Langsung ke konten utama

Prakerja Part 1

Assalamu'alaikum :) 

Mau ceritain hal yang...baik dan aneh.
Kok gitu? 
Ya makanya baca dulu sampai abis postingan kali ini. 

Jadi hari jumat kemarin, ada temen pada ngebahas pelatihan prakerja dapat uang 600 ribu. Alhamdulillah takdirnya ada di kantor saat itu dan ngedenger pembahasan itu juga. Jadilah aku nyoba peruntungan ikutan daftar prakerja.

Didasari dari bersiap menuju tulang punggung keluarga, insentif dari sekolah dipotong, dan susah banget nyari tambahan dari sumber lain, pas denger bisa dapat uang dari prakerja gini, aku langsung super excited. 
Daftar saat itu juga, ngejalanin tes, dan nunggu pengumuman beberapa hari kedepan.

Dalam hati, bener bener berharap lolos :(
Soalnya perlu uang banget banget. 

Beberapa bulan sebelumnya, aku lumayan tertekan karena sangat perlu tambahan.. Cuman mikir gimana cara dapat tambahan tapi bisa dari rumah aja dan waktunya fleksibel. Ya gak semudah itu kan?

Mikir mau balik ngajar bimbel lagi, tapi kok rasanya berat.
Dirumah sejujurnya pulang kerja gak full istirahat, tapi ngebantuin jualan sampai sore. Jadi kayak mau ngajar bimbel lagi lumayan banyak pertimbangan. 

Sempet juga ke rumah ketua RT ku buat nanyain tawaran jadi petugas pemilu buat desember akhir taun ini. Kan denger denger kerjanya memang seharian tapi uangnya dapat 400-600ribu. Aku berusaha melawan riwayat sakit maag dan tifusku. Mendoktrin diri bahwa aku bisa aja kok kuat kerja full. 
Tapi memang rejekinya bukan disitu, ternyata udah ada yang ngisi buat jadi petugas pemilunya. 
Walau kecewa, cuman dalam hati mikir rencana Allah, mungkin kalau keterima, fisikku gak kuat... Atau bisa jadi ada kecurangan yang terjadi dan aku turut ambil andil disitu. Wallahualam. 

Dan aku cukup berpuas diri mencoba peruntungan di prakerja ini. Berharap banget. Perlu banget :(

Terus kemarin itu pengumumannya, temenku bilang sebelum subuh dia cek, udah ada. Btw temenku udah lolos gelombang 7, aku ikutan gelombang 8 ini.

Qadarullah, internet dua hari lalu itu down parah sampe mau nangis.. Soalnya waktu itu aku pas lagi kerja dan memang bergantung sama internet. Plus aku habis minum es kopi dan malam itu juga perutku mules, maagnya kambuh. 

Akhirnya nggak bisa tidur sampai jam 12 malam. Yaudah login aja prakerja, mau liat pengumuman. Ternyata masih nggak bisa tersambung internetnya. 
Aku bahkan ngendap ngendap mau ngidupin hotspot dari hp ibuku, tapi hp nya jauh bener di kamar doi kan. Ya nggak jadi. 
Sampai jam 1 malam, bisa akhirnya internetan. Langsung login dan... "Kamu belum berhasil :( kuota gelombang ini sudah penuh"
Aku sedih. Hehe

Terus aku buru buru wa temenku, ngasih tau kalau aku belum berhasil. Temenku bobok rupanya (yaiyalah jam 1 dini hari). 

Paginya aku cerita ke temenku yang lain, ku bilang "Aku daftar prakerja, belum berhasil. Sedih. Si A kayaknya lolos deh, punya dia katanya sedang dievaluasi. Yagapapa, kayaknya dia lebih perlu. Tapi sedih soalnya aku gaptek, nggak ada temennya daftar gelombang berikutnya".
Hehe
Waktu temenku prakerjanya masih dievaluasi dan kemungkinan lolosnya 90 persen, aku sedih. Bukan iri. Tapi sedih karena aku selemah itu. Hehe. Gak terlalu paham hal kayak gini, jadi kalau ngejalanin sendirian, takut. Pengennya barengan. 

Anyway akhirnya aku yaudah ikhlasin. Setiap orang punya rejekinya masing masing. 
Tapi bahkan sampai beberapa jam yang lalu aku masih mikir, andai keterima ya prakerja, solusi banget di saat gini. Sambil mewek. 

Tiba tiba, jam 9 malam tadi, waktu aku lagi berniat nyari klip BTS in The Soop dari IG, aku dapat SMS dari prakerja! 
Disuruh ngecek, katanya aku dapat kartu prakerja. Lah? Kok bisa? 

Langsung login ngecek... Malah dimintain rekening soalnya dapat biaya sejuta buat ngikutin pelatihannya! Kemarin kan belum berhasil? Kepenuhan kuota? Terus ini malah dimintain rekening gimana. 

Aku tanyain temenku yang udah lolos gelombang 7, ini maksudnya apa. Dia bilang "ya Allah gemes, itu lolos namanya"! 

Alhamdulillah aneh kan? Hihiii
Tapi happy banget. 
Yang awalnya mikir, kalau lolos gimana ngejalanin pelatihannya yang banyak banget itu?, akhirnya setelah dapat kabar gini aku bertekad "aku bakalan sungguh sungguh ngikutin semua pelatihannya dan dapat uang buat bantuin keperluan rumah"
Hiks :') 

Alhamdulillah banget. Gak tau lagi harus ngomong apa :) 

Buat banyak orang, bisa lolos prakerja demi 600ribu itu luar biasa. Walau ada sebagian yang Allah udah titipin rejeki lebih di kantongnya mungkin mikir program prakerja ini gak jelas. 
Padahal banyak orang berharap sama program ini karena penghasilan mereka pas pasan atau tanggungan mereka banyak. Dan ini jelas aja kok, bantuan pemerintah buat ikut kegiatan pelatihan daring! Apanya yang gak jelas :(

Tolong jangan mematahkan hati orang lain dengan kalimat arogan gitu.

Jujur aku sakit hati waktu ngajakin temenku buat ikutan daftar prakerja ini dan dia daftar sambil nyaut "ya ikutan gini sih iseng iseng berhadiah".
Padahal aku dalam hati berharap banget dapat, karena bahkan walau insentifnya 100ribu aja, aku kejar. Karena perekonomian masing masing orang sangat beda. Orang kaya anggap 10ribu cuman uang lecek, tapi buat masyarakat menengah ke bawah, ini tuh banyak! 

Yah intinya, aku bersyukur sudah dikasih jalan buat jemput rejeki Allah yang lainnya. Semoga halal dan berkah. Aku bakalan berusaha dengan sebaik baiknya, semoga Allah berikan kelancaran dan kemudahan. 

Buat temen temen yang saat ini struggle sama perekonomiannya, keep your chin up, terus berdzikir, berdoa, berusaha sesuai kemampuan kalian. Semoga pintu langit terketuk akan usaha dan kesungguhan kalian :) aamiin insya Allah. 

Bye. Selamat mengikuti pelatihan prakerja! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Himdeureo

Jalan ini sulit, Apakah akan terasa mudah jika melaluinya bersamamu? Aku sekarang tidak mahir membuat tulisan panjang lebar lagi, mungkin karena aku tidak punya objek dalam tulisan ini. Tak ku tujukan pada siapapun, tak ku sematkan untuk siapapun. Tulisan tulisan tak bertuan. Miliki saja bila kau ingin. *** Aku ada disini. Dalam ratusan tulisan yang bisa kau baca tiap hari. Kau bisa mampir jika ingin. Kau bisa membacanya jika rindu. Seolah aku sedang bercakap di depanmu. Kau bisa membawaku dalam semua kegiatanmu. Saat kau menunggu antrian, saat kau sedang bosan, saat kau akan tidur. Aku selalu ada. Tapi bagiku, kau tidak ada dimanapun. Kau tidak bisa ku temukan dalam apapun. Kau tidak akan pernah hadir walau ku cari bertahun tahun. *** Aku membencimu, sebanyak aku ingin melupakanmu.

Selamat Berpisah, Tuan

Selamat berpisah, Tuan Terima kasih karena menyempatkan singgah ke pelukan gadis malang sepertiku, Terima kasih untuk antusiasmu yang hanya sebentar, Terima kasih telah membawakan aku sebongkah harapan yang merekah, Terima kasih sebab menjadi mimpi baikku sampai sekarang. Kamu benar Tuan, kurasa ini karmaku, Karena telah menyia-nyiakanmu, Karena berbohong padamu dan pada perasaanku, Aku sedikit menyesal, Tuan. Mestinya aku mengaku. Tapi apakah itu akan mengubah hari ini? Apakah dengan kejujuranku, kamu tidak akan pergi? Aku meraba-raba, kenangan kita di masa lampau, Kamu hadir di saat aku sangat terjebak dalam kubangan gelap pikiranku, Kamu menawarkan cinta tulus nan sederhana. Lantas, semudah itu perasaanmu berubah Tuan Apakah tak ada sedikit pun rasa yang tertinggal? Aku memang gadis bodoh. Benar aku bagus dalam pelajaran, Tapi sangat bodoh dalam perasaan, Aku ingin membencimu Tuan, Tapi hatiku berontak, Penat. Selamat berpisah, Tuan Aku mengikhlaskanmu. Aku tak apa. Sudah biasa. Han...
Mau produktif menulis, tapi makin kesini makin membuncah rasa malasku, Hati yang khawatir, cemas berkepanjangan, tiba tiba datang menyerang, Aku ingin produktif, tapi terlalu malas

Takdir

Ada yang mengejarku selama ini, aku menghindar. Entah apa yang salah, mungkin aku membenci caranya mendekatiku. Setiap perhatiannya memuakkan. Aku juga kebingungan dengan diriku ini. Ternyata memaksakan diri jatuh cinta memang tidak mudah. Mungkin begitulah aku di matamu? Seketika itu aku bercermin. Melihat pantulan diriku yang begitu hebat masih mengejarmu. Mungkin kamu sangat terganggu dan kebingungan menghindariku. Dasar aku, kamu, dan takdir ini.

Kejujuran itu Terlampau Mahal

Hari ini aku berdiri di hadapan banyak pasang mata siswaku, sambil menggenggam puluhan lembar kertas soal.  Minggu lalu kami mengadakan PTS menggunakan aplikasi yang diakses dengan HP. Jaman semakin canggih, bahkan menjawab soal seperti ini saja diharuskan menggunakan teknologi. Ku akui memang lebih mudah menggunakan teknologi ini, tak payah kami mengoreksi jawaban satu satu dengan sebelumnya melubangi LJK pakai obat nyamuk. Walau katanya Lembar Jawaban Komputer, tetap saja mengoreksinya manual. Tapi begitulah~ Itu beberapa tahun silam. Meski kami tak bau asap obat nyamuk lagi, nyatanya teknologi selalu punya celah untuk dikeluhkan. Anak anak lebih suka berlelah lelah mempelajari tips dan trik untuk curang, ketimbang tips dan trik menjawab soal dengan mudah. Kalau guru punya 1001 cara untuk meminimalisir kecurangan, siswa juga punya 1001 cara menyiasati agar bisa curang. Apakah kecurangan senikmat itu? Hingga mereka lebih suka berkubang di dalamnya? Hari ini aku mengulang PTS itu. ...

Menelan Kekalahan

Kini aku tau, dampak yang harus ditanggung dari kalimat sederhana yang sering didengungkan, kalimat "yang penting ikut". Ternyata tidak sederhana kedengarannya. Berawal dari menggugurkan kewajiban, berakhir pada totalitas tanpa batas atas nama tanggung jawab dan idealisme. Aku diminta membimbing lomba. Aku sangat tidak tau apa apa, belum pernah ikut sama sekali. Dan kalau dipikir pikir, bukan bidangku juga. Tapi semua guru di muka bumi ini juga mengalami hal serupa. Sering lintas bidang yang dikuasai. Lulusan apa, tiba tiba mengajar apa. Ternyata hal seperti itu sudah jadi makanan sehari-hari. Singkat cerita aku mengerahkan seluruh tenaga, waktu, pikiran, bahkan uangku. Tapi tak apa. Aku akan melakukan yang terbaik. Begitu juga anakku, dia harus mendapatkan bimbingan yang terbaik dari aku. Dia juga bahkan harus mendapat dukungan moral (yang aku sendiri tertatih tatih memupuk diriku) setiap waktu. Aku mempelajari dengan seksama isi juknis, aku mempelajari semua material yang k...

Sang Pembaharu

Jujur sebagai manusia biasa yang sedikit idealis, aku cukup lelah mental dan fisik. Belakangan ini dunia semakin bercanda. Negara semakin melucu. Dan makin banyak manusia dengan ambisinya yang beragam, aku tentu berharap ambisinya baik untuk dunia, namun semua itu hanya khayalanku saja. Bahkan tanpa ambisi itu, iklim dunia saja sudah amburadul. Pemanasan global, cuaca ekstrem, dan ancaman kerusakan bumi yang tak main main. Malah sebagian manusia rakus nan tamak justru dengan kesadaran penuhnya, makin semangat dan gelap mata merusak bumi gila gilaan. Ugh. Masalah tiap harinya makin banyak. Baru saja membuka mata di pagi hari, gempuran berita buruk bermunculan. Aku sampai kebingungan dan berharap tidak tau apa apa. Sebagai manusia, aku seperti punya tanggung jawab untuk menjaga lingkungan dan moral di negara yang morat marit ini. Terlebih peranku sebagai guru, aku makin harus 'ideal' untuk menyadarakan ratusan siswaku agar mereka juga mau berkontribusi demi kehidupan yang lebih b...

Ikhtiarnya Siti Hajar

Nasihat, ceramah, motivasi, dan semua perkataan perkataan dari pihak lain, baru bisa menembus diri kita saat kita memang sedang berada dalam posisi tersebut.  Misal, sedang bahagia, tapi mendengar ceramah tentang "kesedihan", ya lebih sering lewat begitu saja kan ceramahnya? Karena kita tidak sedang di posisi itu. *** Tadi pagi, dapat rekomendasi video Ustadz Adi Hidayat tentang konsep rejeki dari yutub.  Langsung nyes. Mengangguk angguk takjim. Sambil mau nangis. Hehe.  Ibunda Siti Hajar bersama anaknya, Nabi Ismail yang baru lahir, dibawa oleh Nabi Ibrahim ke sebuah lembah tandus. Kemudian ditinggalkan begitu saja. Siti Hajar bertanya pada suaminya, "apakah ini perintah Allah?", Nabi Ibrahim mengiyakan. Siti Hajar lalu menjawab, "kalau begitu, Allah tidak akan menyianyiakan hambaNya". Hingga peristiwa yang diabadikan dalam rangkaian ibadah Haji itu terjadi.  Nabi Ismail menangis, kehausan dan kelaparan. Sementara air susu ibunya sudah kering. Lalu Ibunda...

Tangga Nada

Kurang random apalagi sih aku? Ke toko, malah naksir mas random? Tapi ngalamin starstruck (star in my heart) wkwk Aku selama ini nggak pernah memperhatikan. Entah kenapa minggu itu kayak, kok mas ini manis sih? Udah gitu tinggi dan lembut juga. Tapi akuuuuu masih merasa bodo amat. Walau ketika pulangnya, ada perasaan aneh kayak...aku suka deh sama masnya🥲 Ada momen dia nyamperin aku dan aku blank, diem, suara parau. Kesal😭 Kenapa harus parau? Kenapa aku tidak menanggapi dengan sangat berterima kasih dan ngobrol dikit? Huuu Di jalan aku nyesel, kepikiran🥲 Waktu aku cerita sama temen temenku, mereka semua kayak satu suara dengan bilang, hayok lah kita kesana, siapa tau ketemu, kita samperin tanya nama dan wa-nya. Aku yang panik! Tapi sampai sekarang aku masih kepikiran😥 Aku pernah ketemu lagi, di tempat yang sama, dan yaudah nggak ada apa apa. Bahkan papasan juga nggak. Aku cuman ngeliatin dari jauh. Apakah semesta gak mendukung? Sedih banget, sampai aku agak cry dikit waktu ngobrol ...

My Hardest Part (1)

Bismillahirrahmanirrahim... Aku akan memberanikan untuk membuka sebuah luka dalam hidupku. Ini tentang sesuatu yang menimpaku setahun yang lalu. Jika ada dari kalian yang merasa tidak nyaman dengan tulisan ini, bisa skip saat ini juga. Tulisan ini entah akan jadi berapa bagian. Saking panjang dan lamanya. *** Kalian mungkin pernah mampir ke tulisanku di bulan maret 2023, judulnya NKTCTHI (Nanti Kita Tidak Cerita Tentang Hari Ini) yang juga ada part 2-nya .  Aku kekeuh selama itu tidak ingin membuka luka ini di blog-ku, karena aku masih beranggapan ini adalah sebuah aib. Tapi waktu berlalu, banyak pengalaman yang ku dapat, banyak artikel dan cerita orang lain bersliweran, yang membuat aku mengerti bahwa ini bukanlah aib, dan tak apa kalau kita terbuka membicarakan ini. Luka ini seperti luka luka lain yang normal untuk dimiliki dan bisa sembuh. Luka ini bisa terjadi pada siapa saja. Luka ini pun bukanlah dosa, jadi tak apa. Tujuan aku menceritakan luka ini adalah aku sangat berharap...