Hidup ini seperti roller coaster.
Mana ada hidup yang mulus seperti mimpimu?
Justru yang hadir seperti dentuman petir menggelegar dan hujan yang rintiknya mengenai tubuhmu bertubi-tubi tanpa ampun.
***
Aku punya keinginan kecil yang ku sebut dengan sungguh, tapi tak ku wujudkan sebab mustahil. Jalan ke Palangka dengan Dahlia, sobi kuliahku dulu, sekadar menyusuri lagi jalanan Palangka dan bersua dengan dosen kami.
Tapi tahun berlalu, keinginan itu terwujud tanpa rencana matang. Aku tiba tiba saja ke Palangka bersama Dahlia mewakili lomba MGMP kami.
Dan di sela sela itu, kami punya waktu luang di siang hari untuk jalan, kami sempatkanlah mewujudkan keinganan kecil itu.
Tapi ternyata keinginan sederhana nan sepele itu sulit juga dijalankan dengan mulus.
Kami salah rute kampus, kami harus jalan kaki puluhan meter, sudahlah badan kami ini belum pulih betul, remuk redam sebab perjalanan jauh ke Palangka, ini rasanya dengkul sudah mau jejeritan karena kami paksa jalan. Kami duduk di pinggiran jembatan kampus, berkali kali menyesal dan ingin kembali saja, tapi kami coba jalan lagi, menyesal lagi, sampai ada tukang ojek onlen yang kami berhentikan nekat. Kami naik ojek itu untuk mengantar kami ke kampus yang dituju. Ya Allah, aneh sekali perjalanan ini.
Dengan semua jerih payah itu, tak ada satu pun dosen yang kami temui, semua sibuk ujian. Bahkan kelas pun tutup. Tak ada perkuliahan.
Sesederhana itu saja, keinginan kecil yang baik itu tak jua bisa terwujud dengan sempurna.
Ternyata, hidup memang tak pernah sempurna.
***
Di penghujung tahun ini juga, ku tutup dengan agenda ke psikolog. Agenda memuakkan. Setelah absen dua tahun tanpa konseling profesional. Aku kesana lagi.
Ada perasaan aneh di ingatan.
Sebab rasanya luka itu menganga lagi. Lubang hitam pekat di dalam dadaku, mengintai dan menelisik tiap detik hidupku. Kilatan menyakitkan kejadian masa lalu, yang membuatku terpuruk dan tersungkur tak berdaya, semua tampak jelas di depan mata. Tiga bulan tak bekerja, tiap menit diiringi air mata, bolak balik RS, hanya makan tiga sendok sehari, wajah kuyu, badan layu, pikiran berhamburan bergejolak tak kenal lelah.
Sungguh aku tak sudi mengulang pengalaman itu lagi. Cukup sekali. Aku ingin hidup normal.
Tapi begitulah hidup roller coaster tadi.
"Apakah kamu mengira setelah kamu menggaungkan imanmu, lantas kamu tak akan diuji?"
Nah!
Diuji lagi.
Aku si kecil cengeng ini. Dengan dada sesak sempit, pikiran penuh, air mata sudah di pelupuk. Tangan gemetar, badan lemah, aku berusaha bertahan.
Aku ingin menanti hadiah dari Allah. Katanya Allah akan memberikan hadiah bagi hambaNya yang sabar. Ini ya Allah, aku disini. Aku masih menunggu apa yang akan Engkau berikan padaku.
***
Hidup ini, hakikatnya memang tak pernah mulus.
Begitulah aku kemudian memaknai hidup.
Tak ada yang sempurna, semua punya luka.
Baguslah kita sudah bertahan. Nanti Allah saja yang mengobati lukanya, sebab kita tak bisa apa apa. Hanya bisa berdoa, berbaik sangka, lagi dan lagi.
Selamat menempuh lembaran baru.
Satu hari di 2026.
Komentar
Posting Komentar