Langsung ke konten utama

Featured post

Mood Booster❤

Bismillahirrahmanirrahim Sebaik-baik mood booster, adalah kalimat Allah. Buat kalian yang sedang bersedih. Semoga membantu. Terjemahan Al Quran, surah Fushilat. 30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: " Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu " 31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. From me, with a lot of love❤❤❤

Pandemi Covid19 Jilid 1

Bismillahirrahmanirrahim...

Setelah beberapa bulan berlalu, akhirnya ada kesempatan buat nulis ini.
Sedari awal ada niatan nulis materi ini, tapi seperti belum punya kapasitas mau membahas dari sisi mana dan situasinya masih belum kondusif.

Dan karena isu ini sensitif, let's talk from my point of view aja.

Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari 5734, Dari Aisyah RA bahwa ia bertanya kepada Rasulullah SAW perihal tha'un (wabah penyakit), lalu beliau menjelaskannya bahwa sesungguhnya tha'un itu adalah sebagai siksaan yang dikirimkan oleh Allah kepada siapa saja yang dikehendaki olehNya, dan juga sebagai rahmat yang dijadikan Allah Ta'ala kepada kaum mukminin. Maka tidaklah seorang hamba yang tertimpa tha'un, kemudian ia menetap di negerinya dengan sabar dan mengharapkan keridhaan Allah serta mengetahui pula bahwa tha'un tidak akan menimpanya kecuali karena telah ditetapkan oleh Allah untuknya, kecuali ia akan mendapatkan seperti pahala mati orang yang mati syahid.

Covid19 atau mungkin yang lebih familiar dengan corona adalah sebuah virus mirip influenza. Satu keluarga dengan virus mers yang pernah menjangkiti bagian Timur Tengah. Gejala penyakit ini batuk, demam, sakit tenggorokan, yang dapat berujung pada kematian.

Resiko penularannya yang mudah, vaksin yang belum ditemukan, serta berakibat pada kematian kemudian menjadi paket lengkap virus ini ditakuti.

Awal mula virus ini ditemukan di daerah Wuhan, Cina, dari sebuah pasar yang terkenal akan makanan dari binatang ekstrim.
Satu persatu warga tumbang, rumah sakit penuh, keluarga terpisah, kota yang mendadak mati, gelombang kepanikan, penyebaran ke negara lain yang cepat, semua seperti hanya suguhan dramatis dari sebuah Film Thriller. Layar kaca penuh dengan berita ini. Kita yang di Indonesia masih bisa menonton sambil makan kacang goreng.

Materi tentang virus corona kemudian ku angkat jadi motion dalam latihan debat bahasa inggris di sekolah. Kami masih bisa beradu argumen di bawah pohon di hari jumat itu. Kami masih leluasa mengakses internet untuk mengetahui berapa banyak korban yang berjatuhan.

Hingga di awal maret, ditemukan dua pasien positif corona di Indonesia Raya ini.
Sekolah masih buka seperti biasa tanpa protokol apapun. Pasar, jalan, tempat wisata seperti tidak terjadi apa apa.

Kita yang terlalu gagap dan lamban. Kita yang terlalu meremehkan dan kurang suka taat pada aturan. Kita yang mengira ini lelucon minggu pagi.

Sampai angka tak lagi bisa berbohong. Satu persatu dinyatakan positif tiap harinya. Meningkat sampai angka seratus. Dalam hati aku berharap angkanya berhenti. Tapi corona terlalu berang menghadapi masyarakat yang angkuh dan sombong. Angka terus bergulir sampai berpuluh kali lipat.

Harapan bahwa ramadhan corona berakhir nyatanya hanya tinggal harapan.
Bagaimana hendak berakhir? Masker saja enggan dikenakan? Kerumunan masih jadi kebiasaan. Libur pandemi justru dijadikan ajang berwisata ke pantai dan puncak.
Seperti menantang takdir. Mengira selamanya dirinya akan baik baik saja.

Corona hanya jadi tertawaan dan candaan.

Tagar #dirumahaja yang digaungkan dimana mana ternyata hanya sebatas tagar. Trending di Twitter atau IG. Tapi kita masih mengetik di dalam sebuah kafe berAC. Haha hihi seru sekali.

Angka mulai menembus ribuan.

Bayangkan! Ribuan! Itu jiwa, bukan angka belaka.
Aku tidak bisa membayangkan kehilangan keluarga yang dinyatakan meninggal karena corona. Sejak dikarantina saja mereka tidak boleh dijenguk, hingga pemakamannya juga tidak boleh dihadiri. Bagaimana rasanya melepas kepergian jiwa yang berharga begitu saja?

Seolah tidak memiliki rasa empati dan perikemanusiaan, another masalah di negeri ini muncul.
Mulai dari masker yang meroket harganya, kelangkaan hand sanitizer dan produk pembersih lainnya, sembako yang diborong habis, dan kekacauan lain yang semakin menguatkan teori keegoisan manusia.

Masalah yang tak kalah anehnya ikut membebek. Tentang warga yang ramai ramai melempari batu pada jenazah positif corona dan menolak penguburan jenazah itu di lingkungan mereka.

Innalillahi.

Dua hal yang diperangi negeri ini adalah, virus corona dan kebodohan yang mendarah daging.

Di saat para petugas kesehatan yang terjun ke medan perang berjuang menyelamatkan pasien positif corona, masyarakat juga sibuk terjun ke pasar membeli baju lebaran.

Perkara rejeki pedagang dan antusiasme pembeli yang kekeuh memegang teguh erat hebat tradisi lebarannya.
Pemerintah dihadapkan pada dilema yang tidak berkesudahan.

Aku tidak mampu berkomentar lebih lanjut, rasanya hanya ada sumpah serapah saja yang siap ku lontarkan.

***

Bahkan sampai tulisan ini ku ketik, tanggal 5 Juli 2020, masih banyak korban yang berjatuhan di luar sana. Kota-kota yang diberi zona merah. Lock down yang semula dicecar tapi akhirnya diberlakukan dimana mana. Tempat cuci tangan yang menjamur di tiap pekarangan. Masyarakat yang hilir mudik mengenakan masker. Ternyata bukan karena taat, tapi lantaran takut didenda ratusan ribu. Kalau tau masyarakat akan taat karena takut denda, kenapa tidak sejak dulu diberlakukan?

Pandemi covid19 yang dalam diamnya berhasil menyusup dan meruntuhkan semua rencana manusia, pun meruntuhkan rasa takabur dalam dada.

Hanya setitik virus, runtuh pertahanan satu dunia.

To be continue...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Hardest Part (1)

Bismillahirrahmanirrahim... Aku akan memberanikan untuk membuka sebuah luka dalam hidupku. Ini tentang sesuatu yang menimpaku setahun yang lalu. Jika ada dari kalian yang merasa tidak nyaman dengan tulisan ini, bisa skip saat ini juga. Tulisan ini entah akan jadi berapa bagian. Saking panjang dan lamanya. *** Kalian mungkin pernah mampir ke tulisanku di bulan maret 2023, judulnya NKTCTHI (Nanti Kita Tidak Cerita Tentang Hari Ini) yang juga ada part 2-nya .  Aku kekeuh selama itu tidak ingin membuka luka ini di blog-ku, karena aku masih beranggapan ini adalah sebuah aib. Tapi waktu berlalu, banyak pengalaman yang ku dapat, banyak artikel dan cerita orang lain bersliweran, yang membuat aku mengerti bahwa ini bukanlah aib, dan tak apa kalau kita terbuka membicarakan ini. Luka ini seperti luka luka lain yang normal untuk dimiliki dan bisa sembuh. Luka ini bisa terjadi pada siapa saja. Luka ini pun bukanlah dosa, jadi tak apa. Tujuan aku menceritakan luka ini adalah aku sangat berharap...

Mood Booster❤

Bismillahirrahmanirrahim Sebaik-baik mood booster, adalah kalimat Allah. Buat kalian yang sedang bersedih. Semoga membantu. Terjemahan Al Quran, surah Fushilat. 30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: " Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu " 31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. From me, with a lot of love❤❤❤

My Hardest Part (4)

Bismillahirrahmanirrahim... Baca dulu part sebelumnya ya, part 1 , part 2 , dan part 3 . Hari-hari berjalan perlahan. 21 Maret itu aku mulai memberanikan diri jalan berdua dengan temanku ke kafe di kota kami. Pagi-pagi kami sudah duduk manis memesan es stroberi dan nasi goreng. Kafe-nya masih sepi. Sejak itu, aku mulai berani membuka diri di keramaian (yang sepi). Selama sakit aku sama sekali tidak keluar rumah untuk main, pikiranku runyam sekali, aku lebih suka tiduran di samping ibuku. Dan kini aku menatap jalan raya dari balik jendela kafe.  Ah. Menyenangkan bisa kembali setelah nyaris kehilangan diriku . Setelah dari kafe, kami ke miniso, kemudian jalan memutari sebuah kebun hijau. Aku bersyukur untuk banyak hal. Aku mulai kembali kerja lagi. Walau masih tertatih. Atasanku sangat bijaksana saat itu, beliau memberikan aku ruang dan waktu hingga pemulihanku.  Beliau tidak menuntut banyak hal. Aku menjalani hari yang terik dan hujan yang dingin. Ku nikmati tiap detailnya deng...

My Hardest Part (2)

Bismillahirrahmanirrahim Tulisanku kedua, yang pertama bisa baca disini . Aku tidak tau kapan tulisan ini akan rampung ya.  *** Aku dan ibu akhirnya membuat janji temu dengan psikiater. Malam-malam gerimis kami memesan taksi online. Aneh rasanya di sepanjang perjalanan, apalagi saat supirnya mencoba ramah dengan bertanya apakah kami mau berobat? Berobat apa? Padahal satu-satunya dokter yang ada saat itu adalah dokter jiwa. Aku bertemu psikiater. Rasa di dalam dadaku campur aduk. Takut, malu, sedih, dan emosi lain silih berganti. Aku menceritakan apa yang ku alami pada dokternya, sambil menggegam erat buku jariku, sesekali aku menangis. Dokternya merespkan obat, mengatakan padaku bahwa sakitku ini memang ada, namanya anxiety disorder  atau gangguan kecemasan berlebih, dan bisa diobati.  Waktu pengobatannya enam bulan. Tapi sebenarnya waktu pengobatannya fleksibel, bisa lebih cepat, bisa juga lebih lama. Bahkan bisa tahunan. Aku lemas dan gontai berjalan keluar ruangan. Puk...

😫

Banyak yang ingin ku tuliskan, tapi aku masih urung. Rasanya terlalu banyak yang ingin dibagikan, mulai dari hikmah Allah memperjalankan aku ke Jakarta, koperku yang kode kuncinya berganti, rekeningku yang ludes, sampai semua halnya. Aku bingung mau menulis darimana... Emosiku masih menyertai tiap tulisan ini. Tiap kali aku bercerita, perasaanku masih tidak nyaman, rasanya aku linglung. Entah bagaimana aku memaknai hidupku, yang pasti aku yakin Allah akan menggariskan yang terbaik. Memang pedih menjalaninya, tapi pasti semua yang terbaik✨ Huaaaaaaaaa

Kos Putri 165

  Assalamu'alaikum, Blogger...   Tidak terasa sudah 3 tahun saya tinggal di kota cantik ini. Menjadi pendatang memang bukan h al yang mudah, karena selain kita harus bisa beradaptasi, kita juga harus bisa menemukan tempat tinggal yang cocok dan nyaman. Selama ini saya sudah 3 kali pindah kos-kosan. Mulai dari di daerah Yos Sudarso, Pangeran Samudera, dan yang terakhir di Borneo. Alhamdulillah, sekarang saya sudah menemukan kos yang sesuai dengan keinginan saya. Nah, dengan segala kerendahan hati saya :D Hari ini saya akan berbagi pengalaman selama berada di kos saya ini, yaitu Kost Putri 165. Yuk disimak!

Catur dan Filosofi Absurdku

Sedari kecil bapakku yang master catur (ceilah) sudah mengajariku bermain catur. Dari sekian banyak permainan catur, ada satu serangan yang sangat berkesan dan selalu ku coba untuk lakukan ke lawan mainku. Tapi selalu gagal karena 'kebetulan' mereka melakukan gerakan lain, sehingga serangan fajarnya gagal total. Fyi, serangan fajar yang dilakukan bapakku tadi, berhasil melumpuhkan aku dalam waktu sepersekian menit. Mungkin 2 sampai 5 menit. Sangat traumatis! Anyway, aku suka bermain catur, kalau boleh dikatakan, tingkatanku di atas pemula lah. Aku bisa menang kalau lawanku seimbang, tapi kalau lawanku sudah pro, aku akan K.O juga. Sore ini aku main catur online saja, karena di rumah tidak ada yang bisa catur kecuali bapak. Dan bapak sangat repot. Ternyata lumayan seru juga, aku melawan manusia sungguhan soalnya, bukan robot. Sore ini aku menang. Hehe Di sekolah aku bolak balik bermain catur, tentu sama bapak bapaknya, karena ibu ibunya tidak ada yang bisa main. Satu satunya ibu...

Surat Terbuka untuk Kelas XII 2018

Demi menulis apa yang sedang menyesaki kepala, sampai rela meninggalkan soal ulangan yang padahal dikejar deadline. Bismillahirrahmanirrahim... Jadi, malam ini, Nak. Postingan ini ditujukan untuk kalian anak-anak ibu yang lucu dan menggemaskan (pada akhirnya kalian menjadi lucu dan menggemaskan bagi ibu). To be honest , jarang sekali momen paska perpisahan itu baper ya, sampai-sampai tertuang di blog ini. Tapi mungkin dua tahun cukup lah sebagai pertimbangan kenapa kalian agak berkesan hingga akhirnya ibu rela menuliskan surat ini disini.

Surat Cinta

Lagi lagi, ku tuliskan surat cinta ini. Aku berharap kamu membacanya, meski aku tau ini harapan yang mustahil. Jadi ku tuliskan saja untuk semuanya, semoga angin membawa kabar gembira ini sampai di telingamu. *** Aku masih suka melihatmu, Begitu melihatmu, darahku benar benar berdesir cepat sekali, telapak tanganku dingin, dan aku susah berpikir dengan jernih. Aku tergagap, tidak bisa berbicara, bahkan tersenyum pun enggan. Padahal aku sesuka itu padamu. Benar kata orang orang, kalau perempuan suka, jangankan bicara, menoleh pada orang yang ia sukai pun tak sudi. Aku sungguhan tidak bisa melihatmu dengan baik. Sebelumnya aku sudah berlatih untuk menatapmu barang 3 detik saja, kata para ahli, itu bisa menjadi pengirim sinyal kalau kita suka dengan orang tersebut. Aku sudah bertekad akan mencobanya, mencoba menatapmu. Tapi sial, baru sepersekian mili detik kita bertatapan saja, aku sudah kacau tidak karuan, aku buru buru buang muka. Menatapmu saja aku tidak bisa, apalagi bicara! Aku kada...

Kejujuran itu Terlampau Mahal

Hari ini aku berdiri di hadapan banyak pasang mata siswaku, sambil menggenggam puluhan lembar kertas soal.  Minggu lalu kami mengadakan PTS menggunakan aplikasi yang diakses dengan HP. Jaman semakin canggih, bahkan menjawab soal seperti ini saja diharuskan menggunakan teknologi. Ku akui memang lebih mudah menggunakan teknologi ini, tak payah kami mengoreksi jawaban satu satu dengan sebelumnya melubangi LJK pakai obat nyamuk. Walau katanya Lembar Jawaban Komputer, tetap saja mengoreksinya manual. Tapi begitulah~ Itu beberapa tahun silam. Meski kami tak bau asap obat nyamuk lagi, nyatanya teknologi selalu punya celah untuk dikeluhkan. Anak anak lebih suka berlelah lelah mempelajari tips dan trik untuk curang, ketimbang tips dan trik menjawab soal dengan mudah. Kalau guru punya 1001 cara untuk meminimalisir kecurangan, siswa juga punya 1001 cara menyiasati agar bisa curang. Apakah kecurangan senikmat itu? Hingga mereka lebih suka berkubang di dalamnya? Hari ini aku mengulang PTS itu. ...