Langsung ke konten utama

Featured post

Mood Booster❤

Bismillahirrahmanirrahim Sebaik-baik mood booster, adalah kalimat Allah. Buat kalian yang sedang bersedih. Semoga membantu. Terjemahan Al Quran, surah Fushilat. 30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: " Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu " 31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. From me, with a lot of love❤❤❤

Pandemi Covid19 Jilid 2

Sistem pemerintahan mulai kacau.
Perekonomian, sosial, hingga pendidikan.

Tradisi yang telah dijaga turun temurun tanpa syarat mulai berangsur ditelisik darurat tidaknya. Seperti tradisi ujian, wisuda, belajar di kelas, jabat tangan, upacara, ibadah, perayaan, dan hal hal lainnya. Semua mulai dibenahi, atau bahkan ditiadakan.

Ujian dihapuskan, wisuda daring, belajar dari rumah, jabat tangan dihindari, ibadah di rumah, perayaan ditiadakan sementara. Demi keselamatan bersama.

Masyarakat yang awalnya abai, mulai belajar berkompromi. Tapi tidak sedikit juga yang masih bikin sesak di dada, karena masih enggan diatur.

Tak hanya masyarakat, pemerintah yang kebingungan juga menerbitkan peraturan yang sama bingungnya.
Seperti kasus menjelang lebaran yang melelahkan.
Antara ketatnya lock down, bolehnya pulang kampung, larangan mudik, atau himbauan stay dirumah aja.
Lebih memusingkan ketimbang memilih jodoh apartur negara atau pegawai swasta.

Hari demi hari, mimpi buruk tak kunjung berhenti.
Mungkin mimpi bertemu jin ifrit jauh lebih baik daripada mimpi corona ini. Karena bangun dari tidur pun tak jua menjadi solusi.

Mimpi buruk masyarakat kelas menengah ke bawah yang terbawa sampai ke alam sadarnya.
Mimpi pemutusan hubungan kerja, potong gaji, penundaan gaji, tidak ada kiriman uang, kelaparan dan kehausan yang mencekik, intaian tindak kriminal, tunggakan BPJS yang ambigu, biaya sekolah yang bagai buah simalakama, masalah kesehatan yang sama peliknya.

Mimpi ini tapi tidak berlaku bagi masyarakat kelas atas.
Mereka tetap bisa bekerja dari rumah saja, atau berpergian dengan kendaraan roda empat yang sedikit lebih aman ketimbang terpapar virus atau debu jalanan, mereka sanggup menyetok sembako untuk satu dua bulan, bahkan kalaulah sembako bisa bertahan satu tahun, akan mereka stok. Mereka bisa menyuplai kesehatan dengan berbagai vitamin, buah sayur organik nan sehat, daging ikan dan berbagai produk sehat lainnya.

Hak mereka, karena mereka tidak mendzalimi siapapun.
Hanya ingin menuliskan ironi saja.

***

Namun hal ini tentu tidak luput dari perhatian pemerintah dan kaum influencer.
Berbagai upaya untuk membantu sesama mulai ramai digalakkan.
Bantuan APD, alat medis, sembako mulai meluas.

Pemerintah menganggarkan sekian ratus ribu untuk menjamin keberlangsungan hidup tiap keluarga kurang mampu. Walau entah kenapa ada saja oknum yang sampai hati mencurangi, bahkan di tengah perkara hidup mati seperti ini. Mulai dari bantuan yang hanya tinggal separuh ketika sampai di pintu rumah atau bantuan yang sampai ke rumah anggota DPR.

Para influencer tak mau kalah.
Banyak juga yang berlomba lomba membagikan bingkisan beras, masker, atau uang tunai kepada pekerja harian atau buruh yang luntang lantung di jalanan.
Bagaimana aku tau? Mudah saja, tinggal menonton di channel Youtube dari rumah.
Apapun itu, setidaknya mereka sudah membantu, bergerak, dan membawa perubahan. Tidak sepertiku yang hanya jadi penonton saja. Kadang terenyuh, kadang terkesima.

***

Kalau ku tulis semua, ku rasa artikel ini sampai jilid 1001 saking banyaknya problematika.
Tapi sekali lagi ku katakan, aku sangat tidak berkapasitas menyoroti hal ini lebih jauh.
Maaf untuk tulisan yang tidak nyaman dibaca, tapi itu hanya pemikiran gamblang di kepala awam sepertiku.

***

Apakah ini musibah? Atau rahmat?
Tiap orang memiliki persepsinya masing masing.

Satu kali pandemi ini menjadi musibah, kali lain menjadi rahmat.
Semua tergantung dari bagaimana kita menyikapi.

Anggaplah ini musibah. Allah timpakan karena selama ini kita sudah melampaui batas. Sudah dzalim, lalai, angkuh, sudah seenak jidatnya saja.
Kita sering hang out tak kenal waktu, beberapa orang justru tiap malam melipir ke diskotik, karaoke atau tempat hiburan yang melalaikan. Kadang juga rela pergi ke konser, berdesak desakan, histeris meneriaki idolanya. Lupa waktu shalat, karena antri sejak sore hingga petang.

Kita juga lengah menjaga kebersihan. Padahal ianya adalah sebagian dari iman.

Maka Allah berikan kita musibah agar kita mawas diri. Introspeksi. Lantas bertaubat.
Allah ingin kita menyadari bahwa sehebat apapun kita, ternyata dihadapkan pada virus tak kasat mata saja kita menciut.
Sebagaimana Namrud yang dikalahkan oleh seekor nyamuk (dalam riwayat lain dikatakan seekor lalat).

Berkat virus ini, tempat hiburan ditutup. PSBB dijalankan. Konser dibatalkan.
Sorry not to say sorry. Aku tidak membicarakan nasib pegawai yang bekerja di tempat itu, Allah yang mengendalikan rejekinya. Allah pasti tunjukkan jalan keluar untuk mereka.

Corona ini bisa juga adalah rahmat.
Saat yang tepat untuk sedikit beristirahat. Sejenak melupakan urusan duniawi dan lebih mendekat pada Allah.
Orderan sepi, job sepi, dagangan tidak laku sejak pagi. Entahlah. Mungkin Allah ingin kita menggunakan waktu menunggu rejekinya itu dengan banyak berdzikir, membaca sirah nabawiyah, atau hal lain yang manfaat.
Dagangan makanan yang sepi karena banyak orang tidak berani keluar rumah, bisa jadi ladang sedekah. Coba sedekahkan saja sebagian pada buruh buruh yang duduk melamun di pinggiran itu, mereka yang bingung bagaimana mencari sesuap nasi.
Mudahkan aku mengatakannya? Ya karena begitu memang jalannya. Mau bagaimana lagi?

Banyak yang kehilangan pekerjaan akibat PHK sepihak. Bisa jadi Allah ingin tunjukkan pekerjaan yang lebih nyaman dan mudah bagi kita. Kita tidak tau keuangan di perusahaan itu, mungkin ada sedikit yang tidak halal. Allah tidak ingin harta kita jadi tercampur dengan yang tidak halal. Berpikir positif saja selalu.  Hanya perlu berserah dan bersabar sedikit.

Rahmat Allah itu hebat.
Tidak mungkin Allah berlepas diri dan menelantarkan kita.

Sebagian masyarakat kantoran, mungkin ada yang dipekerjakan dari rumah. Work from home. Aku salah satunya.
Enak kan? Enak alhamdulillah.
Walau gaji sempat tertahan dan tertunda di saat genting gentingnya, setidaknya lebih baik daripada tidak sama sekali.
Tapi jujur bagian sulitnya pun ada. Maaf kalau boleh ku katakan, karena terlalu lama di rumah, kondisi rumah tidak sestabil yang dikira. Sering crash dengan orang tua hanya karena perkara sepele dan sebagainya. Mondar mandir di kamar tidak produktif. Tidak ada tempat untuk bertukar pikiran seperti sebelumnya. Tekanan pekerjaan yang tak berubah.

Ku katakan ini, agar tidak perlu ada perasaan saling iri. Wah enak ya bisa kerja dari rumah saja? Wah enak ya tetap digaji. Ya biar bagaimana, tetap ada bagian sulitnya juga. Aku digaji, di satu sisi pendapatan orang tuaku jatuh ke bawah karena musibah ini, ya sama saja.
Tidak bermaksud ingkar nikmat, hanya ini bukan ranahnya untuk saling sinis membandingkan hidup kita.

Apapun yang terjadi selalu disyukuri, karena waktu istirahat jadi lebih banyak, waktu untuk bersama keluarga juga lebih banyak.

Hikmah selalu hadir.
Mengisi tiap sendi permasalahan.
Siapa yang mau membuka pikirannya, akan bisa menemukan hikmah ini. Siapapun yang menutup pikiran dan hatinya, hanya bisa merutuki tiap takdir yang terjadi.

Berkat pandemi ini, kita belajar menjaga diri dari ikhtilat/campur baur. Kita belajar menjaga jarak, tidak skinship bahkan pada sesama mahram. Kita belajar menahan diri untuk tidak menghabiskan waktu dalam kesia-siaan. Kita belajar untuk membuat prioritas dalam hidup. Kita belajar menjaga kebersihan, beradab dalam bersin atau batuk. Kita belajar peduli pada lingkungan sekitar, berbagi makanan atau uang.
Kita belajar prihatin.

***

Korban jiwa yang berjatuhan. Aku turut berduka sedalam dalamnya. Takdir Allah.

Tidak ada yang terdampak. Semua lapisan masyarakat terkena imbas musibah ini, aku juga merasakannya.
Semua terkena dampak sesuai dengan level sabar dan kelapangan yang Allah beri.

***

Kini pandemi covid19 tak lagi menjadi pandemi, namun berganti menjadi endemik.
Doaku, aku ingin semua pulih dan membaik.
Aku ingin hidup yang lebih baik, tapi semua akhirnya mengikuti persepsi Allah. Baik di mataku, belum tentu baik menurut Allah.

Apakah seperti ini baik untuk manusia, aku juga tidak mengerti. Hanya berusaha berbaik sangka atas semua yang Allah takdirkan. Hanya berharap Allah mengganti tangisan dan ratapan tiap jiwa dengan senyum dan tawa segera.
Berharap Allah mengampuni dosa dan kedzaliman yang tanpa sadari kita lakukan.

End.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Hardest Part (1)

Bismillahirrahmanirrahim... Aku akan memberanikan untuk membuka sebuah luka dalam hidupku. Ini tentang sesuatu yang menimpaku setahun yang lalu. Jika ada dari kalian yang merasa tidak nyaman dengan tulisan ini, bisa skip saat ini juga. Tulisan ini entah akan jadi berapa bagian. Saking panjang dan lamanya. *** Kalian mungkin pernah mampir ke tulisanku di bulan maret 2023, judulnya NKTCTHI (Nanti Kita Tidak Cerita Tentang Hari Ini) yang juga ada part 2-nya .  Aku kekeuh selama itu tidak ingin membuka luka ini di blog-ku, karena aku masih beranggapan ini adalah sebuah aib. Tapi waktu berlalu, banyak pengalaman yang ku dapat, banyak artikel dan cerita orang lain bersliweran, yang membuat aku mengerti bahwa ini bukanlah aib, dan tak apa kalau kita terbuka membicarakan ini. Luka ini seperti luka luka lain yang normal untuk dimiliki dan bisa sembuh. Luka ini bisa terjadi pada siapa saja. Luka ini pun bukanlah dosa, jadi tak apa. Tujuan aku menceritakan luka ini adalah aku sangat berharap...

Mood Booster❤

Bismillahirrahmanirrahim Sebaik-baik mood booster, adalah kalimat Allah. Buat kalian yang sedang bersedih. Semoga membantu. Terjemahan Al Quran, surah Fushilat. 30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: " Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu " 31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. From me, with a lot of love❤❤❤

My Hardest Part (4)

Bismillahirrahmanirrahim... Baca dulu part sebelumnya ya, part 1 , part 2 , dan part 3 . Hari-hari berjalan perlahan. 21 Maret itu aku mulai memberanikan diri jalan berdua dengan temanku ke kafe di kota kami. Pagi-pagi kami sudah duduk manis memesan es stroberi dan nasi goreng. Kafe-nya masih sepi. Sejak itu, aku mulai berani membuka diri di keramaian (yang sepi). Selama sakit aku sama sekali tidak keluar rumah untuk main, pikiranku runyam sekali, aku lebih suka tiduran di samping ibuku. Dan kini aku menatap jalan raya dari balik jendela kafe.  Ah. Menyenangkan bisa kembali setelah nyaris kehilangan diriku . Setelah dari kafe, kami ke miniso, kemudian jalan memutari sebuah kebun hijau. Aku bersyukur untuk banyak hal. Aku mulai kembali kerja lagi. Walau masih tertatih. Atasanku sangat bijaksana saat itu, beliau memberikan aku ruang dan waktu hingga pemulihanku.  Beliau tidak menuntut banyak hal. Aku menjalani hari yang terik dan hujan yang dingin. Ku nikmati tiap detailnya deng...

😫

Banyak yang ingin ku tuliskan, tapi aku masih urung. Rasanya terlalu banyak yang ingin dibagikan, mulai dari hikmah Allah memperjalankan aku ke Jakarta, koperku yang kode kuncinya berganti, rekeningku yang ludes, sampai semua halnya. Aku bingung mau menulis darimana... Emosiku masih menyertai tiap tulisan ini. Tiap kali aku bercerita, perasaanku masih tidak nyaman, rasanya aku linglung. Entah bagaimana aku memaknai hidupku, yang pasti aku yakin Allah akan menggariskan yang terbaik. Memang pedih menjalaninya, tapi pasti semua yang terbaik✨ Huaaaaaaaaa

My Hardest Part (2)

Bismillahirrahmanirrahim Tulisanku kedua, yang pertama bisa baca disini . Aku tidak tau kapan tulisan ini akan rampung ya.  *** Aku dan ibu akhirnya membuat janji temu dengan psikiater. Malam-malam gerimis kami memesan taksi online. Aneh rasanya di sepanjang perjalanan, apalagi saat supirnya mencoba ramah dengan bertanya apakah kami mau berobat? Berobat apa? Padahal satu-satunya dokter yang ada saat itu adalah dokter jiwa. Aku bertemu psikiater. Rasa di dalam dadaku campur aduk. Takut, malu, sedih, dan emosi lain silih berganti. Aku menceritakan apa yang ku alami pada dokternya, sambil menggegam erat buku jariku, sesekali aku menangis. Dokternya merespkan obat, mengatakan padaku bahwa sakitku ini memang ada, namanya anxiety disorder  atau gangguan kecemasan berlebih, dan bisa diobati.  Waktu pengobatannya enam bulan. Tapi sebenarnya waktu pengobatannya fleksibel, bisa lebih cepat, bisa juga lebih lama. Bahkan bisa tahunan. Aku lemas dan gontai berjalan keluar ruangan. Puk...

Catur dan Filosofi Absurdku

Sedari kecil bapakku yang master catur (ceilah) sudah mengajariku bermain catur. Dari sekian banyak permainan catur, ada satu serangan yang sangat berkesan dan selalu ku coba untuk lakukan ke lawan mainku. Tapi selalu gagal karena 'kebetulan' mereka melakukan gerakan lain, sehingga serangan fajarnya gagal total. Fyi, serangan fajar yang dilakukan bapakku tadi, berhasil melumpuhkan aku dalam waktu sepersekian menit. Mungkin 2 sampai 5 menit. Sangat traumatis! Anyway, aku suka bermain catur, kalau boleh dikatakan, tingkatanku di atas pemula lah. Aku bisa menang kalau lawanku seimbang, tapi kalau lawanku sudah pro, aku akan K.O juga. Sore ini aku main catur online saja, karena di rumah tidak ada yang bisa catur kecuali bapak. Dan bapak sangat repot. Ternyata lumayan seru juga, aku melawan manusia sungguhan soalnya, bukan robot. Sore ini aku menang. Hehe Di sekolah aku bolak balik bermain catur, tentu sama bapak bapaknya, karena ibu ibunya tidak ada yang bisa main. Satu satunya ibu...

Surat Cinta

Lagi lagi, ku tuliskan surat cinta ini. Aku berharap kamu membacanya, meski aku tau ini harapan yang mustahil. Jadi ku tuliskan saja untuk semuanya, semoga angin membawa kabar gembira ini sampai di telingamu. *** Aku masih suka melihatmu, Begitu melihatmu, darahku benar benar berdesir cepat sekali, telapak tanganku dingin, dan aku susah berpikir dengan jernih. Aku tergagap, tidak bisa berbicara, bahkan tersenyum pun enggan. Padahal aku sesuka itu padamu. Benar kata orang orang, kalau perempuan suka, jangankan bicara, menoleh pada orang yang ia sukai pun tak sudi. Aku sungguhan tidak bisa melihatmu dengan baik. Sebelumnya aku sudah berlatih untuk menatapmu barang 3 detik saja, kata para ahli, itu bisa menjadi pengirim sinyal kalau kita suka dengan orang tersebut. Aku sudah bertekad akan mencobanya, mencoba menatapmu. Tapi sial, baru sepersekian mili detik kita bertatapan saja, aku sudah kacau tidak karuan, aku buru buru buang muka. Menatapmu saja aku tidak bisa, apalagi bicara! Aku kada...

Sang Pembaharu

Jujur sebagai manusia biasa yang sedikit idealis, aku cukup lelah mental dan fisik. Belakangan ini dunia semakin bercanda. Negara semakin melucu. Dan makin banyak manusia dengan ambisinya yang beragam, aku tentu berharap ambisinya baik untuk dunia, namun semua itu hanya khayalanku saja. Bahkan tanpa ambisi itu, iklim dunia saja sudah amburadul. Pemanasan global, cuaca ekstrem, dan ancaman kerusakan bumi yang tak main main. Malah sebagian manusia rakus nan tamak justru dengan kesadaran penuhnya, makin semangat dan gelap mata merusak bumi gila gilaan. Ugh. Masalah tiap harinya makin banyak. Baru saja membuka mata di pagi hari, gempuran berita buruk bermunculan. Aku sampai kebingungan dan berharap tidak tau apa apa. Sebagai manusia, aku seperti punya tanggung jawab untuk menjaga lingkungan dan moral di negara yang morat marit ini. Terlebih peranku sebagai guru, aku makin harus 'ideal' untuk menyadarakan ratusan siswaku agar mereka juga mau berkontribusi demi kehidupan yang lebih b...

Kos Putri 165

  Assalamu'alaikum, Blogger...   Tidak terasa sudah 3 tahun saya tinggal di kota cantik ini. Menjadi pendatang memang bukan h al yang mudah, karena selain kita harus bisa beradaptasi, kita juga harus bisa menemukan tempat tinggal yang cocok dan nyaman. Selama ini saya sudah 3 kali pindah kos-kosan. Mulai dari di daerah Yos Sudarso, Pangeran Samudera, dan yang terakhir di Borneo. Alhamdulillah, sekarang saya sudah menemukan kos yang sesuai dengan keinginan saya. Nah, dengan segala kerendahan hati saya :D Hari ini saya akan berbagi pengalaman selama berada di kos saya ini, yaitu Kost Putri 165. Yuk disimak!

Surat Terbuka untuk Kelas XII 2018

Demi menulis apa yang sedang menyesaki kepala, sampai rela meninggalkan soal ulangan yang padahal dikejar deadline. Bismillahirrahmanirrahim... Jadi, malam ini, Nak. Postingan ini ditujukan untuk kalian anak-anak ibu yang lucu dan menggemaskan (pada akhirnya kalian menjadi lucu dan menggemaskan bagi ibu). To be honest , jarang sekali momen paska perpisahan itu baper ya, sampai-sampai tertuang di blog ini. Tapi mungkin dua tahun cukup lah sebagai pertimbangan kenapa kalian agak berkesan hingga akhirnya ibu rela menuliskan surat ini disini.