Langsung ke konten utama

Featured post

Mood Booster❤

Bismillahirrahmanirrahim Sebaik-baik mood booster, adalah kalimat Allah. Buat kalian yang sedang bersedih. Semoga membantu. Terjemahan Al Quran, surah Fushilat. 30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: " Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu " 31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. From me, with a lot of love❤❤❤

Pukul Tujuh Pagi

Rasanya aku dulu pernah memikirkan ide ini dan ku tulis. Entah kenapa dicari cari kok tidak ketemu. Anyway, akhirnya dengan segala kemurahan hatiku, ku tuliskan saja kembali.

Ide tulisan ini muncul ketika aku sedang mengantre di klinik dokter, beberapa tahun silam. Sambil duduk dengan gelisah, aku memperhatikan orang orang yang sakit. Beberapa tampak mengobrol. Ada juga yang menenangkan anaknya dalam gendongan. Ada juga yang terpekur memandangi telepon pintarnya. Banyak juga yang diam tidak melakukan apa apa.

Aku mengalihkan pandangan. Tidak banyak juga yang bisa diperhatikan di sini. Hanya jendela tinggi dan dinding klinik yang dicat putih membentang di hadapan, dimana salah satu sudutnya terpasang poster diare. Ada tangga menuju ke klinik atas. Sepertinya klinik anak dan gigi. 
Juga pintu pintu ruangan klinik lain yang kosong.

Ah.
Begitulah jiwa penulis. Dimanapun kapanpun, ide selalu hadir tanpa permisi.
Di saat orang lain bengong, otakku justru sibuk memaknai tiap peristiwa yang ada di hadapan.
Bahkan saat sakit pun, kata demi kata sibuk terjalin satu persatu menjadi sebuah cerita.
The art of noticing, kalau kata orang orang.
Seni memperhatikan.
Tidak banyak juga yang bisa demikian.

***

Pukul tujuh tepat.
Semestinya sang dokter sudah memulai praktiknya.
Tapi tentu bukan dokter kalau selalu tepat waktu.
Ada banyak hal hal yang terjadi tiba tiba. Entah ada pasien darurat, entah ada kejadian apa saja, yang membuat beliau jadi kesulitan on time.

Aku memakluminya.
Tapi tidak dengan badanku yang semakin tidak nyaman.
Rasanya tiap detik yang berjalan begitu menyiksa.

Seberkas cahaya matahari menembus jendela klinik tanpa tirai. Rasa panas khas pukul tujuh pagi.

Biasanya jam segini, aku sedang mengajar di kelas, atau menyarap di kantorku, dengan suguhan pemandangan anak anak yang berlarian olahraga di lapangan, atau mereka yang di kelas sedang menulis materi yang ku jelaskan, atau yang sibuk berbisik bisik berceloteh panjang lebar.
Kesibukan pagi seperti biasa.
Tak jarang juga aku masih terjebak di jalan menuju kantor, karena aku tidak mengajar jam pagi.

Pukul tujuh pagi orang lain pun tentu tak sama.
Ada yang sedang di pasar berbelanja, ada pula yang baru menggelar dagangannya, kadang ada yang baru berangkat bekerja ke kantornya, ada pula yang sedang menyesap kopi pahitnya di lapangan.

Pukul tujuh pagi yang beragam.

Apakah kamu pernah memperhatikan pukul tujuh pagi di rumah sakit?

Ada beberapa cleaning service sedang mengepel lantai, dokter yang mulai memasang jasnya dan mengecek berkas pasien pasien, satpam yang berjaga, perawat yang berganti shift.
Kamu akan menemukan perawat yang baru datang dengan wajah segar dan pafum yang menguar atau yang baru akan pulang dengan tampilan kusut karena kelelahan.

Ada pasien yang sedang melamun, ada yang ceria, ada yang sedang puasa karena akan operasi, ada yang mengemil. Macam macam yang bisa kamu lihat.

Itu di rumah sakit.
Bagaimana dengan di lapas?
Karena aku tidak pernah kesana, jadi aku tidak tau.
Tapi mungkin kita akan melihat sipir penjara yang lalu lalang, para napi yang mengobrol, atau entahlah.

Kembali ke klinikku tadi. Aku sudah dipanggil ke ruang dokter.
Dokternya tampak sabar namun tergesa gesa. Ingin segera menyuruh aku selesai. Sebab ada banyak pasien lain yang menunggu.
Hehe
Aku tidak banyak bertanya. Hanya duduk manis mendengarkan penjelasan beliau.
Ku lihat wajah beliau segar sekali dan tampak fit. Sangat menyenangkan melihat dokter ya? Sepertinya mereka selalu sehat dan bugar. Tidak seperti pasiennya yang kuyu.
Dengan semua kesibukan beliau, beliau pasti sudah sarapan dan siap menghadapi dunia.
Beda dengan aku yang kerap kehilangan selera makan, apalagi hari ini.

***

Pagi ini tentu berbeda.
Tapi begitulah dunia. Tidak mungkin selalu sama.

Pagi ini aku pulang dari klinik dengan menenteng bungkusan obat.
Padahal pagi sebelumnya aku membawa buku tulis anak anak yang akan ku koreksi sambil mengajar di kelas.

Kehilangan sesuatu membuat kita jadi belajar menghargainya, bukan?

Seperti kehilangan rutinitas.

Rutinitas yang itu itu saja tentu membosankan ketika dijalani.
Tapi, setidaknya lebih baik daripada harus seperti ini.

Sama halnya saat aku sedang bersender di bangku panjang depan IGD, karena menunggu bapak sakit.
Pukul tujuh pagi itu terasa suram.

Atau saat aku menatap matahari terbit yang menyombongkan dirinya dari jendela lantai 5, saat aku sedang duduk berselonjor di atas dipan rumah sakit. Menggendong keponakanku yang masih tertidur pulas setelah semalaman menangis.
Pukul tujuh pagi yang diwarnai dengan kantuk dan suntuk.

***

Kesibukan yang kamu rutuki tiap hari, adalah kesibukan yang ingin orang lain rasakan.

Pukul tujuh pagi yang kamu keluhkan, adalah pukul tujuh pagi yang begitu sebagian orang dambakan.

:)

Mari bersemangat menyambut pukul tujuh pagi kita!
Walau kegiatannya itu itu saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Hardest Part (1)

Bismillahirrahmanirrahim... Aku akan memberanikan untuk membuka sebuah luka dalam hidupku. Ini tentang sesuatu yang menimpaku setahun yang lalu. Jika ada dari kalian yang merasa tidak nyaman dengan tulisan ini, bisa skip saat ini juga. Tulisan ini entah akan jadi berapa bagian. Saking panjang dan lamanya. *** Kalian mungkin pernah mampir ke tulisanku di bulan maret 2023, judulnya NKTCTHI (Nanti Kita Tidak Cerita Tentang Hari Ini) yang juga ada part 2-nya .  Aku kekeuh selama itu tidak ingin membuka luka ini di blog-ku, karena aku masih beranggapan ini adalah sebuah aib. Tapi waktu berlalu, banyak pengalaman yang ku dapat, banyak artikel dan cerita orang lain bersliweran, yang membuat aku mengerti bahwa ini bukanlah aib, dan tak apa kalau kita terbuka membicarakan ini. Luka ini seperti luka luka lain yang normal untuk dimiliki dan bisa sembuh. Luka ini bisa terjadi pada siapa saja. Luka ini pun bukanlah dosa, jadi tak apa. Tujuan aku menceritakan luka ini adalah aku sangat berharap...

Mood Booster❤

Bismillahirrahmanirrahim Sebaik-baik mood booster, adalah kalimat Allah. Buat kalian yang sedang bersedih. Semoga membantu. Terjemahan Al Quran, surah Fushilat. 30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: " Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu " 31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. From me, with a lot of love❤❤❤

My Hardest Part (4)

Bismillahirrahmanirrahim... Baca dulu part sebelumnya ya, part 1 , part 2 , dan part 3 . Hari-hari berjalan perlahan. 21 Maret itu aku mulai memberanikan diri jalan berdua dengan temanku ke kafe di kota kami. Pagi-pagi kami sudah duduk manis memesan es stroberi dan nasi goreng. Kafe-nya masih sepi. Sejak itu, aku mulai berani membuka diri di keramaian (yang sepi). Selama sakit aku sama sekali tidak keluar rumah untuk main, pikiranku runyam sekali, aku lebih suka tiduran di samping ibuku. Dan kini aku menatap jalan raya dari balik jendela kafe.  Ah. Menyenangkan bisa kembali setelah nyaris kehilangan diriku . Setelah dari kafe, kami ke miniso, kemudian jalan memutari sebuah kebun hijau. Aku bersyukur untuk banyak hal. Aku mulai kembali kerja lagi. Walau masih tertatih. Atasanku sangat bijaksana saat itu, beliau memberikan aku ruang dan waktu hingga pemulihanku.  Beliau tidak menuntut banyak hal. Aku menjalani hari yang terik dan hujan yang dingin. Ku nikmati tiap detailnya deng...

My Hardest Part (2)

Bismillahirrahmanirrahim Tulisanku kedua, yang pertama bisa baca disini . Aku tidak tau kapan tulisan ini akan rampung ya.  *** Aku dan ibu akhirnya membuat janji temu dengan psikiater. Malam-malam gerimis kami memesan taksi online. Aneh rasanya di sepanjang perjalanan, apalagi saat supirnya mencoba ramah dengan bertanya apakah kami mau berobat? Berobat apa? Padahal satu-satunya dokter yang ada saat itu adalah dokter jiwa. Aku bertemu psikiater. Rasa di dalam dadaku campur aduk. Takut, malu, sedih, dan emosi lain silih berganti. Aku menceritakan apa yang ku alami pada dokternya, sambil menggegam erat buku jariku, sesekali aku menangis. Dokternya merespkan obat, mengatakan padaku bahwa sakitku ini memang ada, namanya anxiety disorder  atau gangguan kecemasan berlebih, dan bisa diobati.  Waktu pengobatannya enam bulan. Tapi sebenarnya waktu pengobatannya fleksibel, bisa lebih cepat, bisa juga lebih lama. Bahkan bisa tahunan. Aku lemas dan gontai berjalan keluar ruangan. Puk...

😫

Banyak yang ingin ku tuliskan, tapi aku masih urung. Rasanya terlalu banyak yang ingin dibagikan, mulai dari hikmah Allah memperjalankan aku ke Jakarta, koperku yang kode kuncinya berganti, rekeningku yang ludes, sampai semua halnya. Aku bingung mau menulis darimana... Emosiku masih menyertai tiap tulisan ini. Tiap kali aku bercerita, perasaanku masih tidak nyaman, rasanya aku linglung. Entah bagaimana aku memaknai hidupku, yang pasti aku yakin Allah akan menggariskan yang terbaik. Memang pedih menjalaninya, tapi pasti semua yang terbaik✨ Huaaaaaaaaa

Kos Putri 165

  Assalamu'alaikum, Blogger...   Tidak terasa sudah 3 tahun saya tinggal di kota cantik ini. Menjadi pendatang memang bukan h al yang mudah, karena selain kita harus bisa beradaptasi, kita juga harus bisa menemukan tempat tinggal yang cocok dan nyaman. Selama ini saya sudah 3 kali pindah kos-kosan. Mulai dari di daerah Yos Sudarso, Pangeran Samudera, dan yang terakhir di Borneo. Alhamdulillah, sekarang saya sudah menemukan kos yang sesuai dengan keinginan saya. Nah, dengan segala kerendahan hati saya :D Hari ini saya akan berbagi pengalaman selama berada di kos saya ini, yaitu Kost Putri 165. Yuk disimak!

Catur dan Filosofi Absurdku

Sedari kecil bapakku yang master catur (ceilah) sudah mengajariku bermain catur. Dari sekian banyak permainan catur, ada satu serangan yang sangat berkesan dan selalu ku coba untuk lakukan ke lawan mainku. Tapi selalu gagal karena 'kebetulan' mereka melakukan gerakan lain, sehingga serangan fajarnya gagal total. Fyi, serangan fajar yang dilakukan bapakku tadi, berhasil melumpuhkan aku dalam waktu sepersekian menit. Mungkin 2 sampai 5 menit. Sangat traumatis! Anyway, aku suka bermain catur, kalau boleh dikatakan, tingkatanku di atas pemula lah. Aku bisa menang kalau lawanku seimbang, tapi kalau lawanku sudah pro, aku akan K.O juga. Sore ini aku main catur online saja, karena di rumah tidak ada yang bisa catur kecuali bapak. Dan bapak sangat repot. Ternyata lumayan seru juga, aku melawan manusia sungguhan soalnya, bukan robot. Sore ini aku menang. Hehe Di sekolah aku bolak balik bermain catur, tentu sama bapak bapaknya, karena ibu ibunya tidak ada yang bisa main. Satu satunya ibu...

Surat Terbuka untuk Kelas XII 2018

Demi menulis apa yang sedang menyesaki kepala, sampai rela meninggalkan soal ulangan yang padahal dikejar deadline. Bismillahirrahmanirrahim... Jadi, malam ini, Nak. Postingan ini ditujukan untuk kalian anak-anak ibu yang lucu dan menggemaskan (pada akhirnya kalian menjadi lucu dan menggemaskan bagi ibu). To be honest , jarang sekali momen paska perpisahan itu baper ya, sampai-sampai tertuang di blog ini. Tapi mungkin dua tahun cukup lah sebagai pertimbangan kenapa kalian agak berkesan hingga akhirnya ibu rela menuliskan surat ini disini.

Surat Cinta

Lagi lagi, ku tuliskan surat cinta ini. Aku berharap kamu membacanya, meski aku tau ini harapan yang mustahil. Jadi ku tuliskan saja untuk semuanya, semoga angin membawa kabar gembira ini sampai di telingamu. *** Aku masih suka melihatmu, Begitu melihatmu, darahku benar benar berdesir cepat sekali, telapak tanganku dingin, dan aku susah berpikir dengan jernih. Aku tergagap, tidak bisa berbicara, bahkan tersenyum pun enggan. Padahal aku sesuka itu padamu. Benar kata orang orang, kalau perempuan suka, jangankan bicara, menoleh pada orang yang ia sukai pun tak sudi. Aku sungguhan tidak bisa melihatmu dengan baik. Sebelumnya aku sudah berlatih untuk menatapmu barang 3 detik saja, kata para ahli, itu bisa menjadi pengirim sinyal kalau kita suka dengan orang tersebut. Aku sudah bertekad akan mencobanya, mencoba menatapmu. Tapi sial, baru sepersekian mili detik kita bertatapan saja, aku sudah kacau tidak karuan, aku buru buru buang muka. Menatapmu saja aku tidak bisa, apalagi bicara! Aku kada...

Kejujuran itu Terlampau Mahal

Hari ini aku berdiri di hadapan banyak pasang mata siswaku, sambil menggenggam puluhan lembar kertas soal.  Minggu lalu kami mengadakan PTS menggunakan aplikasi yang diakses dengan HP. Jaman semakin canggih, bahkan menjawab soal seperti ini saja diharuskan menggunakan teknologi. Ku akui memang lebih mudah menggunakan teknologi ini, tak payah kami mengoreksi jawaban satu satu dengan sebelumnya melubangi LJK pakai obat nyamuk. Walau katanya Lembar Jawaban Komputer, tetap saja mengoreksinya manual. Tapi begitulah~ Itu beberapa tahun silam. Meski kami tak bau asap obat nyamuk lagi, nyatanya teknologi selalu punya celah untuk dikeluhkan. Anak anak lebih suka berlelah lelah mempelajari tips dan trik untuk curang, ketimbang tips dan trik menjawab soal dengan mudah. Kalau guru punya 1001 cara untuk meminimalisir kecurangan, siswa juga punya 1001 cara menyiasati agar bisa curang. Apakah kecurangan senikmat itu? Hingga mereka lebih suka berkubang di dalamnya? Hari ini aku mengulang PTS itu. ...