Langsung ke konten utama

Featured post

Mood Booster❤

Bismillahirrahmanirrahim Sebaik-baik mood booster, adalah kalimat Allah. Buat kalian yang sedang bersedih. Semoga membantu. Terjemahan Al Quran, surah Fushilat. 30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: " Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu " 31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. From me, with a lot of love❤❤❤

Sudahkah Kamu "Selesai" dengan Dirimu Sendiri?

Pertanyaan ini terus terbayang dan belum terjawab. 
"Sudahkah aku selesai dengan diriku sendiri?"

Memutuskan untuk menikah... Menghadapi semua perubahan dan siap ikhlas dengan semua itu, bukan hal yang mudah bagiku. Setidaknya sampai beberapa hari yang lalu. 

Berkenalan >> membuka hati >> memeriksa latar belakang >> beradaptasi dengan keluarga baru >> hidup berdampingan >> keluar dari rumah yang ku tinggali >> mengurus rumah tangga >> punya anak >> kurang istirahat... Dan sederet perubahan drastis yang menyertai fase "menikah".

Apakah aku siap? 

Siap atau tidaknya, kita tidak akan pernah tau. Karena bisa saja kita katakan kita tidak siap, tapi setelah dijalani, ternyata mampu. Atau kita jumawa menjawab siap, namun kalang kabut dan ngedumel tiap prosesnya. 

Tidak ada yang tau. 

Satu hal yang pasti adalah, selesaikan urusan bersama dirimu terlebih dahulu! 

Mungkin kalian bingung. Apasih maksudnya? 

***

"Me time" Waktu untuk diri sendiri. Sudahkah kita meluangkan waktu untuk mengenali diri kita? Apakah sudah selesai? Atau... Masih berlanjut? 
Apakah me time kita adalah sebuah kebutuhan? Atau mulai berlebihan? 

Seperti saat kita menatap cermin. Apakah kita hanya menatap cermin saat kita ingin merapikan rambut atau kita menatap cermin hanya untuk melamun saja?

Apakah me time kita kini menjadi sesuatu yang serakah dan egois? 

Kalau kalian ingin tau... Cukup dengan, bisakah kalian melewatkan tidur siang kalian untuk membelikan ibu kalian makan siang, karena diminta ibu? Atau menolak permintaan itu dan lanjut tidur? 

Bisakah kalian begadang demi merawat ibu yang sakit? Padahal seharian ini kalian tidak beristirahat sama sekali? 

Atau.. Bisakah kalian menghentikan game online kalian demi mengangkat jemuran ketika hari mulai mendung? 

Kalau kalian menjawab iya, artinya kalian telah selesai dengan diri kalian dan siap ke fase kehidupan berikutnya. :) 

Karena... Fase yang saat ini kalian jalani adalah fase tentang diri kalian sendiri. Saat dimana kalian punya banyak pilihan untuk egois atau kalian memilih mengalah. 
Saat dimana kalian bisa tidur siang sepanjang waktu, bangun kapanpun, makan apa saja, foya foya, beraktivitas sesuka kalian, main seharian, tidur larut malam dll. Tidak ada yang akan protes atau mengatur hidup kalian sedemikian rupa. You live your own life. 

Sementara... Setelah menikah, kalian mungkin tidak akan punya kesempatan melakukan sesuka kalian. Katakanlah seperti bangun siang, sedangkan ada pakaian yang harus dicuci, ada sarapan yang harus disiapkan, ada keluarga yang mesti diperhatikan. Apalagi setelah punya anak, jam tidur kacau. Bangun dini hari, tidur pagi. Tidur dua menit, bangun lima jam. Sanggupkah? 

Kalaulah masih terasa berat, sebaiknya jangan menikah. :) 
Kenapa? 
Karena nanti negative vibes kalian justru menghancurkan rumah tangga. 
Kalian yang masih enggan mengalah, kalian yang egois dan tidak ingin rutinitas kalian jadi berubah setelah menikah. Yap. Sebaiknya tidak perlu menikah. 

Karena menikah dan kehidupan yang mengiringinya adalah tentang mengalah dan berbaur. 
Bagaimana kalian mengalah pada jam tidur, mengalah tentang kebiasaan makan, mengalah tentang beberapa prinsip, mengalah untuk tidak berdebat. 

Menikah adalah tentang mengalah. 

Banyak kebiasaan yang pasti berubah. Mulai dari kebiasaan bangun tidur sampai tidur lagi.
Apakah siap dengan perubahan itu? 

Menikah tidak melulu uwu uwu, hal manis yang dijadikan bahan pamer. Menikah adalah komitmen. Menjalani hidup bersama seseorang asing dan beribadah bersama. Menikah adalah... Tentang bisa tidaknya kalian mengatasi perselisihan dan beda pendapat, mencari solusi, bukan sekadar lari dari masalah dan memlilih bercerai.

Menikah berarti berjuang bersama di jalan Allah, sevisi, satu misi, berdakwah. Bukan melulu harus dilakukan dengan syiar agama mengisi ceramah di surau, tapi menjalani kehidupan berumah tangga sesuai tuntunan Nabi, mendidik generasi Islam dengan sunnah dan Al Quran, mencintai pasangan Lillah. Bisakah? 

:) 

Banyak yang berhasil menikah, namun gagal mempertahankan pernikahannya. 

Aku... Tidak mau seperti itu. 

***

Semenjak Maryam hadir dalam hidupku, aku mulai belajar untuk menyiapkan diriku. Bahwa aku harus banyak mengalah. Terutama perkara jam istirahatku. 

Aku cukup sensitif pada jam istirahat... Namun, demi Maryam yang rewel, aku rela bangun. Hehe

Aku akhirnya berpikir, memang beginilah seharusnya. 

Sampai detik ini, aku terus belajar... Mengalah, ikhlas, dan tidak egois dalam menjalani hidup. Walau memang tidak mudah. 

Semoga aku mampu menemukan seseorang yang membuat aku 'mengalah' pada me time ku :) 

***

Ps: ya Allah... Moga sehat ya :(

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Hardest Part (1)

Bismillahirrahmanirrahim... Aku akan memberanikan untuk membuka sebuah luka dalam hidupku. Ini tentang sesuatu yang menimpaku setahun yang lalu. Jika ada dari kalian yang merasa tidak nyaman dengan tulisan ini, bisa skip saat ini juga. Tulisan ini entah akan jadi berapa bagian. Saking panjang dan lamanya. *** Kalian mungkin pernah mampir ke tulisanku di bulan maret 2023, judulnya NKTCTHI (Nanti Kita Tidak Cerita Tentang Hari Ini) yang juga ada part 2-nya .  Aku kekeuh selama itu tidak ingin membuka luka ini di blog-ku, karena aku masih beranggapan ini adalah sebuah aib. Tapi waktu berlalu, banyak pengalaman yang ku dapat, banyak artikel dan cerita orang lain bersliweran, yang membuat aku mengerti bahwa ini bukanlah aib, dan tak apa kalau kita terbuka membicarakan ini. Luka ini seperti luka luka lain yang normal untuk dimiliki dan bisa sembuh. Luka ini bisa terjadi pada siapa saja. Luka ini pun bukanlah dosa, jadi tak apa. Tujuan aku menceritakan luka ini adalah aku sangat berharap...

Kejujuran itu Terlampau Mahal

Hari ini aku berdiri di hadapan banyak pasang mata siswaku, sambil menggenggam puluhan lembar kertas soal.  Minggu lalu kami mengadakan PTS menggunakan aplikasi yang diakses dengan HP. Jaman semakin canggih, bahkan menjawab soal seperti ini saja diharuskan menggunakan teknologi. Ku akui memang lebih mudah menggunakan teknologi ini, tak payah kami mengoreksi jawaban satu satu dengan sebelumnya melubangi LJK pakai obat nyamuk. Walau katanya Lembar Jawaban Komputer, tetap saja mengoreksinya manual. Tapi begitulah~ Itu beberapa tahun silam. Meski kami tak bau asap obat nyamuk lagi, nyatanya teknologi selalu punya celah untuk dikeluhkan. Anak anak lebih suka berlelah lelah mempelajari tips dan trik untuk curang, ketimbang tips dan trik menjawab soal dengan mudah. Kalau guru punya 1001 cara untuk meminimalisir kecurangan, siswa juga punya 1001 cara menyiasati agar bisa curang. Apakah kecurangan senikmat itu? Hingga mereka lebih suka berkubang di dalamnya? Hari ini aku mengulang PTS itu. ...

My Hardest Part (2)

Bismillahirrahmanirrahim Tulisanku kedua, yang pertama bisa baca disini . Aku tidak tau kapan tulisan ini akan rampung ya.  *** Aku dan ibu akhirnya membuat janji temu dengan psikiater. Malam-malam gerimis kami memesan taksi online. Aneh rasanya di sepanjang perjalanan, apalagi saat supirnya mencoba ramah dengan bertanya apakah kami mau berobat? Berobat apa? Padahal satu-satunya dokter yang ada saat itu adalah dokter jiwa. Aku bertemu psikiater. Rasa di dalam dadaku campur aduk. Takut, malu, sedih, dan emosi lain silih berganti. Aku menceritakan apa yang ku alami pada dokternya, sambil menggegam erat buku jariku, sesekali aku menangis. Dokternya merespkan obat, mengatakan padaku bahwa sakitku ini memang ada, namanya anxiety disorder  atau gangguan kecemasan berlebih, dan bisa diobati.  Waktu pengobatannya enam bulan. Tapi sebenarnya waktu pengobatannya fleksibel, bisa lebih cepat, bisa juga lebih lama. Bahkan bisa tahunan. Aku lemas dan gontai berjalan keluar ruangan. Puk...

Mood Booster❤

Bismillahirrahmanirrahim Sebaik-baik mood booster, adalah kalimat Allah. Buat kalian yang sedang bersedih. Semoga membantu. Terjemahan Al Quran, surah Fushilat. 30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: " Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu " 31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. From me, with a lot of love❤❤❤

Selamat Berpisah, Tuan

Selamat berpisah, Tuan Terima kasih karena menyempatkan singgah ke pelukan gadis malang sepertiku, Terima kasih untuk antusiasmu yang hanya sebentar, Terima kasih telah membawakan aku sebongkah harapan yang merekah, Terima kasih sebab menjadi mimpi baikku sampai sekarang. Kamu benar Tuan, kurasa ini karmaku, Karena telah menyia-nyiakanmu, Karena berbohong padamu dan pada perasaanku, Aku sedikit menyesal, Tuan. Mestinya aku mengaku. Tapi apakah itu akan mengubah hari ini? Apakah dengan kejujuranku, kamu tidak akan pergi? Aku meraba-raba, kenangan kita di masa lampau, Kamu hadir di saat aku sangat terjebak dalam kubangan gelap pikiranku, Kamu menawarkan cinta tulus nan sederhana. Lantas, semudah itu perasaanmu berubah Tuan Apakah tak ada sedikit pun rasa yang tertinggal? Aku memang gadis bodoh. Benar aku bagus dalam pelajaran, Tapi sangat bodoh dalam perasaan, Aku ingin membencimu Tuan, Tapi hatiku berontak, Penat. Selamat berpisah, Tuan Aku mengikhlaskanmu. Aku tak apa. Sudah biasa. Han...

Sang Pembaharu

Jujur sebagai manusia biasa yang sedikit idealis, aku cukup lelah mental dan fisik. Belakangan ini dunia semakin bercanda. Negara semakin melucu. Dan makin banyak manusia dengan ambisinya yang beragam, aku tentu berharap ambisinya baik untuk dunia, namun semua itu hanya khayalanku saja. Bahkan tanpa ambisi itu, iklim dunia saja sudah amburadul. Pemanasan global, cuaca ekstrem, dan ancaman kerusakan bumi yang tak main main. Malah sebagian manusia rakus nan tamak justru dengan kesadaran penuhnya, makin semangat dan gelap mata merusak bumi gila gilaan. Ugh. Masalah tiap harinya makin banyak. Baru saja membuka mata di pagi hari, gempuran berita buruk bermunculan. Aku sampai kebingungan dan berharap tidak tau apa apa. Sebagai manusia, aku seperti punya tanggung jawab untuk menjaga lingkungan dan moral di negara yang morat marit ini. Terlebih peranku sebagai guru, aku makin harus 'ideal' untuk menyadarakan ratusan siswaku agar mereka juga mau berkontribusi demi kehidupan yang lebih b...

My Hardest Part (4)

Bismillahirrahmanirrahim... Baca dulu part sebelumnya ya, part 1 , part 2 , dan part 3 . Hari-hari berjalan perlahan. 21 Maret itu aku mulai memberanikan diri jalan berdua dengan temanku ke kafe di kota kami. Pagi-pagi kami sudah duduk manis memesan es stroberi dan nasi goreng. Kafe-nya masih sepi. Sejak itu, aku mulai berani membuka diri di keramaian (yang sepi). Selama sakit aku sama sekali tidak keluar rumah untuk main, pikiranku runyam sekali, aku lebih suka tiduran di samping ibuku. Dan kini aku menatap jalan raya dari balik jendela kafe.  Ah. Menyenangkan bisa kembali setelah nyaris kehilangan diriku . Setelah dari kafe, kami ke miniso, kemudian jalan memutari sebuah kebun hijau. Aku bersyukur untuk banyak hal. Aku mulai kembali kerja lagi. Walau masih tertatih. Atasanku sangat bijaksana saat itu, beliau memberikan aku ruang dan waktu hingga pemulihanku.  Beliau tidak menuntut banyak hal. Aku menjalani hari yang terik dan hujan yang dingin. Ku nikmati tiap detailnya deng...

Jadi Guru Itu...

Jadi guru dulu ku kira pekerjaan yang gampang sekali. Ternyata sulitnya minta ampun! *** Cita cita pertamaku jadi guru. Sebab jadi dokter atau perawat terlalu berisiko. Sejak aku kecil aku sudah menyadari diriku tidak mampu mengemban tanggung jawab seberat itu. Maka ku putuskan aku akan menjadi guru. Entah kenapa rasanya menyenangkan, melihat bapak ibu guruku dulu di depan kelas. Maka disinilah aku, sedang menikmati sarapanku di ruang kantor yang sepi di hari senin pagi, dalam balutan pakaian seragam dinas.  Ternyata setelah satu dekade aku mengajar, aku tak hanya mengajar. Aku juga jadi detektif, jadi hakim, perawat, psikolog, jadi apa saja semua ku kerjakan demi melindungi anak anak. Melindungi yang diartikan secara luas ya, melindungi yang tidak bisa diartikan secara gamblang oleh pemikiran anak anak. Hari ini aku menemui lagi, kasus anak anak yang menderita stres berat, sampai panic anxiety . Mungkin karena aku pernah mengalaminya, aku tau bagaimana mengatasinya. Tapi banyak p...

Tangga Nada

Kurang random apalagi sih aku? Ke toko, malah naksir mas random? Tapi ngalamin starstruck (star in my heart) wkwk Aku selama ini nggak pernah memperhatikan. Entah kenapa minggu itu kayak, kok mas ini manis sih? Udah gitu tinggi dan lembut juga. Tapi akuuuuu masih merasa bodo amat. Walau ketika pulangnya, ada perasaan aneh kayak...aku suka deh sama masnya🥲 Ada momen dia nyamperin aku dan aku blank, diem, suara parau. Kesal😭 Kenapa harus parau? Kenapa aku tidak menanggapi dengan sangat berterima kasih dan ngobrol dikit? Huuu Di jalan aku nyesel, kepikiran🥲 Waktu aku cerita sama temen temenku, mereka semua kayak satu suara dengan bilang, hayok lah kita kesana, siapa tau ketemu, kita samperin tanya nama dan wa-nya. Aku yang panik! Tapi sampai sekarang aku masih kepikiran😥 Aku pernah ketemu lagi, di tempat yang sama, dan yaudah nggak ada apa apa. Bahkan papasan juga nggak. Aku cuman ngeliatin dari jauh. Apakah semesta gak mendukung? Sedih banget, sampai aku agak cry dikit waktu ngobrol ...

My Hardest Part (3)

Bismilahirrahmanirrahim Ditulis selepas shalat maghrib. Baca dulu part sebelumnya ya, part 1 dan part 2 *** Berbagai metode dan pendekatan sejatinya sudah pernah ku jajal. Mulai dari ruqyah syyariah bersama ustadz, dibacakan doa oleh ibuku sendiri, dibuatkan air doa dari air wudhu oleh ibuku sendiri, diberi tips dzikir oleh suami sepupuku, dibawakan air zam-zam dari temanku, dibawa ke psikiater, diskusi dengan psikolog, bahkan juga mencoba hipnoterapi. Tapi khusus hipnoterapi aku pribadi sangat tidak menyarankan. Karena menurut ust Zaidul Akbar pun beliau tidak membolehkan. Padaku juga dampaknya langsung terasa, kambuh maag-ku sepulang dari sana, dan keadaanku semakin memburuk. Awalnya aku masih bisa makan minum dan kerja, setelah sesi hipnoterapi justru aku muntah-muntah, diare, sekujur tubuhku dingin dan ngilu. Banyak sekali naik turun terjalnya perjalananku. Sulit untuk ku ungkap secara detail, saking ruwet dan kompleksnya. Aku masih terus menemui psikiater hingga awal bulan maret....