Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Bitter Sweet

Featured post

Mood Booster❤

Bismillahirrahmanirrahim Sebaik-baik mood booster, adalah kalimat Allah. Buat kalian yang sedang bersedih. Semoga membantu. Terjemahan Al Quran, surah Fushilat. 30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: " Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu " 31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. From me, with a lot of love❤❤❤

Surat Cinta

Lagi lagi, ku tuliskan surat cinta ini. Aku berharap kamu membacanya, meski aku tau ini harapan yang mustahil. Jadi ku tuliskan saja untuk semuanya, semoga angin membawa kabar gembira ini sampai di telingamu. *** Aku masih suka melihatmu, Begitu melihatmu, darahku benar benar berdesir cepat sekali, telapak tanganku dingin, dan aku susah berpikir dengan jernih. Aku tergagap, tidak bisa berbicara, bahkan tersenyum pun enggan. Padahal aku sesuka itu padamu. Benar kata orang orang, kalau perempuan suka, jangankan bicara, menoleh pada orang yang ia sukai pun tak sudi. Aku sungguhan tidak bisa melihatmu dengan baik. Sebelumnya aku sudah berlatih untuk menatapmu barang 3 detik saja, kata para ahli, itu bisa menjadi pengirim sinyal kalau kita suka dengan orang tersebut. Aku sudah bertekad akan mencobanya, mencoba menatapmu. Tapi sial, baru sepersekian mili detik kita bertatapan saja, aku sudah kacau tidak karuan, aku buru buru buang muka. Menatapmu saja aku tidak bisa, apalagi bicara! Aku kada...

Cacat

Aku menangis, Kegiatanku tiap malam adalah, menangisi konten yang lalu lalang di IGku. Dari sekian banyak konten yang ku tangisi, satu di antaranya adalah konten dari Leyla. *** Hari ini ku lihat ibuku tertawa lepas, seperti ibuku biasanya. Namun aku tak lagi tertawa bersamanya, aku hanya tersenyum. Hatiku kecut menyaksikan pemandangan ini. Karena hatiku takut, bahwa dalam hitungan detik, menit, atau hari di depan sana, ibuku akan menekuk wajahnya dan tak mau bertegur sapa denganku lagi, seperti yang biasa ia lakukan . Aku rindu ibuku, aku rindu kelakarnya. Di saat yang bersamaan, aku sangat terluka dengan apa yang terjadi selama ini. *** Aku telah berkorban banyak hal, ibuku juga melakukan hal yang jauh lebih besar daripada pengorbananku. Tak akan pernah sebanding. Tak akan bisa aku membayar semua pengorbanan itu. Tapi, hati dan perasaanku valid adanya. Saat aku terluka, maka aku memang berduka. Tak akan pernah bisa serta merta ku hapuskan rasa luka itu dengan perasaan syukur. "S...

Rumah yang Hangat

Aku mungkin menginginkan banyak hal, tapi ada satu yang pasti, rumah yang hangat. Aku rindu, makan bersama, saling tertawa. Aku rindu, bercanda, tanpa ada kesalahpahaman. Aku rindu, obrolan tanpa penghakiman. Aku rindu, kehangatan rumahku. Kalau tak ku dapatkan di kehidupan ini, kapan lagi? Sementara di kehidupan mendatang tak akan pernah ada. Aku benci, kerumitan. Aku benci, harus berhati-hati bersikap di depan orang tuaku. Aku benci, harus memperhatikan mood mereka untuk bahkan sekadar basa basi. Aku benci, rumahku yang tidak hangat. Tidak adakah kerinduan dalam dada mereka akan kehangatan? Kenapa mereka tetap terlihat baik baik saja, bahkan setelah pertengkaran hebat yang terjadi? Atau setelah amarah dan emosi yang disalurkan dengan tidak tepat? Apakah rumah yang seperti ini tak apa bagi mereka? Aku seperti menopang beban di luar kendaliku. Aku muak. Tidak bisakah kita sama-sama usahakan rumah itu? Rumah yang hangat? Rumah yang aman bagi kita untuk beristirahat? Rumah tanpa penghak...

Nanti Kita Seperti Ini

Ini gambaran kita suatu hari nanti Setelah sekian lama kita jalani Lewati masa-masa yang berarti Kini ku sudah yakin pada satu hati Yang kurasa tepat untuk temani Sekarang hingga aku tua nanti Ingin punya rumah 'tuk tempat bermesra Kau dipanggil ibu, sementara aku ayah Bertukar cerita di ruang keluarga Bercengkerama dan menimang buah hati kita Sederhana Bahagia ini lengkap sudah Sama-sama Hingga nanti kita tutup mata Semoga saja Niat baik kan terwujud segera Asal kita Percaya Dia Maha Segalanya Jangan dulu lelah, yakin semua indah Pejamkanlah mata, pada-Nya kita berserah - Batas Senja PS: Nangis dikit :')

Kenapa Aku Masih Kesulitan Bersyukur?

Ba'da maghrib ini temenku memberikan sebuah hadiah, mukena yang berbahan ringan dan wangi. Padahal beberapa belas menit sebelumnya saat aku lagi shalat maghrib di luar, sempat terbesit saat memperhatikan mukena pinjaman yang ku kenakan, iyaya, nggak pernah punya mukena ringan gini, enak juga. Ternyata tidak lama kemudian, aku mendapatkannya. Ajaib ya dunia ini? Dengan semua perihnya, yang padahal sepaket dengan bahagianya. Sayangnya aku terlalu fokus pada perihnya, sehingga hari demi hari ku lalui dengan tangisan, ratapan, dan keluhan. Aku pun muak dengan semua tangis itu, apalagi teman dekatku yang ku bagi tangisan itu tiap detik. Padahal kemudahannya banyak, Allah tidak kurang-kurang dalam memberi. Tapi kenapa aku sibuk saja mengabaikan nikmatNya. Teman baik? Makanan yang mengenyangkan? Rumah yang layak huni? Kendaraan? Kesehatan? Harta benda yang pantas? Aku sudah memiliki lebih dari cukup. Ya Allah, maafkan aku yang telah melampaui batas. Maafkan aku yang ingkar ini. Maaf ya Ra...
Hari ini bapak bersedih, ah menyakitkan, hidup apakah memang semenyakitkan ini kah? Bapak sedih, ibuku sedih, semua keluarga sedih. Bagaimana ya Allah melalui ujian ini?

Dear Diary Friday

Bismillah... Jumat kelabu. Hari ini aku menahan tangis, tapi tetap bekerja ke kantor dengan sangat tepat waktu, tidak, maksudku di awal waktu . Sudah beberapa hari aku berkorban untuk sesuatu (yang tidak bisa ku jelaskan). Aku tidak apa, tapi jujur lelah juga. Tidak masalah kan merasa lelah? Tapi lelahnya seperti domino. Mestinya aku bisa meluangkan waktu untuk diriku sendiri, seperti sarapan, workout, tapi ku relakan demi melakukan sesuatu tadi. Sayangnya, begitulah kemudian pengorbanan ini diuji. Aku tidak diapresiasi dengan baik, seringkali aku justru disalahkan. Dan aku selalu di momen ini teringat pada kajian Ustadz Hanan, yang menceritakan tentang sumpah Abu Bakar yang disanggah Allah dalam Al Quran.  " Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapa...

Menciptakan Keberanian

Tahapan dalam hidup kadang memang seunik itu. Dan sungguh hidup bukanlah sebuah perlombaan. Setiap manusia memiliki garis waktunya masing masing. Aku menemukan banyak sisi lain dari diriku di tiap garis usiaku, dan itu berbeda dari teman sebayaku. Misalnya aku hari ini, di usia 30 tahunku, aku banyak berani melakukan sesuatu yang dulunya aku merasa malu untuk melakukannya. Hari ini aku senam pramuka bersama teman kantorku, Sekadar informasi, aku dulu tidak suka senam. Karena malu melakukan gerakan senam di hadapan banyak pasang mata yang memandang. Tapi kini, aku suka senam (yang gerakan dan musiknya memang sopan ya). Aku bersemangat melakukannya. Setelah senam, aku merasa free untuk melakukan kegiatan lainnya, aku membawa tali keluar kantor. Ternyata banyak temanku tertarik dan ingin mencoba. Aku akhirnya bermain bersama sama. Aku suka memberanikan diri bermain tali dan mengakui ketidakmampuanku dalam bermain. Dan itu tak apa, kami bersenang senang! Setelah main tali, aku memainkan ru...

Aku Bersyukur

Hari ini aku mengajar. Menjelaskan dengan suara lantang dan tangan yang ku masukkan di saku. Oh ayolah. Jangan kaku begitu. Jangan kamu bilang aku sombong karena gesture ini. Tangan yang dimasukkan ke saku...memang seenak itu! Rasanya letih sekali kalau harus kamu kritik hal itu. Di sela mengajar, Anak anak kelas lain lewat sambil menoleh ke kelasku, bergantian memberikan senyum untukku, atau melambai padaku. Pun ketika aku berjalan di koridor, sapaan, tawa, malu malunya mereka, hal remeh yang ternyata menyenangkan untuk dirasakan :) Semoga semua perlakuan itu tulus dari hati. Dengan begitu, hatiku juga bisa nyaman menerimanya. :) Terima kasih ya Allah. Aku bersyukur.

Pintu Surgaku

Banyak jalan menuju Surga, pintu-pintunya terbentang di hadapan. Pilih mana yang kamu mampu, yang kamu bisa. Kita bisa memilih lewat pintu mana saja, tapi terkadang kita pun tidak berdaya. Ada pintu sedekah, ada pintu tahajud, pintu puasa, dan... pintu birrul walidain . Ya, pintu berbakti kepada kedua orang tua, terutama ibu. *** Birrul walidain?  Pada masa kecilku, ku maknai sebagai tugas yang mudah. Tapi setelah dewasa seperti saat itu, aku baru menyadari tugas ini ternyata berat. Aku di masa lalu, bahkan dengan gagah beraninya meminta pada Allah, "Ya Allah jadikan aku tulang punggung keluarga! Aku tidak mau bapak ibuku kelelahan dan bekerja hingga di usia senja mereka." Ku pikir, aku tidak mungkin tega menelantarkan mereka, tidak apa aku bekerja banting tulang demi mereka. Tapi lagi lagi tidak semudah itu... *** Ujian kehidupan hadir, di momen yang paling getir. Aku bahkan mulai mengoreksi doaku, aku kira aku salah dalam meminta. Aku diuji dengan sebuah apresiasi. Aku suda...

Masih Cinta

"Kamu, tak tau rasanya hatiku saat berhadapan kamu Kamu tak bisa bayangkan rasanya jadi diriku yang masih cinta Kamu, tak tau hancurnya hatiku saat berhadapan kamu" - Kotak Tiga lirik yang kalau dimaknai saat ini ternyata rasanya terlalu pahit. Padahal saat SMA dinyanyikan dengan hingar bingar bahagia. Masa SMA-ku yang biru, yang tersisa hanya kenangan dan separuh diriku yang tertinggal disana. Saat aku hidup di masa ini, aku menyadari bahwa aku sudah kehilangan banyak hal. Masa SMA-ku yang menyisakan banyak penyesalan. Seandainya waktu bisa diulang. Mendengarkan lagu lagu pop tahun 2000-an, kilasan balik masa remaja itu menyeruak. Keadaan rumahku saat itu, pertemananku saat itu, bahkan kehidupanku juga. Seakan baru terjadi kemarin. Entah sampai kapan aku harus kembali ke masa remajaku, aku seperti tidak punya kenangan baik yang bisa ku kunjungi kembali. Film yang diputar saat itu, aku seperti sedang menelusuri setiap inci masa mudaku, Diriku di masa itu, prestasinya, penampi...

Hidup di Masa Kini

Kalau melihat foto-foto di tahun ke belakang, rasanya menyenangkan sekali momen itu. Seolah ingin kembali lagi ke masa itu, mendekap erat tiap kejadian dan tawanya. Masa SMA, masa kuliah, masa kerja, Semua kenangannya, tempatnya, teman-temannya, memorinya. Semua cerita dan kegembiraannya. Padahal dibalik foto saat itu juga menyimpan luka dan tangisannya. Tapi aku fokus pada tawa di foto tersebut. :) Dan padahal hari ini pun banyak luka dan tangisnya, tapi tentu juga banyak tawanya. Kenapa aku sibuk hidup di masa lalu dan tidak mendekap semua memori hari ini? Dasar aku. Time flies so fast, dan tidak akan bisa kembali lagi. Ayolah aku, peluklah hari ini dan simpan semua kebaikannya. Fokus pada kebaikan hari ini dan maafkan yang sudah-sudah. Relakan dan terima semua takdir baik itu. Hiduplah wahai aku, di masa kini :)

Butterfly Era

Liat di IG tentang tulisan butterfly era di usia yang ketiga puluh membawaku dalam sekejap berada di tahun 2019 awal. Ternyata sudah lima tahun yang lalu. Butterfly era. Been there. Era dimana aku jatuh suka dengan seseorang, yang dengan kehadirannya, semua hal sederhana terasa begitu manis. Membuatku semangat menjalani hari. Membuatku senyum keGRan walau hanya membaca balasan WA. Melihat story IG atau story WA-nya.  Ah. Butterfly era. Saat aku mendadak salah tingkah. Saat rasanya usiaku kala itu (yang sebenarnya adalah 26 tahun) terseret kembali di masa aku remaja. Padahal hanya bertukar cerita via WA, tapi bahagianya bisa seharian. Apalagi saat menatapnya, yang tentu saja membuat aku kikuk. Saat dia di sampingku atau di hadapanku, ia berbicara apa saja begitu lepas, terkadang juga berbicara dengan malu malu. Semuanya tentang dia, aku suka. Aku yang sudah dewasa saat itu, jadi seperti anak SMA. Butterfly era itu benar adanya, di usia berapa saja bisa tetap dirasakan, semua tergan...

Random Talk

Assalamualaikum... bingung juga mau berbagi hal baik apa di Blog ini... Sudah lama sekali tidak main kesini, terlalu sibuk dengan urusan dunia, dan kadang tidak mood. Tapi, mari menulis. Di luar hujan, ditulis jam sembilan lewat sebelas malam. Blog ini, sejak 2011 sampai saat ini 2024, sudah 13 tahun masya Allah... Ditulis, direvisi, kadang dihapus, kadang di-unpublish, kadang juga tetap di beranda hingga tak lekang waktu. Perasaan bahagia, takut, sedih, kecewa, marah, kagum, malu, dan semua emosi tergambar jujur dalam tiap tulisan. Kadang perasaannya sampai di hati para pembaca, kadang juga tidak. Tapi tak apa :) Tulisan tulisannya ditulis dalam heningnya malam, hiruk pikuknya siang, tenangnya pagi, atau sendunya sore hari. Semua waktu, setiap momen, terasa membekas. Blog ini setidaknya sudah banyak membantu memuaskan rasa penasaran orang-orang yang sekadar lewat dalam hidupku, :') Berterimakasihlah. Blog ini, entah dibaca atau tidak, entah ada yang penasaran atau tidak, entah ada...

Bismillah

Beberapa orang terlahir dari keluarga kaya, beberapa lagi terlahir untuk menjadi kaya, dan beberapa sisanya masih terus memimpikan untuk menjadikan keluarganya kaya. Omong kosong. Kenapa harus ambisius menjadi kaya? Pikirmu. Namun pikiran itu tidak akan pernah bisa dijawab oleh seseorang yang dibesarkan dari keluarga berkecukupan. *** Aku dilahirkan ketika keluargaku settle, mapan. Namun semakin usiaku bertambah, roda kehidupan berputar, dan keluargaku berhenti cukup lama di posisi ini. Posisi ketika semua hal terasa sulit karena hari terlalui tanpa ada uang untuk membeli makan malam esok hari. Posisi ketika sakit, tapi ditahan sebentar, karena obat dan biaya dokter begitu mahal. Posisi ketika berkendaraan tanpa ada uang sepeserpun yang dibawa, dan harus banyak berdzikir semoga tidak terjadi sesuatu hal urgent di jalan. *** Tapi aku bersyukur, Allah sebaik itu telah memampukan aku mewujudkan mimpiku menjadi anak yang memikul sebagian beban orang tuanya. Aku diberikan kesempatan untuk ...

Beruntung

"Ibu bilang ke bapak, ke keluarga kita, kalau apa yang sudah kamu capai sampai saat ini semua atas usaha keras kamu. Karena kamu rajin belajar, karena kamu pinter, karena kamu berusaha sungguh sungguh" "Tapi kan bapak sama ibu sudah sekolahin aku, kuliahin aku" "Nggak, kami cuman bantu sedikit. Semua atas usahamu sendiri. Kamu yang dapat beasiswa, kamu yang nekat kuliah, kamu yang belajar sampai jadi pegawai sekarang ini" *** Another my deep talk with mom tonight. Aku cuman kaget mendengar itu, karena aku selama ini hanya merasa jadi beban. Pecundang dan benalu.  Aku merasa semua yang ku dapatkan berkat keberuntunganku. Berkat pertolongan banyak orang. Tapi... Semua kesungguhan ibu mengatakan fakta itu, membuatku ingin membalas perkataannya, namun demi mengingat darah, keringat, dan air mata yang ku pendam sendiri selama ini, aku akhirnya tidak berhasil menjawab apapun padanya. Dalam lubuk hatiku yang sangat dalam, aku hanya terkejut, lantas membenarkan.  ...

Cerita Ajaib Ketua Osis

Aku juga bingung sama hidup aku yang ajaib.  I am not that beautiful... Not famous. Standar lah. Yakali standar, malah kadang bagi sebagian orang, aku di bawah standar. Hehe. Gapapa.. Gapapa, you're enough (nepuk kepala sendiri).  Tapi, aku bisa bisanya ngalamin hal hal yang unbelievable.  Cerita aja kok. Please dont missunderstanding.  Jadi dulu waktu kuliah semester dua, musim main Twitter... Aku kan nyampah ya. Hehe. Biasalah gadis patah hati kekekeke Terus ada satu mention masuk, said "jangan sedih lagi, Mukti :) " Nah lo. Saking berkesannya, sampe detail banget ingatan aku.  Aku langsung cek sampai ke akar akarnya. Ternyata adek kelas aku SMA dan masih sekolah dia. Kok bisa bisanya ngomentarin twit aku gak pake embel embel "kak". Tapi karena yaudahlah, uhuk, diskriminasi nak cowok. Jadi ku biarin aja. Cowok kan gitu ya? Sering abai sama panggilan gitu. Lama kelamaan, dia sering mention buat hal hal receh. Dan karena emang nyambung, ya seru aja sih. Lagian a...

Ilusi

Sekilas tak ada yang aneh dengan tatapan gadis itu, namun semakin lama matanya berbinar penuh harap, senyumnya mengembang, membuat pipinya menggembung lucu. Gadis yang sedang jatuh hati pada seseorang. *** Jatuh hati tidak pernah salah, ekspektasi yang tercipta setelahnya lah yang bermasalah. Hanya seorang pemuda yang kita lihat dari apa yang ia tampakkan. Hatinya tetap rahasia. Keluarganya pun kita tidak tau konfliknya. Kita terus menciptakan ilusi, mengabaikan semua kemungkinan buruk. Lama kelamaan semua menjadi obsesi tak sehat. Bahkan patah hatinya pun terasa memilukan. Padahal hanya berawal dari suka dan kagum. Tapi ilusi kita yang menguasai setelahnya. Kita seakan mensugesti diri sendiri bahwa kita sangat mencintainya. Padahal hanya kenal dari jauh, tapi merasa begitu dekat hanya karena sedikit interaksi dengannya. Mengira ia sebaik itu, mengira pemuda itu begitu sempurna. *** Itulah mengapa cinta sepihak memang tidak baik, Percayalah.

Masa Kejayaan yang Perlahan Redup

Pagi itu hiruk pikuk kelas lebih nyaring dari hari biasa. Pasalnya hari ini hari pembagian rapor yang menegangkan. Beberapa siswa bahkan nekat duduk manis di area ruang guru, demi mencuri dengar informasi lebih dulu. Kemudian waktu yang ditunggu-tunggu tiba, suara speaker menggema sampai sudut sudut sekolah, mengumpulkan kerumunan putih abu abu di lapangan dalam sekejap mata. Semua masih bisik bisik ramai, hingga bapak kepala sekolah berdehem di mikrofon, menyampaikan sambutan. Seluruh keramaian tadi sirna, semua hening mendengarkan dengan seksama. Tak berapa lama, pengumuman itu mengudara. Juara kelas yang diagung-agungkan. Gegap gempitanya, seremonialnya, juga konflik iri-dengkinya. Hehe Begitulah kesenangan anak sekolah teladan, saling berbangga dengan prestasinya. Membanggakan juara kelas, juara menyanyi, juara menari, juara kebersihan kelas, juara basket, juara debat, atau juara 17an sekalipun. Sorak sorai bahagianya terbawa sampai esok hari. Kehidupan sekolah yang hanya sekali di...

The Rain and You

I’m not longing for you anymore now, there’s no longer my heart that’s missing you too Silently, I’m forgetting that I’ve ever loved you little by little What I do not understand is, that whenever it rains, tears are falling down in my heart Just like that day from a long time ago, when you left me I am fine now, but I have forsaken things like love What a fool I am that tears are falling The faded memories that are becoming faint, how deeply ingrained they must have been For me to still feel the longing for a hateful person like you You won’t be coming back, and I hate myself for being unable to forget For how long will my heart be in pain? 💔💔💔 Sekarang aku tak merindukanmu lagi Aku bahkan tak ingin melihatmu Aku bahkan melupakan apa yang aku cintai dengan diam-diam Aku tak bisa mengetahuinya, perasaanku yang seperti itu Aku mulai menangis setiap kali hujan turun Sama seperti hari di saat kau pergi di waktu itu Sekarang aku baik-baik saja, aku telah mengabaikan cinta itu, namun...