Langsung ke konten utama

Featured post

Mood Booster❤

Bismillahirrahmanirrahim Sebaik-baik mood booster, adalah kalimat Allah. Buat kalian yang sedang bersedih. Semoga membantu. Terjemahan Al Quran, surah Fushilat. 30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: " Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu " 31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. From me, with a lot of love❤❤❤

Natrium dan Klorida Part 2

Assalamu'alaikum :)
Hari ini masih dengan mood yang sama ketika menuliskan mini seriesnya Natrium dan Klorida. Saya akui, mood ini didapat paska membaca novel-novel teenlitnya Esti Kinasih. Hehe :p
Ok lah. Here we go!

Ada yang masih ingat sama cerita Natrium Klorida part 1? Atau belum baca? Kebetulan saya kan baik hati dan tidak sombong, maka buat kalian yang mau baca lagi part 1-nya, bisa klik disini. Buat kalian yang sudah membaca, langsung lanjut ya~


Pertengahan 2015.
12:00.
Satu panggilan tidak terjawab. Klorida!

Akhir 2015.
20:58.
Layar handphone menyala. Disusul bunyi dering Line. Ada pesan lagi dari unsur bernomor atom 17.
Layar dengan background cherry blossom pink menampilkan pesannya, "Ada yang lagi suka sama kamu".
Natrium membalas, "Oh ya? Siapa?" tidak lupa kemudian ia sisipi stiker Sally biar kesannya warna warni.
"Masa kamu ngga tau? Pura-pura deh" bunyi pesan berikutnya.
Natrium berpikir sejenak, "ngga tau, siapa sih?". Natrium mulai melancarkan aksi-aksi interogasi, habis siapa suruh bikin penasaran! Setelah pesan-pesan yang isinya seolah mengalihkan pembicaraan, akhirnya Klorida mengalah, "Menurutku si Iodida suka sama kamu". Natrium tertegun.

Kamu ini kenapa sih, Klorida? rutuk Natrium dalam hati

Awal 2016.
16:03.
Natrium duduk di boncengan Fluorida. Menghabiskan sore bersama sahabat memang lebih melegakan. Menyusuri kota kecil tempat mereka dibesarkan. "Kamu gimana sama si..siapa sih itu? Klorida ya?" Fluorida bertanya sambil membetulkan letak spion. Maklum, perbedaan tinggi keduanya membuat Fluorida harus menyesuaikan letak spion setiap kali ia pakai motor Natrium. "Entah." sahut Natrium asal. "Sudah jarang chat-an?". "Kemarin-kemarin aku ada chat-an sama dia, tapi ngga dibalas sih. Kayaknya memang bukan dia kali. Kalau dia serius, dia pasti balas" Natrium memandang sekeliling. Ia mengingat-ingat chat terakhir dengan Klorida. Fluorida terdiam. Bingung mau menjawab apa, atau bertanya apa lagi. "Lagian..." Natrium tertahan, ia menimbang-nimbang, cerita atau tidak. "Lagian?" tanya Fluorida. "Hmm.. Lagian aku sama dia cuma temenan di Line. Aku ganti pin BBM, dan aku ngga temenan di BBM". "Dia ngga invite kamu?". "Itulah. Ku rasa aku ngga sepenting itu harus diinvite. Padahal dia bisa aja invite aku kapanpun". Keduanya membisu di perjalanan. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

18:25.
Kabar terbaru Klorida muncul di beranda Facebook. Natrium hanya melihat sekilas. Memang ada cowok begini? Tidak pernah jujur dengan perasaannya dan selalu meragu. Nanti kalau aku lelah, aku beneran pergi!

Pertengahan 2015.
13:47.
"Jadi ini gimana sekarang? Sudah selesai?"
"Iya sudah... Tinggal nunggu wisuda." Natrium menjawab sambil berberes. Memilah dokumen yang masih dipakai dan yang mau dibuang.
"Ini dimana?"
"Masih di kos sih. Belum balik. Sambil mulai packing nih" Natrium menutup kardus yang sudah kelebihan muatan dengan selotip besar.
"Masih betah disana?"
"Ngga juga lah... Ada yang belum selesai diurus"
Tidak lama kemudian Natrium melepaskan headsetnya. Melirik sekilas ke layar. Ringkasan panggilan terakhir 30 menit.

Juli 2013.
16:57. "Wanita yang baik, jangan rebut bintangku ya" status Facebook terbaru dari Magnesium yang kebetulan muncul di beranda. Sungguh kebetulan yang menyebalkan! Siapa juga yang mau ngerebut? Pede banget sih?
Blokir pertemanan!

Akhir 2014.
18:05.
Pesan baru di Twitter. "Kaka lagi sakit? Cepet sembuh ya ka", Natrium mengerutkan kening, tau darimana ini anak kalau aku lagi sakit?

Februari 2016.
18:13. Natrium mencoret-coret bukunya. Saatnya pergi? Ku rasa belum, pikiran Natrium yang kalut membuatnya tak sadar kalau kertas yang dia coret nyaris robek.
Aku ingin bertahan. Tapi apa dia bahkan tau aku bertahan?

Selama beberapa tahun belakangan, Natrium sudah mencoba membuka hatinya untuk Klorida. Sejujurnya ia tidak pernah menyesal pernah menolak Klorida, yah, ini hanya masalah waktu. Waktunya belum tepat. Namun tahun demi tahun berlalu, ia merasa luar biasa lelah. Sebenarnya ia pun tidak dalam kondisi menunggu, ia hanya bertahan, bertahan dengan perasaan yang sama. Sayangnya, mungkin yang perasaannya kini sedang dipertahankan tidak tau menahu. Atau, justru sedang memendam perasaan ke yang lainnya, mungkin Magnesium? Ah peduli apa. Natrium pun mulai ragu dengan perasaannya. Lagipula Klorida kini tidak lagi Klorida yang sama. Mungkin juga perasaannya tak lagi sama?

Maret 2016.
17:24. Aku sudah lelah! Saatnya beneran pergi! Perhaps its not you!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Hardest Part (1)

Bismillahirrahmanirrahim... Aku akan memberanikan untuk membuka sebuah luka dalam hidupku. Ini tentang sesuatu yang menimpaku setahun yang lalu. Jika ada dari kalian yang merasa tidak nyaman dengan tulisan ini, bisa skip saat ini juga. Tulisan ini entah akan jadi berapa bagian. Saking panjang dan lamanya. *** Kalian mungkin pernah mampir ke tulisanku di bulan maret 2023, judulnya NKTCTHI (Nanti Kita Tidak Cerita Tentang Hari Ini) yang juga ada part 2-nya .  Aku kekeuh selama itu tidak ingin membuka luka ini di blog-ku, karena aku masih beranggapan ini adalah sebuah aib. Tapi waktu berlalu, banyak pengalaman yang ku dapat, banyak artikel dan cerita orang lain bersliweran, yang membuat aku mengerti bahwa ini bukanlah aib, dan tak apa kalau kita terbuka membicarakan ini. Luka ini seperti luka luka lain yang normal untuk dimiliki dan bisa sembuh. Luka ini bisa terjadi pada siapa saja. Luka ini pun bukanlah dosa, jadi tak apa. Tujuan aku menceritakan luka ini adalah aku sangat berharap...

Kejujuran itu Terlampau Mahal

Hari ini aku berdiri di hadapan banyak pasang mata siswaku, sambil menggenggam puluhan lembar kertas soal.  Minggu lalu kami mengadakan PTS menggunakan aplikasi yang diakses dengan HP. Jaman semakin canggih, bahkan menjawab soal seperti ini saja diharuskan menggunakan teknologi. Ku akui memang lebih mudah menggunakan teknologi ini, tak payah kami mengoreksi jawaban satu satu dengan sebelumnya melubangi LJK pakai obat nyamuk. Walau katanya Lembar Jawaban Komputer, tetap saja mengoreksinya manual. Tapi begitulah~ Itu beberapa tahun silam. Meski kami tak bau asap obat nyamuk lagi, nyatanya teknologi selalu punya celah untuk dikeluhkan. Anak anak lebih suka berlelah lelah mempelajari tips dan trik untuk curang, ketimbang tips dan trik menjawab soal dengan mudah. Kalau guru punya 1001 cara untuk meminimalisir kecurangan, siswa juga punya 1001 cara menyiasati agar bisa curang. Apakah kecurangan senikmat itu? Hingga mereka lebih suka berkubang di dalamnya? Hari ini aku mengulang PTS itu. ...

My Hardest Part (2)

Bismillahirrahmanirrahim Tulisanku kedua, yang pertama bisa baca disini . Aku tidak tau kapan tulisan ini akan rampung ya.  *** Aku dan ibu akhirnya membuat janji temu dengan psikiater. Malam-malam gerimis kami memesan taksi online. Aneh rasanya di sepanjang perjalanan, apalagi saat supirnya mencoba ramah dengan bertanya apakah kami mau berobat? Berobat apa? Padahal satu-satunya dokter yang ada saat itu adalah dokter jiwa. Aku bertemu psikiater. Rasa di dalam dadaku campur aduk. Takut, malu, sedih, dan emosi lain silih berganti. Aku menceritakan apa yang ku alami pada dokternya, sambil menggegam erat buku jariku, sesekali aku menangis. Dokternya merespkan obat, mengatakan padaku bahwa sakitku ini memang ada, namanya anxiety disorder  atau gangguan kecemasan berlebih, dan bisa diobati.  Waktu pengobatannya enam bulan. Tapi sebenarnya waktu pengobatannya fleksibel, bisa lebih cepat, bisa juga lebih lama. Bahkan bisa tahunan. Aku lemas dan gontai berjalan keluar ruangan. Puk...

Mood Booster❤

Bismillahirrahmanirrahim Sebaik-baik mood booster, adalah kalimat Allah. Buat kalian yang sedang bersedih. Semoga membantu. Terjemahan Al Quran, surah Fushilat. 30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: " Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu " 31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. From me, with a lot of love❤❤❤

Selamat Berpisah, Tuan

Selamat berpisah, Tuan Terima kasih karena menyempatkan singgah ke pelukan gadis malang sepertiku, Terima kasih untuk antusiasmu yang hanya sebentar, Terima kasih telah membawakan aku sebongkah harapan yang merekah, Terima kasih sebab menjadi mimpi baikku sampai sekarang. Kamu benar Tuan, kurasa ini karmaku, Karena telah menyia-nyiakanmu, Karena berbohong padamu dan pada perasaanku, Aku sedikit menyesal, Tuan. Mestinya aku mengaku. Tapi apakah itu akan mengubah hari ini? Apakah dengan kejujuranku, kamu tidak akan pergi? Aku meraba-raba, kenangan kita di masa lampau, Kamu hadir di saat aku sangat terjebak dalam kubangan gelap pikiranku, Kamu menawarkan cinta tulus nan sederhana. Lantas, semudah itu perasaanmu berubah Tuan Apakah tak ada sedikit pun rasa yang tertinggal? Aku memang gadis bodoh. Benar aku bagus dalam pelajaran, Tapi sangat bodoh dalam perasaan, Aku ingin membencimu Tuan, Tapi hatiku berontak, Penat. Selamat berpisah, Tuan Aku mengikhlaskanmu. Aku tak apa. Sudah biasa. Han...

Sang Pembaharu

Jujur sebagai manusia biasa yang sedikit idealis, aku cukup lelah mental dan fisik. Belakangan ini dunia semakin bercanda. Negara semakin melucu. Dan makin banyak manusia dengan ambisinya yang beragam, aku tentu berharap ambisinya baik untuk dunia, namun semua itu hanya khayalanku saja. Bahkan tanpa ambisi itu, iklim dunia saja sudah amburadul. Pemanasan global, cuaca ekstrem, dan ancaman kerusakan bumi yang tak main main. Malah sebagian manusia rakus nan tamak justru dengan kesadaran penuhnya, makin semangat dan gelap mata merusak bumi gila gilaan. Ugh. Masalah tiap harinya makin banyak. Baru saja membuka mata di pagi hari, gempuran berita buruk bermunculan. Aku sampai kebingungan dan berharap tidak tau apa apa. Sebagai manusia, aku seperti punya tanggung jawab untuk menjaga lingkungan dan moral di negara yang morat marit ini. Terlebih peranku sebagai guru, aku makin harus 'ideal' untuk menyadarakan ratusan siswaku agar mereka juga mau berkontribusi demi kehidupan yang lebih b...

My Hardest Part (4)

Bismillahirrahmanirrahim... Baca dulu part sebelumnya ya, part 1 , part 2 , dan part 3 . Hari-hari berjalan perlahan. 21 Maret itu aku mulai memberanikan diri jalan berdua dengan temanku ke kafe di kota kami. Pagi-pagi kami sudah duduk manis memesan es stroberi dan nasi goreng. Kafe-nya masih sepi. Sejak itu, aku mulai berani membuka diri di keramaian (yang sepi). Selama sakit aku sama sekali tidak keluar rumah untuk main, pikiranku runyam sekali, aku lebih suka tiduran di samping ibuku. Dan kini aku menatap jalan raya dari balik jendela kafe.  Ah. Menyenangkan bisa kembali setelah nyaris kehilangan diriku . Setelah dari kafe, kami ke miniso, kemudian jalan memutari sebuah kebun hijau. Aku bersyukur untuk banyak hal. Aku mulai kembali kerja lagi. Walau masih tertatih. Atasanku sangat bijaksana saat itu, beliau memberikan aku ruang dan waktu hingga pemulihanku.  Beliau tidak menuntut banyak hal. Aku menjalani hari yang terik dan hujan yang dingin. Ku nikmati tiap detailnya deng...

Jadi Guru Itu...

Jadi guru dulu ku kira pekerjaan yang gampang sekali. Ternyata sulitnya minta ampun! *** Cita cita pertamaku jadi guru. Sebab jadi dokter atau perawat terlalu berisiko. Sejak aku kecil aku sudah menyadari diriku tidak mampu mengemban tanggung jawab seberat itu. Maka ku putuskan aku akan menjadi guru. Entah kenapa rasanya menyenangkan, melihat bapak ibu guruku dulu di depan kelas. Maka disinilah aku, sedang menikmati sarapanku di ruang kantor yang sepi di hari senin pagi, dalam balutan pakaian seragam dinas.  Ternyata setelah satu dekade aku mengajar, aku tak hanya mengajar. Aku juga jadi detektif, jadi hakim, perawat, psikolog, jadi apa saja semua ku kerjakan demi melindungi anak anak. Melindungi yang diartikan secara luas ya, melindungi yang tidak bisa diartikan secara gamblang oleh pemikiran anak anak. Hari ini aku menemui lagi, kasus anak anak yang menderita stres berat, sampai panic anxiety . Mungkin karena aku pernah mengalaminya, aku tau bagaimana mengatasinya. Tapi banyak p...

Tangga Nada

Kurang random apalagi sih aku? Ke toko, malah naksir mas random? Tapi ngalamin starstruck (star in my heart) wkwk Aku selama ini nggak pernah memperhatikan. Entah kenapa minggu itu kayak, kok mas ini manis sih? Udah gitu tinggi dan lembut juga. Tapi akuuuuu masih merasa bodo amat. Walau ketika pulangnya, ada perasaan aneh kayak...aku suka deh sama masnya🥲 Ada momen dia nyamperin aku dan aku blank, diem, suara parau. Kesal😭 Kenapa harus parau? Kenapa aku tidak menanggapi dengan sangat berterima kasih dan ngobrol dikit? Huuu Di jalan aku nyesel, kepikiran🥲 Waktu aku cerita sama temen temenku, mereka semua kayak satu suara dengan bilang, hayok lah kita kesana, siapa tau ketemu, kita samperin tanya nama dan wa-nya. Aku yang panik! Tapi sampai sekarang aku masih kepikiran😥 Aku pernah ketemu lagi, di tempat yang sama, dan yaudah nggak ada apa apa. Bahkan papasan juga nggak. Aku cuman ngeliatin dari jauh. Apakah semesta gak mendukung? Sedih banget, sampai aku agak cry dikit waktu ngobrol ...

My Hardest Part (3)

Bismilahirrahmanirrahim Ditulis selepas shalat maghrib. Baca dulu part sebelumnya ya, part 1 dan part 2 *** Berbagai metode dan pendekatan sejatinya sudah pernah ku jajal. Mulai dari ruqyah syyariah bersama ustadz, dibacakan doa oleh ibuku sendiri, dibuatkan air doa dari air wudhu oleh ibuku sendiri, diberi tips dzikir oleh suami sepupuku, dibawakan air zam-zam dari temanku, dibawa ke psikiater, diskusi dengan psikolog, bahkan juga mencoba hipnoterapi. Tapi khusus hipnoterapi aku pribadi sangat tidak menyarankan. Karena menurut ust Zaidul Akbar pun beliau tidak membolehkan. Padaku juga dampaknya langsung terasa, kambuh maag-ku sepulang dari sana, dan keadaanku semakin memburuk. Awalnya aku masih bisa makan minum dan kerja, setelah sesi hipnoterapi justru aku muntah-muntah, diare, sekujur tubuhku dingin dan ngilu. Banyak sekali naik turun terjalnya perjalananku. Sulit untuk ku ungkap secara detail, saking ruwet dan kompleksnya. Aku masih terus menemui psikiater hingga awal bulan maret....