Langsung ke konten utama

Pandemi Covid19 Jilid 2

Sistem pemerintahan mulai kacau.
Perekonomian, sosial, hingga pendidikan.

Tradisi yang telah dijaga turun temurun tanpa syarat mulai berangsur ditelisik darurat tidaknya. Seperti tradisi ujian, wisuda, belajar di kelas, jabat tangan, upacara, ibadah, perayaan, dan hal hal lainnya. Semua mulai dibenahi, atau bahkan ditiadakan.

Ujian dihapuskan, wisuda daring, belajar dari rumah, jabat tangan dihindari, ibadah di rumah, perayaan ditiadakan sementara. Demi keselamatan bersama.

Masyarakat yang awalnya abai, mulai belajar berkompromi. Tapi tidak sedikit juga yang masih bikin sesak di dada, karena masih enggan diatur.

Tak hanya masyarakat, pemerintah yang kebingungan juga menerbitkan peraturan yang sama bingungnya.
Seperti kasus menjelang lebaran yang melelahkan.
Antara ketatnya lock down, bolehnya pulang kampung, larangan mudik, atau himbauan stay dirumah aja.
Lebih memusingkan ketimbang memilih jodoh apartur negara atau pegawai swasta.

Hari demi hari, mimpi buruk tak kunjung berhenti.
Mungkin mimpi bertemu jin ifrit jauh lebih baik daripada mimpi corona ini. Karena bangun dari tidur pun tak jua menjadi solusi.

Mimpi buruk masyarakat kelas menengah ke bawah yang terbawa sampai ke alam sadarnya.
Mimpi pemutusan hubungan kerja, potong gaji, penundaan gaji, tidak ada kiriman uang, kelaparan dan kehausan yang mencekik, intaian tindak kriminal, tunggakan BPJS yang ambigu, biaya sekolah yang bagai buah simalakama, masalah kesehatan yang sama peliknya.

Mimpi ini tapi tidak berlaku bagi masyarakat kelas atas.
Mereka tetap bisa bekerja dari rumah saja, atau berpergian dengan kendaraan roda empat yang sedikit lebih aman ketimbang terpapar virus atau debu jalanan, mereka sanggup menyetok sembako untuk satu dua bulan, bahkan kalaulah sembako bisa bertahan satu tahun, akan mereka stok. Mereka bisa menyuplai kesehatan dengan berbagai vitamin, buah sayur organik nan sehat, daging ikan dan berbagai produk sehat lainnya.

Hak mereka, karena mereka tidak mendzalimi siapapun.
Hanya ingin menuliskan ironi saja.

***

Namun hal ini tentu tidak luput dari perhatian pemerintah dan kaum influencer.
Berbagai upaya untuk membantu sesama mulai ramai digalakkan.
Bantuan APD, alat medis, sembako mulai meluas.

Pemerintah menganggarkan sekian ratus ribu untuk menjamin keberlangsungan hidup tiap keluarga kurang mampu. Walau entah kenapa ada saja oknum yang sampai hati mencurangi, bahkan di tengah perkara hidup mati seperti ini. Mulai dari bantuan yang hanya tinggal separuh ketika sampai di pintu rumah atau bantuan yang sampai ke rumah anggota DPR.

Para influencer tak mau kalah.
Banyak juga yang berlomba lomba membagikan bingkisan beras, masker, atau uang tunai kepada pekerja harian atau buruh yang luntang lantung di jalanan.
Bagaimana aku tau? Mudah saja, tinggal menonton di channel Youtube dari rumah.
Apapun itu, setidaknya mereka sudah membantu, bergerak, dan membawa perubahan. Tidak sepertiku yang hanya jadi penonton saja. Kadang terenyuh, kadang terkesima.

***

Kalau ku tulis semua, ku rasa artikel ini sampai jilid 1001 saking banyaknya problematika.
Tapi sekali lagi ku katakan, aku sangat tidak berkapasitas menyoroti hal ini lebih jauh.
Maaf untuk tulisan yang tidak nyaman dibaca, tapi itu hanya pemikiran gamblang di kepala awam sepertiku.

***

Apakah ini musibah? Atau rahmat?
Tiap orang memiliki persepsinya masing masing.

Satu kali pandemi ini menjadi musibah, kali lain menjadi rahmat.
Semua tergantung dari bagaimana kita menyikapi.

Anggaplah ini musibah. Allah timpakan karena selama ini kita sudah melampaui batas. Sudah dzalim, lalai, angkuh, sudah seenak jidatnya saja.
Kita sering hang out tak kenal waktu, beberapa orang justru tiap malam melipir ke diskotik, karaoke atau tempat hiburan yang melalaikan. Kadang juga rela pergi ke konser, berdesak desakan, histeris meneriaki idolanya. Lupa waktu shalat, karena antri sejak sore hingga petang.

Kita juga lengah menjaga kebersihan. Padahal ianya adalah sebagian dari iman.

Maka Allah berikan kita musibah agar kita mawas diri. Introspeksi. Lantas bertaubat.
Allah ingin kita menyadari bahwa sehebat apapun kita, ternyata dihadapkan pada virus tak kasat mata saja kita menciut.
Sebagaimana Namrud yang dikalahkan oleh seekor nyamuk (dalam riwayat lain dikatakan seekor lalat).

Berkat virus ini, tempat hiburan ditutup. PSBB dijalankan. Konser dibatalkan.
Sorry not to say sorry. Aku tidak membicarakan nasib pegawai yang bekerja di tempat itu, Allah yang mengendalikan rejekinya. Allah pasti tunjukkan jalan keluar untuk mereka.

Corona ini bisa juga adalah rahmat.
Saat yang tepat untuk sedikit beristirahat. Sejenak melupakan urusan duniawi dan lebih mendekat pada Allah.
Orderan sepi, job sepi, dagangan tidak laku sejak pagi. Entahlah. Mungkin Allah ingin kita menggunakan waktu menunggu rejekinya itu dengan banyak berdzikir, membaca sirah nabawiyah, atau hal lain yang manfaat.
Dagangan makanan yang sepi karena banyak orang tidak berani keluar rumah, bisa jadi ladang sedekah. Coba sedekahkan saja sebagian pada buruh buruh yang duduk melamun di pinggiran itu, mereka yang bingung bagaimana mencari sesuap nasi.
Mudahkan aku mengatakannya? Ya karena begitu memang jalannya. Mau bagaimana lagi?

Banyak yang kehilangan pekerjaan akibat PHK sepihak. Bisa jadi Allah ingin tunjukkan pekerjaan yang lebih nyaman dan mudah bagi kita. Kita tidak tau keuangan di perusahaan itu, mungkin ada sedikit yang tidak halal. Allah tidak ingin harta kita jadi tercampur dengan yang tidak halal. Berpikir positif saja selalu.  Hanya perlu berserah dan bersabar sedikit.

Rahmat Allah itu hebat.
Tidak mungkin Allah berlepas diri dan menelantarkan kita.

Sebagian masyarakat kantoran, mungkin ada yang dipekerjakan dari rumah. Work from home. Aku salah satunya.
Enak kan? Enak alhamdulillah.
Walau gaji sempat tertahan dan tertunda di saat genting gentingnya, setidaknya lebih baik daripada tidak sama sekali.
Tapi jujur bagian sulitnya pun ada. Maaf kalau boleh ku katakan, karena terlalu lama di rumah, kondisi rumah tidak sestabil yang dikira. Sering crash dengan orang tua hanya karena perkara sepele dan sebagainya. Mondar mandir di kamar tidak produktif. Tidak ada tempat untuk bertukar pikiran seperti sebelumnya. Tekanan pekerjaan yang tak berubah.

Ku katakan ini, agar tidak perlu ada perasaan saling iri. Wah enak ya bisa kerja dari rumah saja? Wah enak ya tetap digaji. Ya biar bagaimana, tetap ada bagian sulitnya juga. Aku digaji, di satu sisi pendapatan orang tuaku jatuh ke bawah karena musibah ini, ya sama saja.
Tidak bermaksud ingkar nikmat, hanya ini bukan ranahnya untuk saling sinis membandingkan hidup kita.

Apapun yang terjadi selalu disyukuri, karena waktu istirahat jadi lebih banyak, waktu untuk bersama keluarga juga lebih banyak.

Hikmah selalu hadir.
Mengisi tiap sendi permasalahan.
Siapa yang mau membuka pikirannya, akan bisa menemukan hikmah ini. Siapapun yang menutup pikiran dan hatinya, hanya bisa merutuki tiap takdir yang terjadi.

Berkat pandemi ini, kita belajar menjaga diri dari ikhtilat/campur baur. Kita belajar menjaga jarak, tidak skinship bahkan pada sesama mahram. Kita belajar menahan diri untuk tidak menghabiskan waktu dalam kesia-siaan. Kita belajar untuk membuat prioritas dalam hidup. Kita belajar menjaga kebersihan, beradab dalam bersin atau batuk. Kita belajar peduli pada lingkungan sekitar, berbagi makanan atau uang.
Kita belajar prihatin.

***

Korban jiwa yang berjatuhan. Aku turut berduka sedalam dalamnya. Takdir Allah.

Tidak ada yang terdampak. Semua lapisan masyarakat terkena imbas musibah ini, aku juga merasakannya.
Semua terkena dampak sesuai dengan level sabar dan kelapangan yang Allah beri.

***

Kini pandemi covid19 tak lagi menjadi pandemi, namun berganti menjadi endemik.
Doaku, aku ingin semua pulih dan membaik.
Aku ingin hidup yang lebih baik, tapi semua akhirnya mengikuti persepsi Allah. Baik di mataku, belum tentu baik menurut Allah.

Apakah seperti ini baik untuk manusia, aku juga tidak mengerti. Hanya berusaha berbaik sangka atas semua yang Allah takdirkan. Hanya berharap Allah mengganti tangisan dan ratapan tiap jiwa dengan senyum dan tawa segera.
Berharap Allah mengampuni dosa dan kedzaliman yang tanpa sadari kita lakukan.

End.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Himdeureo

Jalan ini sulit, Apakah akan terasa mudah jika melaluinya bersamamu? Aku sekarang tidak mahir membuat tulisan panjang lebar lagi, mungkin karena aku tidak punya objek dalam tulisan ini. Tak ku tujukan pada siapapun, tak ku sematkan untuk siapapun. Tulisan tulisan tak bertuan. Miliki saja bila kau ingin. *** Aku ada disini. Dalam ratusan tulisan yang bisa kau baca tiap hari. Kau bisa mampir jika ingin. Kau bisa membacanya jika rindu. Seolah aku sedang bercakap di depanmu. Kau bisa membawaku dalam semua kegiatanmu. Saat kau menunggu antrian, saat kau sedang bosan, saat kau akan tidur. Aku selalu ada. Tapi bagiku, kau tidak ada dimanapun. Kau tidak bisa ku temukan dalam apapun. Kau tidak akan pernah hadir walau ku cari bertahun tahun. *** Aku membencimu, sebanyak aku ingin melupakanmu.

Selamat Berpisah, Tuan

Selamat berpisah, Tuan Terima kasih karena menyempatkan singgah ke pelukan gadis malang sepertiku, Terima kasih untuk antusiasmu yang hanya sebentar, Terima kasih telah membawakan aku sebongkah harapan yang merekah, Terima kasih sebab menjadi mimpi baikku sampai sekarang. Kamu benar Tuan, kurasa ini karmaku, Karena telah menyia-nyiakanmu, Karena berbohong padamu dan pada perasaanku, Aku sedikit menyesal, Tuan. Mestinya aku mengaku. Tapi apakah itu akan mengubah hari ini? Apakah dengan kejujuranku, kamu tidak akan pergi? Aku meraba-raba, kenangan kita di masa lampau, Kamu hadir di saat aku sangat terjebak dalam kubangan gelap pikiranku, Kamu menawarkan cinta tulus nan sederhana. Lantas, semudah itu perasaanmu berubah Tuan Apakah tak ada sedikit pun rasa yang tertinggal? Aku memang gadis bodoh. Benar aku bagus dalam pelajaran, Tapi sangat bodoh dalam perasaan, Aku ingin membencimu Tuan, Tapi hatiku berontak, Penat. Selamat berpisah, Tuan Aku mengikhlaskanmu. Aku tak apa. Sudah biasa. Han...
Mau produktif menulis, tapi makin kesini makin membuncah rasa malasku, Hati yang khawatir, cemas berkepanjangan, tiba tiba datang menyerang, Aku ingin produktif, tapi terlalu malas

Takdir

Ada yang mengejarku selama ini, aku menghindar. Entah apa yang salah, mungkin aku membenci caranya mendekatiku. Setiap perhatiannya memuakkan. Aku juga kebingungan dengan diriku ini. Ternyata memaksakan diri jatuh cinta memang tidak mudah. Mungkin begitulah aku di matamu? Seketika itu aku bercermin. Melihat pantulan diriku yang begitu hebat masih mengejarmu. Mungkin kamu sangat terganggu dan kebingungan menghindariku. Dasar aku, kamu, dan takdir ini.

Kejujuran itu Terlampau Mahal

Hari ini aku berdiri di hadapan banyak pasang mata siswaku, sambil menggenggam puluhan lembar kertas soal.  Minggu lalu kami mengadakan PTS menggunakan aplikasi yang diakses dengan HP. Jaman semakin canggih, bahkan menjawab soal seperti ini saja diharuskan menggunakan teknologi. Ku akui memang lebih mudah menggunakan teknologi ini, tak payah kami mengoreksi jawaban satu satu dengan sebelumnya melubangi LJK pakai obat nyamuk. Walau katanya Lembar Jawaban Komputer, tetap saja mengoreksinya manual. Tapi begitulah~ Itu beberapa tahun silam. Meski kami tak bau asap obat nyamuk lagi, nyatanya teknologi selalu punya celah untuk dikeluhkan. Anak anak lebih suka berlelah lelah mempelajari tips dan trik untuk curang, ketimbang tips dan trik menjawab soal dengan mudah. Kalau guru punya 1001 cara untuk meminimalisir kecurangan, siswa juga punya 1001 cara menyiasati agar bisa curang. Apakah kecurangan senikmat itu? Hingga mereka lebih suka berkubang di dalamnya? Hari ini aku mengulang PTS itu. ...

Menelan Kekalahan

Kini aku tau, dampak yang harus ditanggung dari kalimat sederhana yang sering didengungkan, kalimat "yang penting ikut". Ternyata tidak sederhana kedengarannya. Berawal dari menggugurkan kewajiban, berakhir pada totalitas tanpa batas atas nama tanggung jawab dan idealisme. Aku diminta membimbing lomba. Aku sangat tidak tau apa apa, belum pernah ikut sama sekali. Dan kalau dipikir pikir, bukan bidangku juga. Tapi semua guru di muka bumi ini juga mengalami hal serupa. Sering lintas bidang yang dikuasai. Lulusan apa, tiba tiba mengajar apa. Ternyata hal seperti itu sudah jadi makanan sehari-hari. Singkat cerita aku mengerahkan seluruh tenaga, waktu, pikiran, bahkan uangku. Tapi tak apa. Aku akan melakukan yang terbaik. Begitu juga anakku, dia harus mendapatkan bimbingan yang terbaik dari aku. Dia juga bahkan harus mendapat dukungan moral (yang aku sendiri tertatih tatih memupuk diriku) setiap waktu. Aku mempelajari dengan seksama isi juknis, aku mempelajari semua material yang k...

Sang Pembaharu

Jujur sebagai manusia biasa yang sedikit idealis, aku cukup lelah mental dan fisik. Belakangan ini dunia semakin bercanda. Negara semakin melucu. Dan makin banyak manusia dengan ambisinya yang beragam, aku tentu berharap ambisinya baik untuk dunia, namun semua itu hanya khayalanku saja. Bahkan tanpa ambisi itu, iklim dunia saja sudah amburadul. Pemanasan global, cuaca ekstrem, dan ancaman kerusakan bumi yang tak main main. Malah sebagian manusia rakus nan tamak justru dengan kesadaran penuhnya, makin semangat dan gelap mata merusak bumi gila gilaan. Ugh. Masalah tiap harinya makin banyak. Baru saja membuka mata di pagi hari, gempuran berita buruk bermunculan. Aku sampai kebingungan dan berharap tidak tau apa apa. Sebagai manusia, aku seperti punya tanggung jawab untuk menjaga lingkungan dan moral di negara yang morat marit ini. Terlebih peranku sebagai guru, aku makin harus 'ideal' untuk menyadarakan ratusan siswaku agar mereka juga mau berkontribusi demi kehidupan yang lebih b...

Ikhtiarnya Siti Hajar

Nasihat, ceramah, motivasi, dan semua perkataan perkataan dari pihak lain, baru bisa menembus diri kita saat kita memang sedang berada dalam posisi tersebut.  Misal, sedang bahagia, tapi mendengar ceramah tentang "kesedihan", ya lebih sering lewat begitu saja kan ceramahnya? Karena kita tidak sedang di posisi itu. *** Tadi pagi, dapat rekomendasi video Ustadz Adi Hidayat tentang konsep rejeki dari yutub.  Langsung nyes. Mengangguk angguk takjim. Sambil mau nangis. Hehe.  Ibunda Siti Hajar bersama anaknya, Nabi Ismail yang baru lahir, dibawa oleh Nabi Ibrahim ke sebuah lembah tandus. Kemudian ditinggalkan begitu saja. Siti Hajar bertanya pada suaminya, "apakah ini perintah Allah?", Nabi Ibrahim mengiyakan. Siti Hajar lalu menjawab, "kalau begitu, Allah tidak akan menyianyiakan hambaNya". Hingga peristiwa yang diabadikan dalam rangkaian ibadah Haji itu terjadi.  Nabi Ismail menangis, kehausan dan kelaparan. Sementara air susu ibunya sudah kering. Lalu Ibunda...

Tangga Nada

Kurang random apalagi sih aku? Ke toko, malah naksir mas random? Tapi ngalamin starstruck (star in my heart) wkwk Aku selama ini nggak pernah memperhatikan. Entah kenapa minggu itu kayak, kok mas ini manis sih? Udah gitu tinggi dan lembut juga. Tapi akuuuuu masih merasa bodo amat. Walau ketika pulangnya, ada perasaan aneh kayak...aku suka deh sama masnya🥲 Ada momen dia nyamperin aku dan aku blank, diem, suara parau. Kesal😭 Kenapa harus parau? Kenapa aku tidak menanggapi dengan sangat berterima kasih dan ngobrol dikit? Huuu Di jalan aku nyesel, kepikiran🥲 Waktu aku cerita sama temen temenku, mereka semua kayak satu suara dengan bilang, hayok lah kita kesana, siapa tau ketemu, kita samperin tanya nama dan wa-nya. Aku yang panik! Tapi sampai sekarang aku masih kepikiran😥 Aku pernah ketemu lagi, di tempat yang sama, dan yaudah nggak ada apa apa. Bahkan papasan juga nggak. Aku cuman ngeliatin dari jauh. Apakah semesta gak mendukung? Sedih banget, sampai aku agak cry dikit waktu ngobrol ...

My Hardest Part (1)

Bismillahirrahmanirrahim... Aku akan memberanikan untuk membuka sebuah luka dalam hidupku. Ini tentang sesuatu yang menimpaku setahun yang lalu. Jika ada dari kalian yang merasa tidak nyaman dengan tulisan ini, bisa skip saat ini juga. Tulisan ini entah akan jadi berapa bagian. Saking panjang dan lamanya. *** Kalian mungkin pernah mampir ke tulisanku di bulan maret 2023, judulnya NKTCTHI (Nanti Kita Tidak Cerita Tentang Hari Ini) yang juga ada part 2-nya .  Aku kekeuh selama itu tidak ingin membuka luka ini di blog-ku, karena aku masih beranggapan ini adalah sebuah aib. Tapi waktu berlalu, banyak pengalaman yang ku dapat, banyak artikel dan cerita orang lain bersliweran, yang membuat aku mengerti bahwa ini bukanlah aib, dan tak apa kalau kita terbuka membicarakan ini. Luka ini seperti luka luka lain yang normal untuk dimiliki dan bisa sembuh. Luka ini bisa terjadi pada siapa saja. Luka ini pun bukanlah dosa, jadi tak apa. Tujuan aku menceritakan luka ini adalah aku sangat berharap...