Langsung ke konten utama

Featured post

Mood Booster❤

Bismillahirrahmanirrahim Sebaik-baik mood booster, adalah kalimat Allah. Buat kalian yang sedang bersedih. Semoga membantu. Terjemahan Al Quran, surah Fushilat. 30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: " Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu " 31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. From me, with a lot of love❤❤❤

Perjalanan Singkat

"Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu" (Al Ankabut : 20).

Assalamu’alaikum Blogger…
Sebelum berangkat
Siapa disini yang suka jalan-jalan? Saya suka, suka sekali! Dan beberapa hari yang lalu saya dan kedua teman saya baru saja melakukan sebuah perjalanan. Jauh sih tidak, tapi lumayanlah, menghabiskan waktu tempuh sekitar 30 sampai 60 menit. Tiga puluh menit untuk kecepatan 80 km/jam dan 60 menit untuk kecepatan 20 km/jam. Hehe… Nah saya akan berbagi pengalaman saya melalui artikel ini… Selamat menyimak!
Bunga Rosella adalah alasan kami melakukan perjalanan ini. Saya dan teman-teman sedang menempuh salah satu mata kuliah yang cukup menyita perhatian, yaitu penelitian kimia. Hampir beberapa bulan kami menentukan judul penelitan, membaca referensi, dan konsultasi dengan dosen, akhirnya hari ini kami mulai terjun untuk meneliti. Langkah awal kami adalah mencari sampel. Sampel kami tidak lain adalah bunga rosella, tidak langka sih, tapi cukup susah dicari. Karena sampel yang dibutuhkan banyak, satu orang butuh 1 kg bunga, kalau di dalam kota, susah mencari sebanyak itu. Menurut beberapa orang yang berdomisili di kota ini, bunga rosella paling banyak dikembangbiakkan di daerah Kalampangan. Nah daerah inilah yang menjadi destinasi perjalanan kami.
 Setelah hampir tiga tahun tinggal di Palangka Raya, saya dan teman-teman saya memang tidak pernah melakukan perjalanan jauh, apalagi tanpa tujuan yang jelas. Akibatnya, hari ini kami buta jalan. Kami berangkat sekitar pukul 15.30 WIB, saya, Isna, dan Dahlia. Dengan berbekal alamat dari ibu kosnya Dahlia, kami pun memacu kendaraan. Petunjuk pertama : daerah Kalampangan terletak di arah Palangka Raya – Banjarmasin.
Tapi, tidak semudah itu mencari alamat. Dan disinilah kami, tersesat! Kami singgah di warung kelontong, membeli tiga minuman dingin sambil bertanya jalan, atau mungkin bertanya jalan sambil membeli tiga minuman dingin (niat di hati sih cuma tanya jalan). Setelah dapat petunjuk, kami melanjutkan perjalanan. Jam sudah menunjukkan 15.45 WIB. Maka melajulah kami kearah yang dimaksud, tapi karena si pemberi alamat (alias ibu penjual minuman) pun menjawab dengan ragu-ragu, kami tersesat (lagi). Kami melewati simpang empat jalan lintas Banjarmasin, dan galau. Hati kecil mengatakan ‘belok kiri’, tapi kalau mengikuti petunjuk si ibu penjual minuman tadi, kami harus lurus. Karena ragu-ragu,  kami pun menepikan kendaran dan menelpon salah satu rekan kami yang asli orang Palangka Raya. Plus mampir beli bensin sambil memastikan jalan atau memastikan jalan sambil beli bensin (bahkan nanya jalan pun harus basa-basi ya).  Akhirnya kami mengambil rute awal tadi, belok kiri, jalan Mahir Mahar Kec. Sebangau.
Angin berhembus kencang sekali, sesekali membawa debu dan pasir. Kami bersenang-senang selama perjalanan, yah karena kami memang jarang meluangkan waktu seperti ini. Melewati daerah yang tidak pernah kami lewati, melihat pemandangan, melihat hutan di kiri kanan, dan melihat pembangunan griya-griya rumah yang saling bersaing.
Jam di tangan sudah menunjukkan pukul 16.20 WIB, kami mulai menepi di salah satu penjual jagung dan pisang (kali ini murni bertanya saja, tidak pakai ‘sambil beli’).
“Maaf, Bu mau nanya” Isna mengangkat helm dan membuka percakapan.
“Ya?” si Ibu menjawab, sambil tetap duduk manis di balik meja dagangannya.
“Jalan Manunggal dimana ya, Bu?”
Mendengar kata ‘Manunggal’, ibu tersebut langsung menunjuk jalan beberapa ratus meter di depan kami, warga sekitar yang sedang berkumpul juga ikut mengambil peran dengan menambahkan beberapa petunjuk pada kami. The power of ‘jari telunjuk’. Kami ber-oh saja mendengar penjelasan mereka. Bingung, menjawabnya keroyokan.
 Setelah mendapat banyak petunjuk, kami pun ber’terimakasih’-ria. Dilanjutkanlah perjalanan kami.
Beberapa menit kemudian, saya melihat plang yang bertuliskan ‘Jalan Manunggal’, seolah baru saja melihat harta karun, saya ribut menepuk pundak teman saya. Karena kami kaget dan tidak menyangka akan bertemu jalan secepat ini, ya kebablasan dikit lah. Begitu masuk beberapa meter ke jalan ini, terlihatlah gambaran kehidupan warga disini, kebanyakan warga bercocok tanam. Setiap rumah punya ladang dan kebun, ada juga yang punya kandang sapi.
Petunjuk kedua dari ibu kos Dahlia : cari rumah ibu Emi, rumahnya di dekat SD. Saya sangsi akan menemukan SD di jalan ini, jalannya lumayan kecil, belum di aspal, mungkin jalan ini juga hasil swadaya warga sekitar. Satu mobil saja melewati jalan ini, maka kendaraan lain pun mengalah harus menepi. Saya dan yang lain pun celingak celinguk mencari SD, sampai di ujung jalan pun SD yang dicari tidak ada. Kami malah disuguhkan ladang jagung yang luas sekali, sungai kecil, dan hutan. Maka jurus basa-basi pun digunakan, kami ke sebuah warung kecil di ujung jalan, bertanya rumah ibu Emi sambil beli 2 makanan ringan.
Singkat cerita, setelah beberapa kali nyasar, sampailah kami di rumah ibu Emi. Ternyata rumahnya ya di jalan Manunggal tadi, jangan tanya keberadaan SD, tidak ada SD disitu. Pantasan nyasar, petunjuknya kurang tepat. Rumah ibu Emi ini beton, belum di cat. Halaman depannya dihiasi beberapa tanaman rosella yang sedang berbunga. Setelah bertemu dengan yang punya rumah (tapi bukan ibu Emi), kami pun sedih. Ah rosella yang kami cari-cari baru saja habis di panen, waktu panen berikutnya yakni 3 bulan dari sekarang. Itu pun sudah dipesan orang lain. Habis sedih terbitlah galau. Setelah dijelaskan panjang lebar, kami pun memutuskan pamit. Gagal dapat rosella.
Ladang Rosella
Kami duduk sejenak di halaman depan rumah ibu Emi. Mengistirahatkan kaki, makan snack dan minuman hasil basa-basi tadi. Melihat ladang menghijau di kiri kanan, melihat bibit rosella yang mulai tumbuh. Melihat anak-anak bermain. Disini tenang, nyaman, sejuk. Dari kejauhan melihat matahari yang mulai tenggelam. Kemudian sadar, hei ini bukan saatnya santai, bahaya kalau matahari benar-benar tenggelam dan kami masih disini. Akhirnya kami pun pulang. Perjalanan pulang selalu saja terasa lebih cepat, mungkin karena tidak pakai acara tersesat dan ‘basa-basi’. Haha.
Langit sore yang berhasil saya abadikan
Selama di perjalanan pulang, sesekali mendongak ke langit, melihat kanan-kiri, hamparan hutan yang masih menghijau, dan langit sore yang indah. Allah membuat langit sebegitu detail-nya, sampai yang memandangnya pun tidak bisa berkata-kata, kagum dibuatNya. Langit sore, merah, biru, dan semburat warna khas lainnya. Tak lupa, pesawa jet dan asapnya ikut menyemarakkan senja sore itu. Dan disinilah perjalanan melelahkan kami, walau pulang dengan tangan hampa, kami setidaknya disuguhkan sisi lain Palangka Raya. Ya, sebuah daerah yang jauh dari kota, jauh dari rutinitas yang kadang membuat penat, daerah sejuk dan masih asri, daerah Kalampangan. Terima kasih untuk perjalanan ini.
Semoga bermanfaat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Hardest Part (1)

Bismillahirrahmanirrahim... Aku akan memberanikan untuk membuka sebuah luka dalam hidupku. Ini tentang sesuatu yang menimpaku setahun yang lalu. Jika ada dari kalian yang merasa tidak nyaman dengan tulisan ini, bisa skip saat ini juga. Tulisan ini entah akan jadi berapa bagian. Saking panjang dan lamanya. *** Kalian mungkin pernah mampir ke tulisanku di bulan maret 2023, judulnya NKTCTHI (Nanti Kita Tidak Cerita Tentang Hari Ini) yang juga ada part 2-nya .  Aku kekeuh selama itu tidak ingin membuka luka ini di blog-ku, karena aku masih beranggapan ini adalah sebuah aib. Tapi waktu berlalu, banyak pengalaman yang ku dapat, banyak artikel dan cerita orang lain bersliweran, yang membuat aku mengerti bahwa ini bukanlah aib, dan tak apa kalau kita terbuka membicarakan ini. Luka ini seperti luka luka lain yang normal untuk dimiliki dan bisa sembuh. Luka ini bisa terjadi pada siapa saja. Luka ini pun bukanlah dosa, jadi tak apa. Tujuan aku menceritakan luka ini adalah aku sangat berharap...

My Hardest Part (2)

Bismillahirrahmanirrahim Tulisanku kedua, yang pertama bisa baca disini . Aku tidak tau kapan tulisan ini akan rampung ya.  *** Aku dan ibu akhirnya membuat janji temu dengan psikiater. Malam-malam gerimis kami memesan taksi online. Aneh rasanya di sepanjang perjalanan, apalagi saat supirnya mencoba ramah dengan bertanya apakah kami mau berobat? Berobat apa? Padahal satu-satunya dokter yang ada saat itu adalah dokter jiwa. Aku bertemu psikiater. Rasa di dalam dadaku campur aduk. Takut, malu, sedih, dan emosi lain silih berganti. Aku menceritakan apa yang ku alami pada dokternya, sambil menggegam erat buku jariku, sesekali aku menangis. Dokternya merespkan obat, mengatakan padaku bahwa sakitku ini memang ada, namanya anxiety disorder  atau gangguan kecemasan berlebih, dan bisa diobati.  Waktu pengobatannya enam bulan. Tapi sebenarnya waktu pengobatannya fleksibel, bisa lebih cepat, bisa juga lebih lama. Bahkan bisa tahunan. Aku lemas dan gontai berjalan keluar ruangan. Puk...

Kejujuran itu Terlampau Mahal

Hari ini aku berdiri di hadapan banyak pasang mata siswaku, sambil menggenggam puluhan lembar kertas soal.  Minggu lalu kami mengadakan PTS menggunakan aplikasi yang diakses dengan HP. Jaman semakin canggih, bahkan menjawab soal seperti ini saja diharuskan menggunakan teknologi. Ku akui memang lebih mudah menggunakan teknologi ini, tak payah kami mengoreksi jawaban satu satu dengan sebelumnya melubangi LJK pakai obat nyamuk. Walau katanya Lembar Jawaban Komputer, tetap saja mengoreksinya manual. Tapi begitulah~ Itu beberapa tahun silam. Meski kami tak bau asap obat nyamuk lagi, nyatanya teknologi selalu punya celah untuk dikeluhkan. Anak anak lebih suka berlelah lelah mempelajari tips dan trik untuk curang, ketimbang tips dan trik menjawab soal dengan mudah. Kalau guru punya 1001 cara untuk meminimalisir kecurangan, siswa juga punya 1001 cara menyiasati agar bisa curang. Apakah kecurangan senikmat itu? Hingga mereka lebih suka berkubang di dalamnya? Hari ini aku mengulang PTS itu. ...

Mood Booster❤

Bismillahirrahmanirrahim Sebaik-baik mood booster, adalah kalimat Allah. Buat kalian yang sedang bersedih. Semoga membantu. Terjemahan Al Quran, surah Fushilat. 30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: " Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu " 31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. From me, with a lot of love❤❤❤

Sang Pembaharu

Jujur sebagai manusia biasa yang sedikit idealis, aku cukup lelah mental dan fisik. Belakangan ini dunia semakin bercanda. Negara semakin melucu. Dan makin banyak manusia dengan ambisinya yang beragam, aku tentu berharap ambisinya baik untuk dunia, namun semua itu hanya khayalanku saja. Bahkan tanpa ambisi itu, iklim dunia saja sudah amburadul. Pemanasan global, cuaca ekstrem, dan ancaman kerusakan bumi yang tak main main. Malah sebagian manusia rakus nan tamak justru dengan kesadaran penuhnya, makin semangat dan gelap mata merusak bumi gila gilaan. Ugh. Masalah tiap harinya makin banyak. Baru saja membuka mata di pagi hari, gempuran berita buruk bermunculan. Aku sampai kebingungan dan berharap tidak tau apa apa. Sebagai manusia, aku seperti punya tanggung jawab untuk menjaga lingkungan dan moral di negara yang morat marit ini. Terlebih peranku sebagai guru, aku makin harus 'ideal' untuk menyadarakan ratusan siswaku agar mereka juga mau berkontribusi demi kehidupan yang lebih b...

My Hardest Part (4)

Bismillahirrahmanirrahim... Baca dulu part sebelumnya ya, part 1 , part 2 , dan part 3 . Hari-hari berjalan perlahan. 21 Maret itu aku mulai memberanikan diri jalan berdua dengan temanku ke kafe di kota kami. Pagi-pagi kami sudah duduk manis memesan es stroberi dan nasi goreng. Kafe-nya masih sepi. Sejak itu, aku mulai berani membuka diri di keramaian (yang sepi). Selama sakit aku sama sekali tidak keluar rumah untuk main, pikiranku runyam sekali, aku lebih suka tiduran di samping ibuku. Dan kini aku menatap jalan raya dari balik jendela kafe.  Ah. Menyenangkan bisa kembali setelah nyaris kehilangan diriku . Setelah dari kafe, kami ke miniso, kemudian jalan memutari sebuah kebun hijau. Aku bersyukur untuk banyak hal. Aku mulai kembali kerja lagi. Walau masih tertatih. Atasanku sangat bijaksana saat itu, beliau memberikan aku ruang dan waktu hingga pemulihanku.  Beliau tidak menuntut banyak hal. Aku menjalani hari yang terik dan hujan yang dingin. Ku nikmati tiap detailnya deng...

😫

Banyak yang ingin ku tuliskan, tapi aku masih urung. Rasanya terlalu banyak yang ingin dibagikan, mulai dari hikmah Allah memperjalankan aku ke Jakarta, koperku yang kode kuncinya berganti, rekeningku yang ludes, sampai semua halnya. Aku bingung mau menulis darimana... Emosiku masih menyertai tiap tulisan ini. Tiap kali aku bercerita, perasaanku masih tidak nyaman, rasanya aku linglung. Entah bagaimana aku memaknai hidupku, yang pasti aku yakin Allah akan menggariskan yang terbaik. Memang pedih menjalaninya, tapi pasti semua yang terbaik✨ Huaaaaaaaaa

Surat Cinta

Lagi lagi, ku tuliskan surat cinta ini. Aku berharap kamu membacanya, meski aku tau ini harapan yang mustahil. Jadi ku tuliskan saja untuk semuanya, semoga angin membawa kabar gembira ini sampai di telingamu. *** Aku masih suka melihatmu, Begitu melihatmu, darahku benar benar berdesir cepat sekali, telapak tanganku dingin, dan aku susah berpikir dengan jernih. Aku tergagap, tidak bisa berbicara, bahkan tersenyum pun enggan. Padahal aku sesuka itu padamu. Benar kata orang orang, kalau perempuan suka, jangankan bicara, menoleh pada orang yang ia sukai pun tak sudi. Aku sungguhan tidak bisa melihatmu dengan baik. Sebelumnya aku sudah berlatih untuk menatapmu barang 3 detik saja, kata para ahli, itu bisa menjadi pengirim sinyal kalau kita suka dengan orang tersebut. Aku sudah bertekad akan mencobanya, mencoba menatapmu. Tapi sial, baru sepersekian mili detik kita bertatapan saja, aku sudah kacau tidak karuan, aku buru buru buang muka. Menatapmu saja aku tidak bisa, apalagi bicara! Aku kada...

Jadi Guru Itu...

Jadi guru dulu ku kira pekerjaan yang gampang sekali. Ternyata sulitnya minta ampun! *** Cita cita pertamaku jadi guru. Sebab jadi dokter atau perawat terlalu berisiko. Sejak aku kecil aku sudah menyadari diriku tidak mampu mengemban tanggung jawab seberat itu. Maka ku putuskan aku akan menjadi guru. Entah kenapa rasanya menyenangkan, melihat bapak ibu guruku dulu di depan kelas. Maka disinilah aku, sedang menikmati sarapanku di ruang kantor yang sepi di hari senin pagi, dalam balutan pakaian seragam dinas.  Ternyata setelah satu dekade aku mengajar, aku tak hanya mengajar. Aku juga jadi detektif, jadi hakim, perawat, psikolog, jadi apa saja semua ku kerjakan demi melindungi anak anak. Melindungi yang diartikan secara luas ya, melindungi yang tidak bisa diartikan secara gamblang oleh pemikiran anak anak. Hari ini aku menemui lagi, kasus anak anak yang menderita stres berat, sampai panic anxiety . Mungkin karena aku pernah mengalaminya, aku tau bagaimana mengatasinya. Tapi banyak p...

My Hardest Part (3)

Bismilahirrahmanirrahim Ditulis selepas shalat maghrib. Baca dulu part sebelumnya ya, part 1 dan part 2 *** Berbagai metode dan pendekatan sejatinya sudah pernah ku jajal. Mulai dari ruqyah syyariah bersama ustadz, dibacakan doa oleh ibuku sendiri, dibuatkan air doa dari air wudhu oleh ibuku sendiri, diberi tips dzikir oleh suami sepupuku, dibawakan air zam-zam dari temanku, dibawa ke psikiater, diskusi dengan psikolog, bahkan juga mencoba hipnoterapi. Tapi khusus hipnoterapi aku pribadi sangat tidak menyarankan. Karena menurut ust Zaidul Akbar pun beliau tidak membolehkan. Padaku juga dampaknya langsung terasa, kambuh maag-ku sepulang dari sana, dan keadaanku semakin memburuk. Awalnya aku masih bisa makan minum dan kerja, setelah sesi hipnoterapi justru aku muntah-muntah, diare, sekujur tubuhku dingin dan ngilu. Banyak sekali naik turun terjalnya perjalananku. Sulit untuk ku ungkap secara detail, saking ruwet dan kompleksnya. Aku masih terus menemui psikiater hingga awal bulan maret....