Langsung ke konten utama

Featured post

Mood Booster❤

Bismillahirrahmanirrahim Sebaik-baik mood booster, adalah kalimat Allah. Buat kalian yang sedang bersedih. Semoga membantu. Terjemahan Al Quran, surah Fushilat. 30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: " Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu " 31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. From me, with a lot of love❤❤❤

Hoax "WA Keluarga"

Bismillahirrahmanirrahim

Sambil sarapan, sambil nulis blog. 


Sekolah sudah tatap muka selama tiga minggu. Alhamdulillah sejauh ini nggak ada masalah yang berarti. Eh tapi baru aja mikir begitu, tiba tiba ada sentilan yang lumayan mengganggu.

Darimana ya memulai nulis emosinya. Hihi
Nggak deh. Becanda

Jadi, untuk membuka sekolahan di masa pandemi gini aja, rutenya nggak mudah. 
"Oh kalau nggak mudah, ya nggak usah dibuka!" Celetuk seseorang yang otaknya dangkal. 

Ya, gimana ya Sayang. Kalau sekolahnya online terus, nanti orang tua siswa tambah ngedumel karena beberapa dari mereka beranggapan guru makan gaji buta. Atau ngedumel karena mesti bayar SPP padahal anaknya nggak sekolah.
Juga ngedumel karena anaknya semakin menambah beban keluarga karena nggak berguna berguna banget ketika di rumah. 

Untuk mencegah pemikiran liar seperti itu, akhirnya melalui rapat dan diskusi sana sini, kami memutuskan untuk mengajukan sekolah tatap muka. 
Sampai sini paham nggak? 

Untuk merealisasikan sekolah tatap muka, harus rapat dulu, diskusi semua pihak. Orang tua juga diajak diskusi. Dan keputusan rapat pun nggak serta merta jadi hasil akhir, karena harus mengajukan ijin juga ke SATGAS di daerah setempat. 

Mendapatkan ijinnya juga nggak mudah, harus disurvei dulu, sosialisasi protokol kesehatan ketat, dan banyak banget yang musti disiapin. Jadi ini adalah rute yang panjang :') 

Singkatnya, sekolah berhasil dibuka dengan semua perjalanan perijinan dan diskusi tadi. 

Tapi, setelah tiga minggu berjalan, kalau sekolah adem ayem, rasa rasanya nggak mungkin. Pasti ada aja yang mengusik, entah karena bosen tentram, atau memang suka memancing keributan. 

Guru guru di sekolah yang sejauh ini menahan sabar dan emosinya, ya jebol juga pertahanannya. Masalah yang terjadi ya tentu nggak sepele, mengingat kalau ditarik kebelakang terdapat sikap nggak jujur dan kurang amanah yang mendasari masalah ini muncul. 
Misalkan seperti surat ijin dari orang tua yang dipalsukan, tugas tugas yang disepelekan, bolos tanpa sebab, nggak disiplin dalam berpakaian, dsb. 
Sampai masalah yang barusan terjadi adalah protes yang dilayangkan kepada sekolah, dari salah satu orang tua yang keberatan anak tersayangnya diukur suhu dengan thermogun di dahi. 

"Jangan membesar-besarkan masalah corona! Kalau ditembak terus anak saya, nanti malah muncul penyakit lain!" Protes seorang bapak yang menyuarakan aspirasinya tanpa mengenakan masker

Hmm... 
Kita tu ya, kalau kurang menguasai sesuatu, mbok ya jangan terlalu dipamerin :) malu. 

Mikirnya nggak usah pake buku fisika kimia biologi wes, pake logika saja. Misal misal misaaaallllll, thermogun itu bahaya ditembakkan ke dahi, mohon maap ya, itu pasti nggak akan pernah ada thermogun yang diproduksi :) 

Bahkan beberapa thermogun memang di setting di dahi, ada sih yang bisa diukur dari pergelangan tangan, tapi ya tergantung jenis thermogun-nya. 
Kalau misalkan, nih misalkan nggak mau pake thermogun, terus pakenya termometer badan yang diselipin di ketek, apakah seperti itu aman? 
Yakali anak anak dijamin mandi semua. Pas ada yang belum mandi gimana? 
Atau misal udahlah nggak usah diukur suhu tubuhnya, ternyata ada salah satu anak yang badannya anget anget kuku alias demam. Apa nggak ngeri? 

Bayangin aja filmnya Train to Busan, satu cewek yang terinfeksi virus masuk dalam kereta. Eh satu kereta kena virus semua. Atau filmnya The Flu, yang satu aja orang kena virus flu berdarah itu, satu kota pada jadi korban. 

Nah kalau misal dalam real life kayak gini, ada satu anak yang demam, memang demam itu nggak menular, tapi kan demam itu indikasi badannya lagi sakit?
Dan imunnya lagi lemah?
Di kondisi pandemi begini, jelas membiarkan si anak berada di sekolah cukup beresiko. 
Seharusnya si anak bisa beristirahat di rumah, tapi karena kealpaan nggak dicek suhu tubuhnya, dan si anak merasa demamnya bukan masalah besar, akhirnya ia malah belajar di sekolah. 

Kan? 

Hanya dari protes akibat kemakan hoax WA keluarga tadi aja loh (monmaap jadi bawa bawa keluarga), resiko yang menyertainya jadi panjang bener. 

Itulah kenapa penting banget saring sebelum sharing. Sebelum membagikan hoax nggak mutu dan memecah belah manusia, ya ditelaah dulu. Masuk akal nggak nih? Bahaya nggak nih buat masyarakat? 

Soalnya kalau sudah dibagikan, yang membaca kan dari beragam pihak.
Pihak yang dulunya mengenyam bangku sekolah, dan pihak yang ketika di sekolahnya dulu, sibuk tidur sampai lulusan.

Kalau yang sekolahnya bener, insyaAllah bisa mikir dan memilah. Sedangkan yang nggak sekolah dengan bener, jangankan memilah, mikir juga nggak mau. 

Baru baca hoax gitu aja, udah nggak mikir panjang lagi dan ditelan mentah mentah.

Nggak bisa bayangin, gimana lagi ketemu fitnah dajjal :( yang bahkan bisa menghidupkan orang mati atas ijin Allah. Huhu. Iman bakalan goyah jadinya. 

Moga kita dijauhkan dari hal kayak gitu ya. 

Akhir kata, plis jangan mau kemakan hoax yuk. Terutama hoax WA keluarga. Hehehe

Plis jangan juga koar koar tanpa tau ilmunya, malunya itu loh. Masa kedangkalan ilmu malah dipamerin? :(

Dari: seseorang yang, ngantuk berat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Hardest Part (1)

Bismillahirrahmanirrahim... Aku akan memberanikan untuk membuka sebuah luka dalam hidupku. Ini tentang sesuatu yang menimpaku setahun yang lalu. Jika ada dari kalian yang merasa tidak nyaman dengan tulisan ini, bisa skip saat ini juga. Tulisan ini entah akan jadi berapa bagian. Saking panjang dan lamanya. *** Kalian mungkin pernah mampir ke tulisanku di bulan maret 2023, judulnya NKTCTHI (Nanti Kita Tidak Cerita Tentang Hari Ini) yang juga ada part 2-nya .  Aku kekeuh selama itu tidak ingin membuka luka ini di blog-ku, karena aku masih beranggapan ini adalah sebuah aib. Tapi waktu berlalu, banyak pengalaman yang ku dapat, banyak artikel dan cerita orang lain bersliweran, yang membuat aku mengerti bahwa ini bukanlah aib, dan tak apa kalau kita terbuka membicarakan ini. Luka ini seperti luka luka lain yang normal untuk dimiliki dan bisa sembuh. Luka ini bisa terjadi pada siapa saja. Luka ini pun bukanlah dosa, jadi tak apa. Tujuan aku menceritakan luka ini adalah aku sangat berharap...

Kejujuran itu Terlampau Mahal

Hari ini aku berdiri di hadapan banyak pasang mata siswaku, sambil menggenggam puluhan lembar kertas soal.  Minggu lalu kami mengadakan PTS menggunakan aplikasi yang diakses dengan HP. Jaman semakin canggih, bahkan menjawab soal seperti ini saja diharuskan menggunakan teknologi. Ku akui memang lebih mudah menggunakan teknologi ini, tak payah kami mengoreksi jawaban satu satu dengan sebelumnya melubangi LJK pakai obat nyamuk. Walau katanya Lembar Jawaban Komputer, tetap saja mengoreksinya manual. Tapi begitulah~ Itu beberapa tahun silam. Meski kami tak bau asap obat nyamuk lagi, nyatanya teknologi selalu punya celah untuk dikeluhkan. Anak anak lebih suka berlelah lelah mempelajari tips dan trik untuk curang, ketimbang tips dan trik menjawab soal dengan mudah. Kalau guru punya 1001 cara untuk meminimalisir kecurangan, siswa juga punya 1001 cara menyiasati agar bisa curang. Apakah kecurangan senikmat itu? Hingga mereka lebih suka berkubang di dalamnya? Hari ini aku mengulang PTS itu. ...

My Hardest Part (2)

Bismillahirrahmanirrahim Tulisanku kedua, yang pertama bisa baca disini . Aku tidak tau kapan tulisan ini akan rampung ya.  *** Aku dan ibu akhirnya membuat janji temu dengan psikiater. Malam-malam gerimis kami memesan taksi online. Aneh rasanya di sepanjang perjalanan, apalagi saat supirnya mencoba ramah dengan bertanya apakah kami mau berobat? Berobat apa? Padahal satu-satunya dokter yang ada saat itu adalah dokter jiwa. Aku bertemu psikiater. Rasa di dalam dadaku campur aduk. Takut, malu, sedih, dan emosi lain silih berganti. Aku menceritakan apa yang ku alami pada dokternya, sambil menggegam erat buku jariku, sesekali aku menangis. Dokternya merespkan obat, mengatakan padaku bahwa sakitku ini memang ada, namanya anxiety disorder  atau gangguan kecemasan berlebih, dan bisa diobati.  Waktu pengobatannya enam bulan. Tapi sebenarnya waktu pengobatannya fleksibel, bisa lebih cepat, bisa juga lebih lama. Bahkan bisa tahunan. Aku lemas dan gontai berjalan keluar ruangan. Puk...

Selamat Berpisah, Tuan

Selamat berpisah, Tuan Terima kasih karena menyempatkan singgah ke pelukan gadis malang sepertiku, Terima kasih untuk antusiasmu yang hanya sebentar, Terima kasih telah membawakan aku sebongkah harapan yang merekah, Terima kasih sebab menjadi mimpi baikku sampai sekarang. Kamu benar Tuan, kurasa ini karmaku, Karena telah menyia-nyiakanmu, Karena berbohong padamu dan pada perasaanku, Aku sedikit menyesal, Tuan. Mestinya aku mengaku. Tapi apakah itu akan mengubah hari ini? Apakah dengan kejujuranku, kamu tidak akan pergi? Aku meraba-raba, kenangan kita di masa lampau, Kamu hadir di saat aku sangat terjebak dalam kubangan gelap pikiranku, Kamu menawarkan cinta tulus nan sederhana. Lantas, semudah itu perasaanmu berubah Tuan Apakah tak ada sedikit pun rasa yang tertinggal? Aku memang gadis bodoh. Benar aku bagus dalam pelajaran, Tapi sangat bodoh dalam perasaan, Aku ingin membencimu Tuan, Tapi hatiku berontak, Penat. Selamat berpisah, Tuan Aku mengikhlaskanmu. Aku tak apa. Sudah biasa. Han...

Mood Booster❤

Bismillahirrahmanirrahim Sebaik-baik mood booster, adalah kalimat Allah. Buat kalian yang sedang bersedih. Semoga membantu. Terjemahan Al Quran, surah Fushilat. 30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: " Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu " 31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. From me, with a lot of love❤❤❤

Sang Pembaharu

Jujur sebagai manusia biasa yang sedikit idealis, aku cukup lelah mental dan fisik. Belakangan ini dunia semakin bercanda. Negara semakin melucu. Dan makin banyak manusia dengan ambisinya yang beragam, aku tentu berharap ambisinya baik untuk dunia, namun semua itu hanya khayalanku saja. Bahkan tanpa ambisi itu, iklim dunia saja sudah amburadul. Pemanasan global, cuaca ekstrem, dan ancaman kerusakan bumi yang tak main main. Malah sebagian manusia rakus nan tamak justru dengan kesadaran penuhnya, makin semangat dan gelap mata merusak bumi gila gilaan. Ugh. Masalah tiap harinya makin banyak. Baru saja membuka mata di pagi hari, gempuran berita buruk bermunculan. Aku sampai kebingungan dan berharap tidak tau apa apa. Sebagai manusia, aku seperti punya tanggung jawab untuk menjaga lingkungan dan moral di negara yang morat marit ini. Terlebih peranku sebagai guru, aku makin harus 'ideal' untuk menyadarakan ratusan siswaku agar mereka juga mau berkontribusi demi kehidupan yang lebih b...

Takdir

Ada yang mengejarku selama ini, aku menghindar. Entah apa yang salah, mungkin aku membenci caranya mendekatiku. Setiap perhatiannya memuakkan. Aku juga kebingungan dengan diriku ini. Ternyata memaksakan diri jatuh cinta memang tidak mudah. Mungkin begitulah aku di matamu? Seketika itu aku bercermin. Melihat pantulan diriku yang begitu hebat masih mengejarmu. Mungkin kamu sangat terganggu dan kebingungan menghindariku. Dasar aku, kamu, dan takdir ini.

My Hardest Part (4)

Bismillahirrahmanirrahim... Baca dulu part sebelumnya ya, part 1 , part 2 , dan part 3 . Hari-hari berjalan perlahan. 21 Maret itu aku mulai memberanikan diri jalan berdua dengan temanku ke kafe di kota kami. Pagi-pagi kami sudah duduk manis memesan es stroberi dan nasi goreng. Kafe-nya masih sepi. Sejak itu, aku mulai berani membuka diri di keramaian (yang sepi). Selama sakit aku sama sekali tidak keluar rumah untuk main, pikiranku runyam sekali, aku lebih suka tiduran di samping ibuku. Dan kini aku menatap jalan raya dari balik jendela kafe.  Ah. Menyenangkan bisa kembali setelah nyaris kehilangan diriku . Setelah dari kafe, kami ke miniso, kemudian jalan memutari sebuah kebun hijau. Aku bersyukur untuk banyak hal. Aku mulai kembali kerja lagi. Walau masih tertatih. Atasanku sangat bijaksana saat itu, beliau memberikan aku ruang dan waktu hingga pemulihanku.  Beliau tidak menuntut banyak hal. Aku menjalani hari yang terik dan hujan yang dingin. Ku nikmati tiap detailnya deng...

Tangga Nada

Kurang random apalagi sih aku? Ke toko, malah naksir mas random? Tapi ngalamin starstruck (star in my heart) wkwk Aku selama ini nggak pernah memperhatikan. Entah kenapa minggu itu kayak, kok mas ini manis sih? Udah gitu tinggi dan lembut juga. Tapi akuuuuu masih merasa bodo amat. Walau ketika pulangnya, ada perasaan aneh kayak...aku suka deh sama masnya🥲 Ada momen dia nyamperin aku dan aku blank, diem, suara parau. Kesal😭 Kenapa harus parau? Kenapa aku tidak menanggapi dengan sangat berterima kasih dan ngobrol dikit? Huuu Di jalan aku nyesel, kepikiran🥲 Waktu aku cerita sama temen temenku, mereka semua kayak satu suara dengan bilang, hayok lah kita kesana, siapa tau ketemu, kita samperin tanya nama dan wa-nya. Aku yang panik! Tapi sampai sekarang aku masih kepikiran😥 Aku pernah ketemu lagi, di tempat yang sama, dan yaudah nggak ada apa apa. Bahkan papasan juga nggak. Aku cuman ngeliatin dari jauh. Apakah semesta gak mendukung? Sedih banget, sampai aku agak cry dikit waktu ngobrol ...
Mau produktif menulis, tapi makin kesini makin membuncah rasa malasku, Hati yang khawatir, cemas berkepanjangan, tiba tiba datang menyerang, Aku ingin produktif, tapi terlalu malas