Sejauh kakiku merantau, melangkah menyambangi kota orang, ternyata kota kelahiranku tetap selalu di hati.
Panas sempit, dan semrawutnya, tetap kota-ku pemenangnya.
Beberapa kali aku menginjakkan kaki ke kota Palangka Raya. Dengan gemerlap dan jalanan yang besar nan tertata, mall yang besar, makanan yang beragam. Tapi tempat singgah tak selalu lebih baik.
Beberapa hari yang lalu, aku main ke Jakarta, jauh sekali takdir Allah membawaku. Aku berpasrah saja. Aku ikut kemana Ia mengajakku pergi. Sebab aku yakin semua rencanaNya selalu membawa kebaikan dan pelajaran.
Namun keramaian dan kepadatan Jakarta, Depok, Bekasi, aku sungguh merindukan kampung kecilku di ujung Kalimantan.
Rumahku yang tak ber-AC, kamar mandinya yang sederhana, halamannya yang tak terlalu luas. Tapi tak apa. Aku cinta rumahku.
Aku menyadari bahwa Jakarta seluas itu. Terminal bandaranya saja luas sekali, mungkin hampir separo kotaku, kalau tak ada uang di Jakarta, jangan harap bisa hidup nyaman. Bahkan untuk menyusuri bandaranya saja, tak bisa hanya jalan kaki.
Aku kini sudah ada di Sampit, kota mungilku.
Aku hirup dalam dalam anginnya, aku rasakan baik baik panasnya. Ah aku sangat bersyukur dan merasa aman di sini.
Walaupun banyak negeri ku jalani, yang mahsyur permai di kata orang.
Tetapi kampung, dan rumahku, disanalah ku rasa senang🫶🏼
Komentar
Posting Komentar