Langsung ke konten utama

Featured post

Mood Booster❤

Bismillahirrahmanirrahim Sebaik-baik mood booster, adalah kalimat Allah. Buat kalian yang sedang bersedih. Semoga membantu. Terjemahan Al Quran, surah Fushilat. 30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: " Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu " 31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. From me, with a lot of love❤❤❤

Jangan Panik!

Assalamualaikum Bloggers yang terlop lop~

Maaf baru bisa balik ke 'rumah'. Karena 'perjalanan' kali ini ternyata menyita banyak sekali perhatian dan waktu.

Berbekal pengalaman selama beberapa bulan terakhir (yang berdarah darah dan bercucuran air mata), saya akan berbagi beberapa hal seputar maag. Kalau kata orang, maag itu penyakitnya anak kos. Nggak salah juga sih. Tapi, nggak bener juga, soalnya saya kan bukan anak kos lagi.

Jadi 'perjalanan' saya beberapa bulan belakangan itu adalah sakit. Masya Allah. Kalau dihitung-hitung, saya seriiing banget sakit. Semoga temen-temen blogger nggak pada bosen ya baca postingan saya yang temanya ngulek disitu-situ aja.

Saya sakit maag. Seperti pernah dijabarkan di postingan kemarin (yang nggak tau kemarin yang mana sebenernya), saya punya riwayat luka lambung. Nggak cuma perasaan yang terluka, lambung saya juga saking setia kawannya, ikutan nimbrung.

Tepatnya tanggal 19. Sehari setelah nonton karnaval a.k.a pawai budaya yang diwarnai dengan panas-panasan, minum es tiga kali (salah satunya soda juga), jalan kesana kemari kayak anak ilang, dan kelelahan. Akibat fatalnya, tengah malam kebangun, tidur nggak nyenyak, badan masya Allah sakit semua.

Paginya, masih berpikir positif mau berangkat kerja. Tapi kok badan rasanya nggak enak banget. Dingin telapak kaki sama telapak tangan. Ya dengan terpaksa, minta ijin berhalangan hadir. Akhirnya, pagi itu dipijet sama minum parasetamol. Masih tetep mikir positif, 'besok sudah bisa kerja, sudah enakan'. Tapi Allah berkehendak lain, besoknya masih sakit. Sampai nyerah kalau cuman istirahat di rumah, dan terpaksa pergilah ke dokter, sama dokternya didiagnosa gejala tifus. Lega di satu sisi, alhamdulillah nggak sakit yang kenapa-kenapa (padahal kalau dipikir-pikir, tifus berat juga), pulang sambil bawa obat.

Unfortunatelly, 3 hari berlalu, masih belum sembuh betul. Mual, nggak nafsu makan, badan juga capek, lemes, dll. Akhirnya balik lagi ke dokter. Singkatnya, dalam satu bulan sudah ke dokter 4 kali, perawat sekali. Hampir mau nangis dan minta opname, karena bingung sama sakitnya. Satu bulanan juga sudah konsumsi 1001 macam obat. Mulai dari sejenis obat generik, obat rumahan, jamu, minuman alkali, dll. Kurang apa?

Sakitnya itu ya, rasanya bahkan tidur pun nggak nyaman. Tidur loh padahal. Apalagi makan. Makan udah kayak beban. Karena tiap makan, muntah. Menu makan pun terbatas.
Belum lagi pikiran yang serba cemas. Cemas mikirin sakit apa, cemas mikirin kerjaan gimana (karena sudah ijin sekitar 10 harian).

Dokter yang didatangin juga, nggak ada ngasih motivasi atau penenang. Yang padahal, itulah obat mujarab buat kesembuhan pasiennya.

Dan sayanya tuh sebenernya bukan tipikal orang yang suka minum obat, kecuali darurat banget. Akhirnya setelah ke dokter yang terakhir, saya 'nyerah'. Saya mulai beralih ke pengobatan ala Nabi. Di pikiran sudah kayak, "pasrah aja sama keputusan Allah" (walau aslinya nggak setegar ini bilang "pasrah"). Jadi apapun yang terjadi, ya terserah Allah. Maka, sebagai perwujudan dari pasrah itu, saya tetep ikhtiar, dan hasilnya saya limpahkan ke Allah.
Saya mulai konsumsi madu lebih intens (sebelum sakit juga sudah konsumsi madu), madunya saya campurin air hangat, terus saya minum juga habatusauda. Saya jaga pola makan, saya paksakan diri harus tidur jam 9, dan mengurangi banyak pekerjaan.

Saya mulai memberanikan diri kembali beraktivitas, kerja. Walau di tempat kerja cuman main di UKS dan jadi beban rekan kerja yang lain. Hehe.

Hari demi hari, masih seperti itu. Wajah pucat, badan lemes. Tiap bangun pagi, hal pertama yang ada di pikiran adalah "badan saya enakan belum?", tapi qadarullah badan masih seperti sebelumnya, akhirnya cuman bisa senyum getir. Tidur siang yang padahal adalah hobi, saya hindari kala itu, karena takut sakitnya tambah parah setelah bangun. Tidur malam pun andai bisa dihindari, akan saya hindari. Karena takut. Sampai beberapa malam, sering ngerecoki ibu buat tidur bareng.
Ke kamar mandi ya, andai bisa, nggak akan saya kunci, saking takut collapse di kamar mandi.

Depresi, stres, cemas, dan semua ketakutan selalu menemani. Tiap hari nangis. Tiap hari ngeluh karena takut. Kerja juga nggak sampai jadwalnya pulang, pokoknya setelah jam ngajar habis, langsung pulang ke rumah. Di jalan pulang selalu nangis. Megangin perut, karena sakit terus. Masya Allah.

Dan semua itu berlangsung sekitar dua atau tiga bulanan. Seumur-umur sakit, baru kali ini sakitnya lama banget.

Sedih :')

Tapi beruntunglah, Allah masih memegang genggamanNya pada saya begitu erat.

Saya masih dikaruniai pikiran dan prasangka baik. Bahwa setelah ini, saya akan baik-baik aja. Setelah semua kesulitan ini, semua akan kembali menyenangkan.

Ceritanya Nabi Ayyub dijadikan motivasi. Bahwa setelah sakit yang sekian tahun itu, beliau sembuh seperti sedia kala. Walau minder juga, karena saya bukan Nabi. Tapi saya tetep percaya, Allah yang memberi sakit, Allah jualah yang akan menyembuhkan.

***

Balik ke pembahasan tentang maag. Maag atau tukak lambung, atau GERD juga, dan sebangsanya (yang semua bermula dari lambung), memang bukanlah penyakit yang sederhana. Sesederhana ketika kalian mulai merasakan perih di lambung, kemudian kalian minum prom*ag, lantas dalam hitungan menit sembuh seketika. Hm...nggak semudah itu Leonardo Da Vinci.

Beberapa kasus memang dapat diatasi dengan minum obat yang bersifat basa, yang bisa dibeli bebas di apotek. Tapi beberapa kasus agak berat, nggak bisa cuman dikasih obat semacam itu. Ada beberapa penanganan lanjutan.

Tapi, satu hal yang perlu dilakukan pertama kali, yakni "jangan panik". Modalnya itu dulu. Apapun, pokoknya jangan pernah panik. Keep calm. Santai.

Kedua. Ingat, bahwa yang memberi sakit itu Allah, yang menyembuhkan juga Allah. Maka, mintalah kesembuhan padaNya. Minta dengan penuh kesungguhan. Rayu Allah dengan berdoa di sepertiga malam. Rayu Allah dengan sedekah. Dan jangan lupa dzikrullah.

Ketiga. Ikhtiar. Minum madu hangat. Satu sendok makan madu, dicampurkan dalam air hangat. Minum sedikit-sedikit. Sebelum minum, baca bismillah, Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Nas serta ayat kursi (berlaku untuk semua minuman kita ya). Madu diminum tiga kali dalam sehari.

Keempat. Ikhtiar pakai habatusauda. Karena sesuai sabda Nabi, di dalam habatusauda terdapat kesembuhan untuk segala macam penyakit, kecuali kematian.

Habatusauda sama halnya dengan madu. Sama sama punya efek samping. Apalagi untuk orang yang memang sedang sakit. Efek sampingnya bisa perut tambah perih, diare, pusing, ngantuk, dll. Efek samping di tiap orang berbeda hasilnya. Tapi selama masih bisa ditahan, it's okay, nothing to worry. Sebenernya semua herbal ini, diminum sebelum makan. Tanamkan dalam diri, kalau herbal ini adalah sarana untuk menyembuhkan dan nggak akan membahayakan kalian. Tapi kalau kalian terlalu takut, silakan diminum setelah makan.

Kelima. Bekam. Carilah ahli bekam yang memang profesional ya. Bekam nggak sakit kok, cuman, perih iya. Hihi.

Keenam. 3P dijaga. Pola makan, pola tidur, dan pola pikir. Makan yang halal dan baik, tidur yang cukup, hindari begadang walau cuman nonton drama, dan bahagia.

Ketujuh. Paling penting diingat. Taubat. Benahi shalat, baca Al Quran, minta maaf dengan orang tua dan keluarga. Maafkan semua yang pernah salah sama kita. Ridho sama sakitnya, ridho sama hidup yang Allah kasih, ikhlas.

Kedelapan. Kalau terlalu berat melakukan ini sendirian, pergi ruqyah. Sakit maag 99% karena pikiran. Banyak orang sakit maag, karena terlalu banyak beban di pundaknya. Menyimpan banyak kesedihan. Memendam semua hal sendirian. Kalau mau sehat, kalian harus buang semua beban itu, dan berbahagialah sepenuhnya.
Sakit juga bisa disebabkan ada gangguan jin, entah dari kiriman orang lain atau bisa jadi dari diri sendiri. Bisa juga sakit karena penyakit 'ain. Pandangan orang-orang yang dengki dan hasad. Nggak ada yang nggak mungkin. Makanya, cara terakhir, ruqyah.

***

Saya sudah melewati banyak hal selama sakit ini, sekarang pun, kalau ditanya kabar, jawabannya "insya Allah selalu sehat". Karena bingung juga mau bilang apa. :')))

Dan disinilah saya hari ini.
Menuliskan semua hal yang saya alami, menuliskan semua cara yang sudah saya jalani. Banyak orang yang sehat di luar sana, tidak tau bagaimana rasanya jadi 'sakit'. Terlebih kalau kalian juga penderita maag. Mereka kira kita berlebihan. Tapi memang beginilah kenyataannya. Sakit dan cemas itu satu paket. Malangnya, sakit maag kita ini akan tambah complicated kalau kita cemas. Hingga kita sering kali ketakutan dengan pikiran "kok tambah parah", "kok belum sembuh", "duh aku sakit apa ya", dan beragam ketakutan lainnya yang berujung pada lamanya masa pemulihan kita.
Belum lagi kita yang kadang googling untuk tau kita sedang sakit apa. Nyatanya, justru di laman pencarian malah muncul banyak diagnosa penyakit yang menyeramkan. Bukannya sehat, malah menambah beban pikiran.

Jadi, jangan dibiasakan googling untuk diagnosa penyakit ya. Dilarang keras!
Tapi sekali lagi. It's okay, Dear. Nggak papa sakit. You'll get well soon. Sekalipun kalian belum juga membaik, tetaplah berprasangka baik pada Allah.
Kita ini titipan. Nyawa ini, sehat ini, semua ini hanyalah titipan. Sulit memang mengiyakannya. Tapi beginilah kenyataan pahitnya. Bukankah hidup mati kita milik Allah?
Bukankah semua milik Allah dan akan kembali kepadaNya?

Bersemangatlah. Berprasangka baiklah. Sehat dan berbahagialah selalu.

Semoga kalian yang sakit, diberikan Allah kebaikan dan segera disembuhkan.
Semoga kalian yang sehat, diberikan Allah hati yang peka agar bisa mensyukuri nikmat sehatnya dan agar menggunakan sehatnya untuk menghibur saudara-saudara yang Allah uji dengan sakit.
Sekian..semoga bermanfaat.

PS: Kadang kala, sakit ini, kecemasan ini, semua duka yang seolah-olah enggan pergi, mungkin hanyalah pengingat dari Allah. Mungkin Allah ingin membuat kita nggak betah di dunia. Mungkin Allah ingin kita lebih banyak mengingat akhirat❤

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Hardest Part (1)

Bismillahirrahmanirrahim... Aku akan memberanikan untuk membuka sebuah luka dalam hidupku. Ini tentang sesuatu yang menimpaku setahun yang lalu. Jika ada dari kalian yang merasa tidak nyaman dengan tulisan ini, bisa skip saat ini juga. Tulisan ini entah akan jadi berapa bagian. Saking panjang dan lamanya. *** Kalian mungkin pernah mampir ke tulisanku di bulan maret 2023, judulnya NKTCTHI (Nanti Kita Tidak Cerita Tentang Hari Ini) yang juga ada part 2-nya .  Aku kekeuh selama itu tidak ingin membuka luka ini di blog-ku, karena aku masih beranggapan ini adalah sebuah aib. Tapi waktu berlalu, banyak pengalaman yang ku dapat, banyak artikel dan cerita orang lain bersliweran, yang membuat aku mengerti bahwa ini bukanlah aib, dan tak apa kalau kita terbuka membicarakan ini. Luka ini seperti luka luka lain yang normal untuk dimiliki dan bisa sembuh. Luka ini bisa terjadi pada siapa saja. Luka ini pun bukanlah dosa, jadi tak apa. Tujuan aku menceritakan luka ini adalah aku sangat berharap...

Kejujuran itu Terlampau Mahal

Hari ini aku berdiri di hadapan banyak pasang mata siswaku, sambil menggenggam puluhan lembar kertas soal.  Minggu lalu kami mengadakan PTS menggunakan aplikasi yang diakses dengan HP. Jaman semakin canggih, bahkan menjawab soal seperti ini saja diharuskan menggunakan teknologi. Ku akui memang lebih mudah menggunakan teknologi ini, tak payah kami mengoreksi jawaban satu satu dengan sebelumnya melubangi LJK pakai obat nyamuk. Walau katanya Lembar Jawaban Komputer, tetap saja mengoreksinya manual. Tapi begitulah~ Itu beberapa tahun silam. Meski kami tak bau asap obat nyamuk lagi, nyatanya teknologi selalu punya celah untuk dikeluhkan. Anak anak lebih suka berlelah lelah mempelajari tips dan trik untuk curang, ketimbang tips dan trik menjawab soal dengan mudah. Kalau guru punya 1001 cara untuk meminimalisir kecurangan, siswa juga punya 1001 cara menyiasati agar bisa curang. Apakah kecurangan senikmat itu? Hingga mereka lebih suka berkubang di dalamnya? Hari ini aku mengulang PTS itu. ...

My Hardest Part (2)

Bismillahirrahmanirrahim Tulisanku kedua, yang pertama bisa baca disini . Aku tidak tau kapan tulisan ini akan rampung ya.  *** Aku dan ibu akhirnya membuat janji temu dengan psikiater. Malam-malam gerimis kami memesan taksi online. Aneh rasanya di sepanjang perjalanan, apalagi saat supirnya mencoba ramah dengan bertanya apakah kami mau berobat? Berobat apa? Padahal satu-satunya dokter yang ada saat itu adalah dokter jiwa. Aku bertemu psikiater. Rasa di dalam dadaku campur aduk. Takut, malu, sedih, dan emosi lain silih berganti. Aku menceritakan apa yang ku alami pada dokternya, sambil menggegam erat buku jariku, sesekali aku menangis. Dokternya merespkan obat, mengatakan padaku bahwa sakitku ini memang ada, namanya anxiety disorder  atau gangguan kecemasan berlebih, dan bisa diobati.  Waktu pengobatannya enam bulan. Tapi sebenarnya waktu pengobatannya fleksibel, bisa lebih cepat, bisa juga lebih lama. Bahkan bisa tahunan. Aku lemas dan gontai berjalan keluar ruangan. Puk...

Mood Booster❤

Bismillahirrahmanirrahim Sebaik-baik mood booster, adalah kalimat Allah. Buat kalian yang sedang bersedih. Semoga membantu. Terjemahan Al Quran, surah Fushilat. 30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: " Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu " 31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. From me, with a lot of love❤❤❤

Selamat Berpisah, Tuan

Selamat berpisah, Tuan Terima kasih karena menyempatkan singgah ke pelukan gadis malang sepertiku, Terima kasih untuk antusiasmu yang hanya sebentar, Terima kasih telah membawakan aku sebongkah harapan yang merekah, Terima kasih sebab menjadi mimpi baikku sampai sekarang. Kamu benar Tuan, kurasa ini karmaku, Karena telah menyia-nyiakanmu, Karena berbohong padamu dan pada perasaanku, Aku sedikit menyesal, Tuan. Mestinya aku mengaku. Tapi apakah itu akan mengubah hari ini? Apakah dengan kejujuranku, kamu tidak akan pergi? Aku meraba-raba, kenangan kita di masa lampau, Kamu hadir di saat aku sangat terjebak dalam kubangan gelap pikiranku, Kamu menawarkan cinta tulus nan sederhana. Lantas, semudah itu perasaanmu berubah Tuan Apakah tak ada sedikit pun rasa yang tertinggal? Aku memang gadis bodoh. Benar aku bagus dalam pelajaran, Tapi sangat bodoh dalam perasaan, Aku ingin membencimu Tuan, Tapi hatiku berontak, Penat. Selamat berpisah, Tuan Aku mengikhlaskanmu. Aku tak apa. Sudah biasa. Han...

Sang Pembaharu

Jujur sebagai manusia biasa yang sedikit idealis, aku cukup lelah mental dan fisik. Belakangan ini dunia semakin bercanda. Negara semakin melucu. Dan makin banyak manusia dengan ambisinya yang beragam, aku tentu berharap ambisinya baik untuk dunia, namun semua itu hanya khayalanku saja. Bahkan tanpa ambisi itu, iklim dunia saja sudah amburadul. Pemanasan global, cuaca ekstrem, dan ancaman kerusakan bumi yang tak main main. Malah sebagian manusia rakus nan tamak justru dengan kesadaran penuhnya, makin semangat dan gelap mata merusak bumi gila gilaan. Ugh. Masalah tiap harinya makin banyak. Baru saja membuka mata di pagi hari, gempuran berita buruk bermunculan. Aku sampai kebingungan dan berharap tidak tau apa apa. Sebagai manusia, aku seperti punya tanggung jawab untuk menjaga lingkungan dan moral di negara yang morat marit ini. Terlebih peranku sebagai guru, aku makin harus 'ideal' untuk menyadarakan ratusan siswaku agar mereka juga mau berkontribusi demi kehidupan yang lebih b...

My Hardest Part (4)

Bismillahirrahmanirrahim... Baca dulu part sebelumnya ya, part 1 , part 2 , dan part 3 . Hari-hari berjalan perlahan. 21 Maret itu aku mulai memberanikan diri jalan berdua dengan temanku ke kafe di kota kami. Pagi-pagi kami sudah duduk manis memesan es stroberi dan nasi goreng. Kafe-nya masih sepi. Sejak itu, aku mulai berani membuka diri di keramaian (yang sepi). Selama sakit aku sama sekali tidak keluar rumah untuk main, pikiranku runyam sekali, aku lebih suka tiduran di samping ibuku. Dan kini aku menatap jalan raya dari balik jendela kafe.  Ah. Menyenangkan bisa kembali setelah nyaris kehilangan diriku . Setelah dari kafe, kami ke miniso, kemudian jalan memutari sebuah kebun hijau. Aku bersyukur untuk banyak hal. Aku mulai kembali kerja lagi. Walau masih tertatih. Atasanku sangat bijaksana saat itu, beliau memberikan aku ruang dan waktu hingga pemulihanku.  Beliau tidak menuntut banyak hal. Aku menjalani hari yang terik dan hujan yang dingin. Ku nikmati tiap detailnya deng...

Jadi Guru Itu...

Jadi guru dulu ku kira pekerjaan yang gampang sekali. Ternyata sulitnya minta ampun! *** Cita cita pertamaku jadi guru. Sebab jadi dokter atau perawat terlalu berisiko. Sejak aku kecil aku sudah menyadari diriku tidak mampu mengemban tanggung jawab seberat itu. Maka ku putuskan aku akan menjadi guru. Entah kenapa rasanya menyenangkan, melihat bapak ibu guruku dulu di depan kelas. Maka disinilah aku, sedang menikmati sarapanku di ruang kantor yang sepi di hari senin pagi, dalam balutan pakaian seragam dinas.  Ternyata setelah satu dekade aku mengajar, aku tak hanya mengajar. Aku juga jadi detektif, jadi hakim, perawat, psikolog, jadi apa saja semua ku kerjakan demi melindungi anak anak. Melindungi yang diartikan secara luas ya, melindungi yang tidak bisa diartikan secara gamblang oleh pemikiran anak anak. Hari ini aku menemui lagi, kasus anak anak yang menderita stres berat, sampai panic anxiety . Mungkin karena aku pernah mengalaminya, aku tau bagaimana mengatasinya. Tapi banyak p...

Tangga Nada

Kurang random apalagi sih aku? Ke toko, malah naksir mas random? Tapi ngalamin starstruck (star in my heart) wkwk Aku selama ini nggak pernah memperhatikan. Entah kenapa minggu itu kayak, kok mas ini manis sih? Udah gitu tinggi dan lembut juga. Tapi akuuuuu masih merasa bodo amat. Walau ketika pulangnya, ada perasaan aneh kayak...aku suka deh sama masnya🥲 Ada momen dia nyamperin aku dan aku blank, diem, suara parau. Kesal😭 Kenapa harus parau? Kenapa aku tidak menanggapi dengan sangat berterima kasih dan ngobrol dikit? Huuu Di jalan aku nyesel, kepikiran🥲 Waktu aku cerita sama temen temenku, mereka semua kayak satu suara dengan bilang, hayok lah kita kesana, siapa tau ketemu, kita samperin tanya nama dan wa-nya. Aku yang panik! Tapi sampai sekarang aku masih kepikiran😥 Aku pernah ketemu lagi, di tempat yang sama, dan yaudah nggak ada apa apa. Bahkan papasan juga nggak. Aku cuman ngeliatin dari jauh. Apakah semesta gak mendukung? Sedih banget, sampai aku agak cry dikit waktu ngobrol ...

My Hardest Part (3)

Bismilahirrahmanirrahim Ditulis selepas shalat maghrib. Baca dulu part sebelumnya ya, part 1 dan part 2 *** Berbagai metode dan pendekatan sejatinya sudah pernah ku jajal. Mulai dari ruqyah syyariah bersama ustadz, dibacakan doa oleh ibuku sendiri, dibuatkan air doa dari air wudhu oleh ibuku sendiri, diberi tips dzikir oleh suami sepupuku, dibawakan air zam-zam dari temanku, dibawa ke psikiater, diskusi dengan psikolog, bahkan juga mencoba hipnoterapi. Tapi khusus hipnoterapi aku pribadi sangat tidak menyarankan. Karena menurut ust Zaidul Akbar pun beliau tidak membolehkan. Padaku juga dampaknya langsung terasa, kambuh maag-ku sepulang dari sana, dan keadaanku semakin memburuk. Awalnya aku masih bisa makan minum dan kerja, setelah sesi hipnoterapi justru aku muntah-muntah, diare, sekujur tubuhku dingin dan ngilu. Banyak sekali naik turun terjalnya perjalananku. Sulit untuk ku ungkap secara detail, saking ruwet dan kompleksnya. Aku masih terus menemui psikiater hingga awal bulan maret....