Langsung ke konten utama

Panggilan Menyebalkan Jam 2 Pagi

Assalamu’alaikum :*

Hehe.. malam hari ini saya akan bercerita sedikit mengenai kebodohan saya yang tertipu mentah-mentah dini hari tadi. Sebenarnya ini cukup memalukan, yah semacam menunjukkan kalau saya mudah tertipu dan polos. Tapi semoga dengan cerita ini, Anda jadi was-was dan tidak akan jatuh ke lubang yang sama seperti saya. Ok here we go

Jadi dini hari tadi saya terbangun dalam keadaan kaget dan masih kehilangan 8 nyawa saya. Lantaran kaget, saya refleks bangun langsung duduk, ini nih kebiasaan buruk saya, saya kalau bangun dalam keadaan kaget, refleksnya bisa luar biasa. Saya pernah terbangun dalam keadaan langsung berdiri, dan itulah mengapa keseimbangan tubuh saya akhir-akhir ini jadi terganggu. 
Oke, singkat cerita saya masih dalam keadaan bingung dan mencari tau kenapa saya terbangun. Kemudian saya mendengar lagu Taylor Swift yang dipakai jadi jingle iklannya Conello, ini apa ya? alarm? Seriusan, mungkin karena terbangun begitu saja, saya bahkan tidak bisa membedakan ini bunyi alarm, telepon atau apa.


Saya melihat layar handphone saya berkedip-kedip beberapa saat dan menyadari ada panggilan masuk. Siapa sih tengah malam gini? Saya melirik ke jam dan mendapati ini jam 2 pagi. Saya mengabaikan saja panggilan masuk itu, kalau penting nanti pasti nelpon lagi, pikir saya. Dan ternyata panggilan yang sama menelpon untuk kedua kalinya. Mungkin penting, jadi saya angkat panggilan itu. 
Sejak kejadian perampokan yang menimpa tetangga saya beberapa tahun silam, saya sudah bertekad untuk berhenti mengabaikan telepon masuk di tengah malam begini. Maka saya angkat tanpa mengucap sepatah kata pun. 
Oh iya, sekedar tips terutama untuk perempuan, sebaiknya kalau ada nomor yang tidak dikenal memanggil, jangan ngomong duluan, biarkan si penelpon yang membuka percakapan duluan. Saya diam beberapa saat dan akhirnya si penelpon say “halo”

“Iya ini siapa?” suara serak khas orang bangun tidur meluncur begitu saja dari saya
“Aku ditangkap polisi..” suara laki-laki diujung telepon tampak memilukan
“hah?” tolong membaca ini pakai intonasi ala orang yang tidak jelas mendengar suara di seberang sana, bukan intonasi kaget ya.
“Aku ditangkap polisi...” ulangnya sambil sesenggukkan
Oh well, ini siapa sih, erang saya dalam hati. “Ini siapa?”
“aku ditangkap polisi” dia mengulang lagi
“ini Anggi kah?” saya bertanya, dan inilah kesalahan bodoh pertama yang saya lakukan. Tapi serius, ini mirip sekali dengan saudara adik sepupu laki-laki saya, Anggi. Lain kali buat Anda semua, ngotot saja tanya ini siapa, diinterogasi dulu si penelpon sampai Anda yakin Anda mengenalnya. Anda juga bisa menanyakan bagaimana panggilannya untuk Anda, untuk menunjukkan hubungan kekerabatan kalian. Atau tanyakan saja pertanyaan-pertanyaan sulit, misalnya hobi Anda, siapa gebetan Anda atau apalah itu, pastikan dia menjawab dengan benar. Kalau dia tidak jawab dan malah sesenggukan saja, matikan saja, mungkin si penelpon memang hobinya sesenggukan.

“iya.... aku ditangkap polisi” sahutnya
“Kenapa, Nggi?” saya mulai cemas. Ini kesalahan kedua. Sebenarnya cemasnya saya beralasan, Anggi memang kerap keluar malam lantaran dia mengambil kuliah malam, sehingga Anggi masih mungkin ditemukan kelayapan di jalan pada dini hari. Terlebih minggu ini Anggi ditinggal abang dan ibunya ke luar kota, dan ayahnya agak sedikit galak, saya rasa ini cukup masuk akal kalau dia kenapa-kenapa dan dia harus menghubungi saya.

Si penelpon yang tak jelas diujung sana terus mengulang kalimat yang sama. Kemudian saya merasa telepon berpindah tangan dan terdengarlah suara berat seorang laki-laki khas polisi. “Selamat pagi bu maaf mengganggu waktu istirahatnya” si suara berat membuka percakapan.

“Iya selamat pagi” Pagi? Ini kan tengah malam?!, kemudian saya menyadari kalau dia benar, ini jam 2 pagi.
“Ini maaf, saya berbicara dengan ibu siapa?”
“Mukti” sahut saya dengan suara yang seriusan tidak jelas, maklum suara bangun tidur dan belum dilumasi air sedikitpun.
“Siapa?” tanyanya lagi.
“Mukti” masih dengan suara yang sama seraknya. Saya tidak peduli apakah si polisi ini bisa tau nama saya dengan baik atau tidak. Karena seumur hidup saya, sebagian orang yang menanyakan nama saya secara langsung, perlu beberapa menit untuk dapat mengeja nama saya dengan baik, kecuali saya yang memperlihatkan bagaimana tulisan nama saya. 
Satu waktu nama saya bisa menjadi ‘Muti’, di waktu yang lain bisa menjadi ‘Mukhti’, ‘Mutia’. ‘Mukri’ atau sejenisnya. Jadi daripada membuang waktu, saya iyakan saja tebakan nama dari si polisi tadi.

“Anggi ini siapa ibu?”
“Sepupu” saya menjawab, saya rasa lidah saya mulai kaku, ini seriusan? Nah ini kesalahan ketiga, membiarkan orang lain mengorek keterangan dari Anda.
“Baik, jadi Anggi ini kami tangkap dalam razia kami ya Bu ya, nah ketika kami periksa surat kendaraannya lengkap-lengkap saja, tapi Anggi dan temannya tampak pucat ...”
Oh ayolah Nggi, kenapa harus pucat! Kamu lapar? Nggak makan sebulan apa gimana?
“... lantaran curiga jadi kami periksa Anggi dan temannya, dan di saku celananya kedapatan sejenis psikotropika. Ibu tau psikotropika itu apa?” tanyanya
“ya tau” saya menjawab singkat. Anggi apa-apaan ini? Rutuk saya dalam hati.
“Apa itu Bu?” dia terdengar seperti seorang pembawa acara kuis yang luar biasa handal.
“narkotika?” untung saya sering nonton di televisi.
“Ya betul” dia membenarkan. Yes! seratus juta rupiah!!! “...Ibu ini umurnya berapa?”
“22” ah belum sih, nanti desember baru 22, tapi daripada ribet.
“Kalau Anggi?”
Saya berpikir sejenak “20?” 2 tahun dibawah saya, tapi terdengar sedikit tidak yakin.

“Anggi ini nama lengkapnya siapa ibu?”
“Anggika Nuari” saya menjawab, kala itu saya berpikir dia hanya ingin memastikan bahwa Anggi tidak sedang berbohong memberikan nomor saya padanya. Maka saya yang nyawanya mungkin baru terkumpul dua biji, tanpa ragu-ragu menjawab benar semua pertanyaan si suara berat.
“Pekerjaan Anggi?” tanyanya lagi
“Kuliah di UNDA (Universitas Darwan Ali)”
Suara disana tampak ingin menanyakan sesuatu, tapi tidak jadi, kemudian dia bertanya “Kendaraannya warna apa ibu?”
“Hitam”
“Jenisnya bagaimana ibu?”
“Mmm..sejenis motor besar” saya tidak ingin dia menyangka ini Harley Davidson!
“Baik, seperti Vixion ya?”
“Iya” memang merknya apa ya? Lupa. Oh wow, saya bisa menjawab beberapa hal tentang Anggi! Lihat betapa saya menjelma menjadi kaka yang cukup care.
“Baik ibu, jadi Ibu tidak tau kalau Anggi ini menggunakan psikotropika?”
“iya”
“Ibu berani bersumpah?”
Oh ayolah, harus sumpah segala? “iya” saya mengiyakan sumpahnya.

“Baik Bu, jadi...” dia menjelaskan mengenai temuannya yang dapat membahayakan masa depan Anggi, dia mengaku bahwa kasus ini belum sampai terdengar ke atasannya, sehingga sebaiknya diselesaikan di jalan.

Sambil si suara berat itu menjelaskan panjang lebar, saya mulai membayangkan Anggi yang tengah meringkuk ketakutan dan gugup, ah I know how you feel bro (pengalaman diinterogasi gara-gara kena tilang), kemudian membayangkan betapa kalau ayahnya tau, Anggi pasti akan dimarahi habis-habisan atau bahkan ditendang ke jalan.

Si suara berat meminta hanya saya saja yang tau masalah ini, bahkan orang tua saya juga jangan sampai tau, dia beralasan agar keluarga tidak panik. Oke, masuk akal juga alasannya.

Tapi, ketika percakapan itu berlangsung, saya tidak sejernih ketika menuliskan kembali kronologi ini. Saat itu saya merasakan tangan saya dingin dan saya gugup setengah mati, saya kasihan dengan Anggi dan saya berharap ini cuma mimpi.

Akhirnya, si suara berat mengatakan “jadi temannya Anggi sudah menelpon orang tuanya dan orang tuanya setuju memberikan jaminan 2,5 juta...” cukup banyak juga tuh, pikir saya
“... nah ibu bisa memberikan jaminan berapa untuk Anggi? Yah sepantasnya lah”
Jaminan? Ah jadi konklusinya uang?
Saya mengingat-ingat berapa uang dalam celengan paus ungu saya ya, rasanya saya sudah menghabiskan gaji saya untuk memenuhi keperluan saya belakangan ini (maklum, guru baru, uangnya habis buat bikin seragam), 500ribu? Ah ini sih kebanyakan untuk sekedar jaminan, 200 saja pasti sudah cukup. Hehehe
“500ribu?” tanya saya ragu.

Si suara berat terdengar kecewa, “500ribu, Bu?”
“iya” habis membebaskan Anggi, pokoknya minta ganti rugi sama Anggi!
“Wah gimana ya Bu, saya ini ...” dia  menjelaskan bahwa uang itu terlalu sedikit untuk dibagi-bagikan padanya dan beberapa personil lain.
“Iya 500ribu” saya tak kalah ngototnya, ngapain mahal-mahal nebus si Anggi?
“Itu tunai atau nontunai Bu?”
“Tunai” saya bisa langsung kasihkan ke polisinya kan? Terus membawa Anggi pulang.
“Tunai Bu?”
“IYA” ini nanya mulu, kurang jelas ya -_-

“Ibu tidak punya ATM?”
Punya sih, tapi isinya sudah habis... semenjak saya mulai tinggal di Sampit lagi, saya malas mengurus semua akun Bank saya, mendingan nabung di celengan paus, aman tanpa potongan, “Ngga punya” sahut saya kalem

Dia terdengar putus asa dan menyerah “Jadi bagaimana Ibu mau memberikan uangnya?”
Entah, pikir saja sendiri. Saya diam dan mulai mengantuk.
“Jadi begini saja Bu, Ibu mengirimnya uangnya dalam bentuk biaya untuk alat komunikasi saja, tolong Ibu catat nomornya ya”
Dengan enggan saya mengambil pensil dan kertas, “iya” sahut saya kesal.
Saya rasa nyawa saya sudah hampir lengkap ketika itu. Saya mulai kesal dengan si penelpon yang semakin terdengar menyebalkan saja. Dia pun menyebutkan 3 buah nomor handphone  dan meminta saya mengisikan pulsa ke 3 nomor tersebut dengan nominal 200ribu, 200ribu, dan 100ribu. Oke, saya menyanggupi akan mengisinya besok pagi. Dia mulai keberatan dan mengatakan harus segera. Apa-apaan ini?

“Pak, jam segini counter tutup” saya mulai kehilangan kesabaran
“ya kan bisa diisi di Alfamart atau Indomart?”
Saya meminta bicara dengan Anggi dan dia mengatakan tidak bisa, Anggi sedang diinterogasi. Pokoknya saya ngotot kala itu dan dia akhirnya mengalah memberikannya ke Anggi.
Entah kenapa, saya masih mengira ini Anggi, suaranya mirip sekali. “Anggi ini seriusan kah? Nggi?” saya berusaha meminta penjelasan ke Anggi. “iya isikan aja” suaranya terdengar memilukan (lagi). Kemudian saya ragu kalau ini Anggi. Saya matikan handphonenya, saya diam sejenak, ada perasaan lega ketika menutup telepon itu. Saya mulai merasa dehidrasi, ingat betapa saya sejak 2 jam yang lalu ngerumpi nonstop. Jadi saya meneguk minuman beberapa gelas. Ada panggilan lagi, haus, pikir saya. Kerongkongan gue lebih penting.

Saya angkat lagi, “iya!”
“kenapa dimatikan Bu?” haus, jawab saya dalam hati.
Dia memaksa saya segera mengisikan dia pulsa tersebut. Saya sekali lagi bilang, ”insya Allah pak besok pagi” dia memaksa dengan menyarankan sebaiknya saya segera mengisinya, entah itu di Alfamart atau Indomart. Saya awalnya mengira polisi ini salah bicara ketika dia menyebutkan dua supermarket itu, hei sejak kapan di Sampit ada? Tapi dia mengulangi dua kali, meminta saya mengisi di Alfamart atau Indomaret. 

Fix! ini tidak benar. Kemudian saya mengumpulkan segenap keberanian saya “Pak dengar, disini tidak ada Alfamart atau Indomaret!”

Dia kebingungan di ujung sana dan menyarankan saya coba mengisi di pom bensin, mau melangsir minyak kali ke pom bensin?, saya mulai kesal dan sepenuhnya berpikir jernih (mungkin faktor sudah minum) “pak, saya ini perempuan, dan saya tidak akan keluar rumah tengah malam begini (maksudnya pagi, saya mengoreksi dalam hati). Ini tidak aman, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada saya?”

Dia tidak kehabisan ide, dia katakan berapa nomor plat saya dan dia akan meminta personilnya mengawasi saya. What the he*k, memang tau rumah gue dimana?
“Pak apapun itu, saya tetap tidak akan keluar rumah tanpa ijin orang tua saya” saya menekankan dengan nada tinggi.
Saya masih khawatir dengan si Anggi, saya berpikiran kalau tadi itu Anggi, dan polisi ini yang tidak benar. Saya masih belum terpikir bahwa tadi itu bukan  Anggi!.

Akhirnya dia menyerah dan mengatakan sebaiknya besok pagi bertemu langsung dengan saya. Oke siapa takut. Setelah berdebat masalah jam, kami menyetujui jam 6 pagi. Saya berpikir, kalau sampai Anggi masih susah dihubungi, saya akan kerumahnya jam setengah 6 untuk memastikan Anggi ada di rumahnya. Jadi selama saya ditelpon saya terus-terusan menghubungi Anggi melalui BBM dan belum ada balasan sama sekali.

“Jadi jam 6 ya, Bu”,
“iya insya Allah ya” saya menjawab mantap
“wah jangan iya iya tidak tidak, Bu. Jangan tidak yakin” ia mulai meragukan istilah ‘insya Allah’ saya. Nah ini yang harus diluruskan. Jadi selama ini sebagian masyarakat Indonesia menodai makna sebenarnya dari Insya Allah. Makna versi salahnya adalah ‘insya Allah’ diartikan sebagai ‘tidak’ secara halus.
“Pak, insya Allah itu 99,999% iya!” saya menjawab lagi.
Dia terdengar cengengesan dan mengiyakan saya. Kemudian dia mengakhiri dengan mengucap assalamu’alaikum, wah wah islami sekali.

Saya mulai tiduran dan berusaha menghubungkan semua potongan-potongan keanehan dari panggilan barusan. Saya mulai menyadari betapa sebenarnya si penelpon tidak tau sama sekali tentang saya atau Anggi, justru sayalah yang mengungkap identitas Anggi.
Kalian tau? Panik!
Ya, ini hanya masalah panik yang bisa berakibat fatal sekali. Sambil terus berpikir jernih, ada panggilan masuk lagi, ini semakin menambah kecurigaan saya, tidak mungkin polisi seagresif ini. Saya mengabaikan semua panggilannya dan terus berpikir. 
Hingga akhirnya ada sms masuk yang berbunyi, “ko tidak diangkat? Ini BRIGADIR KEPALA”, oke ini penipuan! Saya merutuk dalam hati, bodoh sekali saya sampai bisa ditipu habis-habisan seperti ini. Ini jam berapa? Sudah jam 4 pagi, ah bahkan menyia-nyiakan tidur nyenyak saya untuk melayani penipuan ini. 

Dan beruntungnya, jam 4 pagi itu Anggi membalas BBM saya, “kenapa mba? Tadi lagi tidur”. Lihat Mukti!! Anggi aman. Tadi itu bukan Anggi! Saya mengucap syukur berulang kali, bersyukur karena Anggi aman, bersyukur karena saya hanya kehilangan jam tidur saya dan tidak kehilangan apapun selain itu. Jam 4 lewat 30 saya berhasil tidur dengan perasaan lega.

Pagi harinya saya mendapati banyak panggilan masuk dan 1 sms yang kurang lebih berbunyi ‘tolong diterima telponnya ibu, agar dpt kita selesaikan masalah keluarga ibu’ saya lupa tepatnya, tapi kurang lebih seperti itu.

Kemudian saya putuskan sebaiknya saya mengirim sms balik, bunyinya kurang lebih seperti ini “0,001% dari insya Allah saya tadi adalah kehendak Allah. Alhamdulillah Allah tunjukkan pada saya bahwa ini hanya PENIPUAN.. semoga Anda mndapat hidayah dari Allah...”
tak lupa saya juga menyertakan satu penggalan hadist untuknya,
“Pada hari kiamat, tidak akan bergerak pijak kaki anak Adam dari sisi Rabbnya, hingga ditanya ttg 5 hal (diantaranya) ... tentang hartanya, darimana dia peroleh dan kemana dia nafkahkan? (HR. At Tirmidzi)” oke, kirim. Dan smsnya tampaknya diterima dengan baik di ujung sana.

Kasus ini, hanyalah satu dari ribuan kasus penipuan lain.
Sejenak saya bersyukur nyaris tertipu, setidaknya untuk pengalaman dan bisa dibagikan pada yang lain agar lebih hati-hati. Banyak sekali kasus semacam ini yang terjadi. Dan saya berniat akan melaporkan ini ke pihak yang berwajib. 

Sebelum saya melapor, saya mengirim BBM ke teman saya yang bekerja sebagai staff admin di kantor kepolisian di daerah saya. Saya bertanya padanya untuk meminta pertimbangan, perlukah ini dilaporkan? Jawabannya apa? “kemarin-kemarin banyak juga yang lapor kayak gitu, tapi polisinya cuma bilang ‘sebaiknya ngga usah diladeni’”.

Cukup mengejutkan juga! Pengayom masyarakat yang dibayar rakyat justru menyepelekan keluhan mereka. Oke saya tidak mau terlalu banyak berkomentar. Hanya sangat menyayangkan hal ini. Sesepele apapun, tolong pertimbangkan dan bantu. Justru dari ketidakpuasan masyarakat terhadap pihak yang berwajib seperti ini lah yang akhirnya membuat masyarakat main hakim sendiri.

Well, jadi begitulah penuturan saya mengenai kasus penipuan yang saya alami. Semoga bisa membantu dan saya harap, saya menjadi korban penipuan yang terakhir.
Sekian, semoga bermanfaat.

NB: Sleep tight everyone~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Himdeureo

Jalan ini sulit, Apakah akan terasa mudah jika melaluinya bersamamu? Aku sekarang tidak mahir membuat tulisan panjang lebar lagi, mungkin karena aku tidak punya objek dalam tulisan ini. Tak ku tujukan pada siapapun, tak ku sematkan untuk siapapun. Tulisan tulisan tak bertuan. Miliki saja bila kau ingin. *** Aku ada disini. Dalam ratusan tulisan yang bisa kau baca tiap hari. Kau bisa mampir jika ingin. Kau bisa membacanya jika rindu. Seolah aku sedang bercakap di depanmu. Kau bisa membawaku dalam semua kegiatanmu. Saat kau menunggu antrian, saat kau sedang bosan, saat kau akan tidur. Aku selalu ada. Tapi bagiku, kau tidak ada dimanapun. Kau tidak bisa ku temukan dalam apapun. Kau tidak akan pernah hadir walau ku cari bertahun tahun. *** Aku membencimu, sebanyak aku ingin melupakanmu.

Selamat Berpisah, Tuan

Selamat berpisah, Tuan Terima kasih karena menyempatkan singgah ke pelukan gadis malang sepertiku, Terima kasih untuk antusiasmu yang hanya sebentar, Terima kasih telah membawakan aku sebongkah harapan yang merekah, Terima kasih sebab menjadi mimpi baikku sampai sekarang. Kamu benar Tuan, kurasa ini karmaku, Karena telah menyia-nyiakanmu, Karena berbohong padamu dan pada perasaanku, Aku sedikit menyesal, Tuan. Mestinya aku mengaku. Tapi apakah itu akan mengubah hari ini? Apakah dengan kejujuranku, kamu tidak akan pergi? Aku meraba-raba, kenangan kita di masa lampau, Kamu hadir di saat aku sangat terjebak dalam kubangan gelap pikiranku, Kamu menawarkan cinta tulus nan sederhana. Lantas, semudah itu perasaanmu berubah Tuan Apakah tak ada sedikit pun rasa yang tertinggal? Aku memang gadis bodoh. Benar aku bagus dalam pelajaran, Tapi sangat bodoh dalam perasaan, Aku ingin membencimu Tuan, Tapi hatiku berontak, Penat. Selamat berpisah, Tuan Aku mengikhlaskanmu. Aku tak apa. Sudah biasa. Han...
Mau produktif menulis, tapi makin kesini makin membuncah rasa malasku, Hati yang khawatir, cemas berkepanjangan, tiba tiba datang menyerang, Aku ingin produktif, tapi terlalu malas

Takdir

Ada yang mengejarku selama ini, aku menghindar. Entah apa yang salah, mungkin aku membenci caranya mendekatiku. Setiap perhatiannya memuakkan. Aku juga kebingungan dengan diriku ini. Ternyata memaksakan diri jatuh cinta memang tidak mudah. Mungkin begitulah aku di matamu? Seketika itu aku bercermin. Melihat pantulan diriku yang begitu hebat masih mengejarmu. Mungkin kamu sangat terganggu dan kebingungan menghindariku. Dasar aku, kamu, dan takdir ini.

Kejujuran itu Terlampau Mahal

Hari ini aku berdiri di hadapan banyak pasang mata siswaku, sambil menggenggam puluhan lembar kertas soal.  Minggu lalu kami mengadakan PTS menggunakan aplikasi yang diakses dengan HP. Jaman semakin canggih, bahkan menjawab soal seperti ini saja diharuskan menggunakan teknologi. Ku akui memang lebih mudah menggunakan teknologi ini, tak payah kami mengoreksi jawaban satu satu dengan sebelumnya melubangi LJK pakai obat nyamuk. Walau katanya Lembar Jawaban Komputer, tetap saja mengoreksinya manual. Tapi begitulah~ Itu beberapa tahun silam. Meski kami tak bau asap obat nyamuk lagi, nyatanya teknologi selalu punya celah untuk dikeluhkan. Anak anak lebih suka berlelah lelah mempelajari tips dan trik untuk curang, ketimbang tips dan trik menjawab soal dengan mudah. Kalau guru punya 1001 cara untuk meminimalisir kecurangan, siswa juga punya 1001 cara menyiasati agar bisa curang. Apakah kecurangan senikmat itu? Hingga mereka lebih suka berkubang di dalamnya? Hari ini aku mengulang PTS itu. ...

Menelan Kekalahan

Kini aku tau, dampak yang harus ditanggung dari kalimat sederhana yang sering didengungkan, kalimat "yang penting ikut". Ternyata tidak sederhana kedengarannya. Berawal dari menggugurkan kewajiban, berakhir pada totalitas tanpa batas atas nama tanggung jawab dan idealisme. Aku diminta membimbing lomba. Aku sangat tidak tau apa apa, belum pernah ikut sama sekali. Dan kalau dipikir pikir, bukan bidangku juga. Tapi semua guru di muka bumi ini juga mengalami hal serupa. Sering lintas bidang yang dikuasai. Lulusan apa, tiba tiba mengajar apa. Ternyata hal seperti itu sudah jadi makanan sehari-hari. Singkat cerita aku mengerahkan seluruh tenaga, waktu, pikiran, bahkan uangku. Tapi tak apa. Aku akan melakukan yang terbaik. Begitu juga anakku, dia harus mendapatkan bimbingan yang terbaik dari aku. Dia juga bahkan harus mendapat dukungan moral (yang aku sendiri tertatih tatih memupuk diriku) setiap waktu. Aku mempelajari dengan seksama isi juknis, aku mempelajari semua material yang k...

Sang Pembaharu

Jujur sebagai manusia biasa yang sedikit idealis, aku cukup lelah mental dan fisik. Belakangan ini dunia semakin bercanda. Negara semakin melucu. Dan makin banyak manusia dengan ambisinya yang beragam, aku tentu berharap ambisinya baik untuk dunia, namun semua itu hanya khayalanku saja. Bahkan tanpa ambisi itu, iklim dunia saja sudah amburadul. Pemanasan global, cuaca ekstrem, dan ancaman kerusakan bumi yang tak main main. Malah sebagian manusia rakus nan tamak justru dengan kesadaran penuhnya, makin semangat dan gelap mata merusak bumi gila gilaan. Ugh. Masalah tiap harinya makin banyak. Baru saja membuka mata di pagi hari, gempuran berita buruk bermunculan. Aku sampai kebingungan dan berharap tidak tau apa apa. Sebagai manusia, aku seperti punya tanggung jawab untuk menjaga lingkungan dan moral di negara yang morat marit ini. Terlebih peranku sebagai guru, aku makin harus 'ideal' untuk menyadarakan ratusan siswaku agar mereka juga mau berkontribusi demi kehidupan yang lebih b...

Ikhtiarnya Siti Hajar

Nasihat, ceramah, motivasi, dan semua perkataan perkataan dari pihak lain, baru bisa menembus diri kita saat kita memang sedang berada dalam posisi tersebut.  Misal, sedang bahagia, tapi mendengar ceramah tentang "kesedihan", ya lebih sering lewat begitu saja kan ceramahnya? Karena kita tidak sedang di posisi itu. *** Tadi pagi, dapat rekomendasi video Ustadz Adi Hidayat tentang konsep rejeki dari yutub.  Langsung nyes. Mengangguk angguk takjim. Sambil mau nangis. Hehe.  Ibunda Siti Hajar bersama anaknya, Nabi Ismail yang baru lahir, dibawa oleh Nabi Ibrahim ke sebuah lembah tandus. Kemudian ditinggalkan begitu saja. Siti Hajar bertanya pada suaminya, "apakah ini perintah Allah?", Nabi Ibrahim mengiyakan. Siti Hajar lalu menjawab, "kalau begitu, Allah tidak akan menyianyiakan hambaNya". Hingga peristiwa yang diabadikan dalam rangkaian ibadah Haji itu terjadi.  Nabi Ismail menangis, kehausan dan kelaparan. Sementara air susu ibunya sudah kering. Lalu Ibunda...

Tangga Nada

Kurang random apalagi sih aku? Ke toko, malah naksir mas random? Tapi ngalamin starstruck (star in my heart) wkwk Aku selama ini nggak pernah memperhatikan. Entah kenapa minggu itu kayak, kok mas ini manis sih? Udah gitu tinggi dan lembut juga. Tapi akuuuuu masih merasa bodo amat. Walau ketika pulangnya, ada perasaan aneh kayak...aku suka deh sama masnya🄲 Ada momen dia nyamperin aku dan aku blank, diem, suara parau. Kesal😭 Kenapa harus parau? Kenapa aku tidak menanggapi dengan sangat berterima kasih dan ngobrol dikit? Huuu Di jalan aku nyesel, kepikiran🄲 Waktu aku cerita sama temen temenku, mereka semua kayak satu suara dengan bilang, hayok lah kita kesana, siapa tau ketemu, kita samperin tanya nama dan wa-nya. Aku yang panik! Tapi sampai sekarang aku masih kepikiran😄 Aku pernah ketemu lagi, di tempat yang sama, dan yaudah nggak ada apa apa. Bahkan papasan juga nggak. Aku cuman ngeliatin dari jauh. Apakah semesta gak mendukung? Sedih banget, sampai aku agak cry dikit waktu ngobrol ...

My Hardest Part (1)

Bismillahirrahmanirrahim... Aku akan memberanikan untuk membuka sebuah luka dalam hidupku. Ini tentang sesuatu yang menimpaku setahun yang lalu. Jika ada dari kalian yang merasa tidak nyaman dengan tulisan ini, bisa skip saat ini juga. Tulisan ini entah akan jadi berapa bagian. Saking panjang dan lamanya. *** Kalian mungkin pernah mampir ke tulisanku di bulan maret 2023, judulnya NKTCTHI (Nanti Kita Tidak Cerita Tentang Hari Ini) yang juga ada part 2-nya .  Aku kekeuh selama itu tidak ingin membuka luka ini di blog-ku, karena aku masih beranggapan ini adalah sebuah aib. Tapi waktu berlalu, banyak pengalaman yang ku dapat, banyak artikel dan cerita orang lain bersliweran, yang membuat aku mengerti bahwa ini bukanlah aib, dan tak apa kalau kita terbuka membicarakan ini. Luka ini seperti luka luka lain yang normal untuk dimiliki dan bisa sembuh. Luka ini bisa terjadi pada siapa saja. Luka ini pun bukanlah dosa, jadi tak apa. Tujuan aku menceritakan luka ini adalah aku sangat berharap...