satu suara dengan bilang, hayok lah kita kesana, siapa tau ketemu, kita samperin tanya nama dan wa-nya. Aku yang panik! Tapi sampai sekarang aku masih kepikiran😥 Aku pernah ketemu lagi, di tempat yang sama, dan yaudah nggak ada apa apa. Bahkan papasan juga nggak. Aku cuman ngeliatin dari jauh. Apakah semesta gak mendukung? Sedih banget, sampai aku agak cry dikit waktu ngobrol ...

My Hardest Part (3)

Bismilahirrahmanirrahim Ditulis selepas shalat maghrib. Baca dulu part sebelumnya ya, part 1 dan part 2 *** Berbagai metode dan pendekatan sejatinya sudah pernah ku jajal. Mulai dari ruqyah syyariah bersama ustadz, dibacakan doa oleh ibuku sendiri, dibuatkan air doa dari air wudhu oleh ibuku sendiri, diberi tips dzikir oleh suami sepupuku, dibawakan air zam-zam dari temanku, dibawa ke psikiater, diskusi dengan psikolog, bahkan juga mencoba hipnoterapi. Tapi khusus hipnoterapi aku pribadi sangat tidak menyarankan. Karena menurut ust Zaidul Akbar pun beliau tidak membolehkan. Padaku juga dampaknya langsung terasa, kambuh maag-ku sepulang dari sana, dan keadaanku semakin memburuk. Awalnya aku masih bisa makan minum dan kerja, setelah sesi hipnoterapi justru aku muntah-muntah, diare, sekujur tubuhku dingin dan ngilu. Banyak sekali naik turun terjalnya perjalananku. Sulit untuk ku ungkap secara detail, saking ruwet dan kompleksnya. Aku masih terus menemui psikiater hingga awal bulan maret....