Memilih mundur dan berhenti dari sebuah komunitas ngaji, tentu bukan keputusan yang mudah. Tapi keputusan berhenti itu tak lantas membuatmu khianat terhadap Tuhanmu.
***
Sudah bertahun tahun aku bersama komunitas ini. Semua pengalaman dan ilmunya, membuatku bertumbuh menjadi lebih baik.
Tapi jenuh sudah pasti ada. Satu tahun terakhir ini aku bergumul dengan perasaan tidak menentu. Tiap rasa malas itu mendera, aku selalu mencari motivasi untuk melawannya. Hanya saja aku sudah kehabisan motivasi itu. Seribu satu motivasi tetap tak membantu.
Aku hanya perlu mengakui bahwa aku jenuh, lelah, dan perlu suasana baru.
Aku benci pandangan mata itu, yang mengisyaratkan kemunduranku sebagai bentuk futur dan khianat.
Sepertinya ada banyak yang perlu diperbaiki dari cara pandangmu itu.
Bahkan untuk berhenti saja, perlu mengumpulkan keberanian jua. Tak mudah. Semua terasa sulit.
Tudingan itu, tatapan mata itu, perspektif negatif.
Tentu disertai dengan kalimat memojokkan dan menyudutkan.
Aku dihakimi habis habisan.
Aku semakin lelah saja.
Keputusan ini tepat. Sudah saatnya aku berhenti.
Tak bergabung ngaji bukan berarti tak beriman. Ku harap kamu memahami itu.
Aku hanya tak bisa beriringan lagi, bukan berarti aku membenci komunitas ini. Aku hanya perlu jeda. Perlu istirahat.
Aku seperti tak boleh lelah.
Aku hanya berharap Allah tetap melindungiku selalu. Sebab aku menjadi kecil saat ini.
Komentar
Posting Komentar