Langsung ke konten utama

Featured post

Mood Booster❤

Bismillahirrahmanirrahim Sebaik-baik mood booster, adalah kalimat Allah. Buat kalian yang sedang bersedih. Semoga membantu. Terjemahan Al Quran, surah Fushilat. 30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: " Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu " 31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. From me, with a lot of love❤❤❤

Be Tough

Bismillahirrahmanirrahim...


Pura-pura itu menghabiskan energi.
Bikin sering lapar, dan aku kurang suka lapar.

Aku berada disini, di ujung juangku. Menghadapi dunia yang seringkali membuatku terisak. Tapi aku tak punya alasan untuk menyerah, Karena hidup memang begini adanya.

Setiap orang sungguh punya ujian yang berbeda-beda.

Ada yang diuji dengan sakitnya, setiap hari harus berinteraksi dengan jarum suntik dan obat-obatan. Tubuh yang kian melemah, jarum yang silih berganti ditusukkan ke pembuluh yang berbeda-beda., menyisakan bekas biru lebam. Obat yang tak pernah ada habisnya diminum.
Pikiranmu yang mulai jenuh seolah hidup ini hanya tinggal menghitung hari. Setiap hari disuguhkan makanan yang tak menyelerakan, tak dimakan lapar, dimakan terasa tak nyaman. Badan yang kian kurus, wajah yang selalu kuyu. Tawa yang tak lagi terdengar, bahkan seulas senyum pun tak ku dapatkan dari wajahmu.
Dulu kerabatmu sering mengunjungimu, menanyakan kabar. Kini mereka tak lagi ada, mulai sibuk dengan hidupnya masing-masing, dan mulai bosan dengan kabarmu, kenapa tak kunjung membaik.

Kamu ingin menangis, menjerit, mengadu kenapa harus aku yang menjalani hidup seperti ini?
Tapi rasanya hampa. Bahkan air matamu pun kering sudah.
Bahkan kalau boleh meminta, kamu berkali-kali memohon agar diambil saja ke pangkuanNya. Karena kamu tak sanggup lagi menenggak obat pahit itu. Dan kamu tak lagi sanggup merasakan nyerinya ujung jarum yang menembus dagingmu.
Hingga dalam sunyinya malam itu, kau terisak dan mempertanyakan satu kalimat sakral pada Tuhanmu.
Ya Allah, kenapa harus aku?

***

Ada pula yang diuji dengan berpisah dari keluarga, yang sama tak menyenangkannya.
Kamu jauh dari orang tua, demi sesuap nasi, yang ternyata ketika kamu suapkan ke mulutmu rasanya jadi hambar. Tak seenak yang kamu bayangkan.
Kamu jauh dari orang tua, demi sebuah titel, yang ternyata ketika hari kamu diwisuda, orang tuamu tak hadir karena sudah ringkih.
Kamu jauh dari orang tua, demi sebuah keluarga kecil barumu, yang ternyata ketika kamu berbahagia, kamu tak bisa memeluk orang tuamu.
Kamu jauh dari orang tua, demi satu masa depan yang tak pasti, yang ternyata setiap harinya kamu lalui dengan terseok-seok menahan pedih.
Kamu jauh dari orang tua, demi hidup yang lebih baik, tapi nyatanya hidupmu tak kunjung baik.
Dan yang lebih membuat skenario ini semakin terasa buruk adalah orang tuamu lebih dulu pergi dipanggil Illahi, ketika kamu tak bersama mereka. Memilukan, ketika pulangmu hanya disambut raganya yang siap berselimutkan tanah dingin.

Berapa kali kamu ingin menyerah di tanah rantau?
Berapa kali kamu ingin membuang semua harga dirimu dan menangis memeluk orang tuamu. Kamu ingin kembali menjadi anak kecil yang sedikit-sedikit menangis, sedikit-sedikit mengadu.
Namun usia dan pikiranmu menghalangi semuanya. Aku tak ingin membebani mereka, pikirmu. Tapi ditanggung sendiri, sungguh pundakmu tak kuat bukan?

Sudah hampir ratusan kali ingin menghubungi mereka dan bilang "Bapak. Ibu. Boleh aku pulang saja? Ini terlalu berat". Tapi semua kalimat itu masih tercekat di tenggorokan. Tidak sampai hati keluar.
Bukankah bapak dan ibumu juga harus menghadapi hari yang tak mudah juga. Lalu untuk apa anak kesayangannya ini tiba-tiba menangis mengeluhkan hidupnya?
Kamu tidak setega itu, kan?
Dan lagi-lagi, kamu hanya bisa berdiam diri, mencoba kuat. Lalu ketika pertahananmu runtuh, hanya satu kalimat yang kemudian kamu pertanyakan di hadapan Tuhanmu.
Ya Allah, kenapa harus aku?

Inilah dunia dan seisinya.

Aku tau tak mudah, aku pun tak mampu kalau harus bertukar posisi denganmu. Kamu pun pasti tak akan mampu bila harus menjadi aku.

Kita punya ujiannya masing-masing. Jangan kemudian kamu katakan 'Aku ingin menjadi kamu', karena kamu tak akan bisa menanggungnya.

Lalu apa jalan keluarnya?
Shalat dan sabar.

Klise memang. Basi kamu bilang.
Tapi memang itulah jalan keluarnya. Kamu hanya perlu shalat dan sabar.

Semua orang diuji, tapi mereka tidak memperlihatkan kesusahannya di hadapan yang lain. Dan kalau pun ada yang memperlihatkannya, it's okay, manusiawi.
Tugas kita hanya tidak perlu merasa hidup ini tidak adil. Jangan pernah berpikir, kenapa hidup mereka senyaman ini? 
Sayang, kamu hanya tidak tau. Kamu tidak pernah tau luka seseorang, dan kamu tidak perlu mencari tau.

Memang dunia, sekeras ini. Memang harus seberdarah-darah ini.
Dunia ini memang begitulah fitrahnya.
Aku pun sering kali jatuh, mempertanyakan kepadaNya, kapan ini semua akan berakhir?
Tapi Dia hanya diam. Aku pun ribuan kali menangis, Ya Allah kenapa sesulit ini? Dan Dia lagi-lagi tak memberiku jawaban. Aku sampai pada permintaan, Ya Allah tolong bicaralah padaku. Doa yang nyaris putus asa.

Aku pun mengalami apa yang kamu rasakan, ini tidak hanya tentang kamu dan ujianmu, semua orang sedang berjuang di ujiannya masing-masing.
Maka, jangan merasa sendirian.

Allah punya rencana, dan kita harus percaya itu.

Allah sudah memberi jawaban, kita yang hanya tak mendengar jawabnya. Mungkin pendengaran kita perlu dibuat peka sedikit. Allah menguatkanmu selama ini, hanya tangismu yang tak kunjung reda, membuatmu tak sadar bahwa Allah sudah memberikan pertolongan.

***

Ujiannya para Nabi, sahabat Nabi, dan orang-orang sholeh terdahulu, berkali-kali lipat lebih perih. Mereka juga diuji. Mereka orang-orang yang tak perlu dipertanyakan lagi perihal keimanannya pada Allah. Mereka diuji.
Dan kita, yang seharusnya dipertanyakan keimanannya, barusan diuji dengan ujian yang lebih ringan dari mereka. Lantas kenapa kita khawatir?
Kita pun tidak boleh menyerah.
Cerita mereka disampaikan dalam Al Quran, untuk menjadi penawar kesedihan generasi sesudahnya.

Maryam yang memiliki Isa tanpa seorang bapak, menghadapi semua fitnah seorang diri. Mengandung dan melahirkan tanpa bantuan siapapun. Tapi Maryam sesungguhnya tidak sendirian, dia bersama Tuhannya. Kemudian Allah menurunkan Malaikat Jibril untuk memberikan kabar gembira dan meneguhkannya.
"Maka dia (Jibril) berseru kepadanya dari tempat yang rendah, Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu" (QS. Maryam : 24)

Masih banyak lagi cerita perjuangan orang-orang sholeh yang diuji dan bagaimana cara Allah menenangkan kesedihan mereka.

Jadi, Sayang, jangan bersedih.
Subhanallah, sekeras apasih hidupmu?
Tersenyumlah. Kita punya Allah yang akan segera memberikan pertolonganNya.

Be tough
Jangan menangis terus.

Be tough
Berhenti terlalu cemas dan khawatir.

Be tough
Tuhanmu tiada pernah meninggalkanmu (QS. Ad Duha).

Be tough
Tuhanmu tidak akan membebanimu melampaui batas kesanggupanmu.

Be tough
Tuhanmu sedang mempersiapkan bahagiamu.

Sayang, kuatlah. Tangguhlah.
Jadikan Allah satu-satunya penolongmu, cukuplah Allah sebagai sebaik-baik penolong.
Perbaiki shalatmu, perbanyak shalatmu, dan seringlah memohon agar diberikan kekuatan menghadapi semua ini.

Taukah kamu apa yang dilantunkan oleh Nabi Yunus ketika beliau berada di dalam perut ikan paus?
Beliau tidak berdoa meminta dikeluarkan dari perut ikan tersebut, beliau justru berdoa memohon ampunan kepada Allah.

Sayang, mungkin doamu belum banyak. Perbanyak lagi doamu ya. Basahi lisanmu dengan dzikir yang tak boleh putus.

Sayang, be tough ya!

*** 
PS:

"Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku ..." (QS. Thaha)
"Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tak sanggup memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan berikan rahmat kepada kami" (QS. Al Baqarah)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Hardest Part (1)

Bismillahirrahmanirrahim... Aku akan memberanikan untuk membuka sebuah luka dalam hidupku. Ini tentang sesuatu yang menimpaku setahun yang lalu. Jika ada dari kalian yang merasa tidak nyaman dengan tulisan ini, bisa skip saat ini juga. Tulisan ini entah akan jadi berapa bagian. Saking panjang dan lamanya. *** Kalian mungkin pernah mampir ke tulisanku di bulan maret 2023, judulnya NKTCTHI (Nanti Kita Tidak Cerita Tentang Hari Ini) yang juga ada part 2-nya .  Aku kekeuh selama itu tidak ingin membuka luka ini di blog-ku, karena aku masih beranggapan ini adalah sebuah aib. Tapi waktu berlalu, banyak pengalaman yang ku dapat, banyak artikel dan cerita orang lain bersliweran, yang membuat aku mengerti bahwa ini bukanlah aib, dan tak apa kalau kita terbuka membicarakan ini. Luka ini seperti luka luka lain yang normal untuk dimiliki dan bisa sembuh. Luka ini bisa terjadi pada siapa saja. Luka ini pun bukanlah dosa, jadi tak apa. Tujuan aku menceritakan luka ini adalah aku sangat berharap...

Mood Booster❤

Bismillahirrahmanirrahim Sebaik-baik mood booster, adalah kalimat Allah. Buat kalian yang sedang bersedih. Semoga membantu. Terjemahan Al Quran, surah Fushilat. 30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: " Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu " 31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. From me, with a lot of love❤❤❤

My Hardest Part (4)

Bismillahirrahmanirrahim... Baca dulu part sebelumnya ya, part 1 , part 2 , dan part 3 . Hari-hari berjalan perlahan. 21 Maret itu aku mulai memberanikan diri jalan berdua dengan temanku ke kafe di kota kami. Pagi-pagi kami sudah duduk manis memesan es stroberi dan nasi goreng. Kafe-nya masih sepi. Sejak itu, aku mulai berani membuka diri di keramaian (yang sepi). Selama sakit aku sama sekali tidak keluar rumah untuk main, pikiranku runyam sekali, aku lebih suka tiduran di samping ibuku. Dan kini aku menatap jalan raya dari balik jendela kafe.  Ah. Menyenangkan bisa kembali setelah nyaris kehilangan diriku . Setelah dari kafe, kami ke miniso, kemudian jalan memutari sebuah kebun hijau. Aku bersyukur untuk banyak hal. Aku mulai kembali kerja lagi. Walau masih tertatih. Atasanku sangat bijaksana saat itu, beliau memberikan aku ruang dan waktu hingga pemulihanku.  Beliau tidak menuntut banyak hal. Aku menjalani hari yang terik dan hujan yang dingin. Ku nikmati tiap detailnya deng...

😫

Banyak yang ingin ku tuliskan, tapi aku masih urung. Rasanya terlalu banyak yang ingin dibagikan, mulai dari hikmah Allah memperjalankan aku ke Jakarta, koperku yang kode kuncinya berganti, rekeningku yang ludes, sampai semua halnya. Aku bingung mau menulis darimana... Emosiku masih menyertai tiap tulisan ini. Tiap kali aku bercerita, perasaanku masih tidak nyaman, rasanya aku linglung. Entah bagaimana aku memaknai hidupku, yang pasti aku yakin Allah akan menggariskan yang terbaik. Memang pedih menjalaninya, tapi pasti semua yang terbaik✨ Huaaaaaaaaa

My Hardest Part (2)

Bismillahirrahmanirrahim Tulisanku kedua, yang pertama bisa baca disini . Aku tidak tau kapan tulisan ini akan rampung ya.  *** Aku dan ibu akhirnya membuat janji temu dengan psikiater. Malam-malam gerimis kami memesan taksi online. Aneh rasanya di sepanjang perjalanan, apalagi saat supirnya mencoba ramah dengan bertanya apakah kami mau berobat? Berobat apa? Padahal satu-satunya dokter yang ada saat itu adalah dokter jiwa. Aku bertemu psikiater. Rasa di dalam dadaku campur aduk. Takut, malu, sedih, dan emosi lain silih berganti. Aku menceritakan apa yang ku alami pada dokternya, sambil menggegam erat buku jariku, sesekali aku menangis. Dokternya merespkan obat, mengatakan padaku bahwa sakitku ini memang ada, namanya anxiety disorder  atau gangguan kecemasan berlebih, dan bisa diobati.  Waktu pengobatannya enam bulan. Tapi sebenarnya waktu pengobatannya fleksibel, bisa lebih cepat, bisa juga lebih lama. Bahkan bisa tahunan. Aku lemas dan gontai berjalan keluar ruangan. Puk...

Catur dan Filosofi Absurdku

Sedari kecil bapakku yang master catur (ceilah) sudah mengajariku bermain catur. Dari sekian banyak permainan catur, ada satu serangan yang sangat berkesan dan selalu ku coba untuk lakukan ke lawan mainku. Tapi selalu gagal karena 'kebetulan' mereka melakukan gerakan lain, sehingga serangan fajarnya gagal total. Fyi, serangan fajar yang dilakukan bapakku tadi, berhasil melumpuhkan aku dalam waktu sepersekian menit. Mungkin 2 sampai 5 menit. Sangat traumatis! Anyway, aku suka bermain catur, kalau boleh dikatakan, tingkatanku di atas pemula lah. Aku bisa menang kalau lawanku seimbang, tapi kalau lawanku sudah pro, aku akan K.O juga. Sore ini aku main catur online saja, karena di rumah tidak ada yang bisa catur kecuali bapak. Dan bapak sangat repot. Ternyata lumayan seru juga, aku melawan manusia sungguhan soalnya, bukan robot. Sore ini aku menang. Hehe Di sekolah aku bolak balik bermain catur, tentu sama bapak bapaknya, karena ibu ibunya tidak ada yang bisa main. Satu satunya ibu...

Surat Terbuka untuk Kelas XII 2018

Demi menulis apa yang sedang menyesaki kepala, sampai rela meninggalkan soal ulangan yang padahal dikejar deadline. Bismillahirrahmanirrahim... Jadi, malam ini, Nak. Postingan ini ditujukan untuk kalian anak-anak ibu yang lucu dan menggemaskan (pada akhirnya kalian menjadi lucu dan menggemaskan bagi ibu). To be honest , jarang sekali momen paska perpisahan itu baper ya, sampai-sampai tertuang di blog ini. Tapi mungkin dua tahun cukup lah sebagai pertimbangan kenapa kalian agak berkesan hingga akhirnya ibu rela menuliskan surat ini disini.

Kos Putri 165

  Assalamu'alaikum, Blogger...   Tidak terasa sudah 3 tahun saya tinggal di kota cantik ini. Menjadi pendatang memang bukan h al yang mudah, karena selain kita harus bisa beradaptasi, kita juga harus bisa menemukan tempat tinggal yang cocok dan nyaman. Selama ini saya sudah 3 kali pindah kos-kosan. Mulai dari di daerah Yos Sudarso, Pangeran Samudera, dan yang terakhir di Borneo. Alhamdulillah, sekarang saya sudah menemukan kos yang sesuai dengan keinginan saya. Nah, dengan segala kerendahan hati saya :D Hari ini saya akan berbagi pengalaman selama berada di kos saya ini, yaitu Kost Putri 165. Yuk disimak!

Surat Cinta

Lagi lagi, ku tuliskan surat cinta ini. Aku berharap kamu membacanya, meski aku tau ini harapan yang mustahil. Jadi ku tuliskan saja untuk semuanya, semoga angin membawa kabar gembira ini sampai di telingamu. *** Aku masih suka melihatmu, Begitu melihatmu, darahku benar benar berdesir cepat sekali, telapak tanganku dingin, dan aku susah berpikir dengan jernih. Aku tergagap, tidak bisa berbicara, bahkan tersenyum pun enggan. Padahal aku sesuka itu padamu. Benar kata orang orang, kalau perempuan suka, jangankan bicara, menoleh pada orang yang ia sukai pun tak sudi. Aku sungguhan tidak bisa melihatmu dengan baik. Sebelumnya aku sudah berlatih untuk menatapmu barang 3 detik saja, kata para ahli, itu bisa menjadi pengirim sinyal kalau kita suka dengan orang tersebut. Aku sudah bertekad akan mencobanya, mencoba menatapmu. Tapi sial, baru sepersekian mili detik kita bertatapan saja, aku sudah kacau tidak karuan, aku buru buru buang muka. Menatapmu saja aku tidak bisa, apalagi bicara! Aku kada...

Kejujuran itu Terlampau Mahal

Hari ini aku berdiri di hadapan banyak pasang mata siswaku, sambil menggenggam puluhan lembar kertas soal.  Minggu lalu kami mengadakan PTS menggunakan aplikasi yang diakses dengan HP. Jaman semakin canggih, bahkan menjawab soal seperti ini saja diharuskan menggunakan teknologi. Ku akui memang lebih mudah menggunakan teknologi ini, tak payah kami mengoreksi jawaban satu satu dengan sebelumnya melubangi LJK pakai obat nyamuk. Walau katanya Lembar Jawaban Komputer, tetap saja mengoreksinya manual. Tapi begitulah~ Itu beberapa tahun silam. Meski kami tak bau asap obat nyamuk lagi, nyatanya teknologi selalu punya celah untuk dikeluhkan. Anak anak lebih suka berlelah lelah mempelajari tips dan trik untuk curang, ketimbang tips dan trik menjawab soal dengan mudah. Kalau guru punya 1001 cara untuk meminimalisir kecurangan, siswa juga punya 1001 cara menyiasati agar bisa curang. Apakah kecurangan senikmat itu? Hingga mereka lebih suka berkubang di dalamnya? Hari ini aku mengulang PTS itu. ...