Langsung ke konten utama

Mudah Tapi Selalu Dilihat Sulit

Assalamu'alaikum Blogger...
Alhamdulillah, hari ini hari ketiga KKN :) tidak menyangka bisa melaluinya... Hari ini saya akan bercerita sedikit tentang KKN saya, iya sedikit saja ya, karena memang baru 3 hari, hehe ;p .Disempat-sempatin posting blog ini. Hihihhi

KKN saya berlokasi di desa Tumbang Tahai kecamatan Bukit Batu Palangka Raya. Dibilang dekat, tidak juga, dibilang jauh, yah lumayanlah. Jaraknya 29 km dari pusat kota. Sekitar 45 menit waktu tempuh jika kecepatan kendaraan Anda 60 km/jam. Posko kami di belakang kantor kelurahan Tumbang Tahai.  Layak? tidak juga, tapi setidaknya ada tempat buat berlindung dari panas dan hujan. Disyukuri saja, alhamdulillah :). Ada dapur darurat, kamar mandi lumayan bersih, dan ruang tidur yang super padat. Sinyal hp juga on terus (saya pengguna T*lkomsel), tapi kasian sinyal hp temen yang lain macet :D. Secara keseluruhan posko bisa dikatakan "baguslah".

Saya perempuan pertama yang bangun di waktu subuh, itu juga saya telat 20 menit dari alarm saya biasanya. Maklum, tidak enak sama yang lain, masih pada sleeping beauty. Mandi di waktu subuh itu bebas, karena yang lain masih selimutan, jadi tidak ada yang nunggu di luar pintu kamar mandi. Sayangnya tidak ada tempat untuk shalat :'( kalau mau shalat harus ke masjid, jaraknya mungkin sekitar 100 meter dari posko, harus menyebrang jalan lintas provinsi dulu. Tapi Allah pasti melindungi hambanya yang mau menjalankan syariatNya kan? Allah selalu berikan kemudahan ketika adzan berkumandang (semoga 27 hari selanjutnya gitu, aamiin) ^^

Masalah makan, makan ya bareng-bareng dengan menu yang seadanya. Makan pertama sama mi goreng, makan kedua sama telur goreng, makan ketiga sama tumis tempe, makan keempat sama sayur bening. Alhamdulillah temen-temen pada rajin dan pintar masak, jadi saya tinggal duduk manis nunggu makanan matang. Hehe. Eh tidak taunya di luar dapur ada jadwal masak ditempel -,-" saya kebagian tugas masak juga hari sabtu. Ya Allah bingung mau meracuni apa buat temen-temen sabtu nanti. Saya tidak pandai masak.

Ini hari ketiga jadwal KKN, tapi saya dan temen-temen pada meninggalkan posko. Alasan dari lubuk hati yang paling dalam itu sebenarnya adalah CAPEK, tapi alasan itu dihias sedemikian rupa sehingga  kata "capek" bisa tereliminasi. Tidur beralaskan semen yang dingin dan keras, silakan bayangkan betapa sedihnya. Apalagi kalau sudah mulai melaksanakan program kerja, sudah siang capek-capekan, malamnya tidak bisa istirahat dengan  nyaman. Jadi tadi malam ceritanya pada mau balik merasakan empuknya kasur. Alhamdulillah, memang kasur itu enaaaakkkk sekali. Wajarlah temen-temen pada ngeluh.

Hari jum'at kemarin hari pertama KKN, sejujurnya saya sudah galau jauh-jauh hari, jadi ketika hari H-nya saya tidak galau lagi. Ternyata temen yang lain (mungkin nyaris semua) mengeluhkan masalah KKN, capek, makanannya gini, tidurnya di lantai, dsb. Saya kira mereka semangat loh, ko malah gini. Saya bingung bagaimana harus menyemangati mereka, semangat saya saja masih 82%.

Listen carefully....
Sebenarnya KKN ini mudah, tapi sayang kita belum bisa benar-benar ikhlas memahaminya. KKN ini adalah keadaan nyata di lapangan. Saat kita harus terjun ke masyarakat, berinteraksi, dan berbaur. KKN ini bentuk pengabdian kita. Apapun yang terjadi, syukuri saja. Makanlah dengan lahap apapun yang dimasak teman kita, masak itu tidak mudah. Jangan justru menangis hanya karena yang dimasak itu sayur, dan kamu tidak suka sayur. Dewasalah, jangan kekanak-kanakan. Jangan terus mengeluh karena lantai itu dingin dan punggungmu kedinginan, tapi carilah solusi agar kamu tidak kedinginan. Jangan menunda dan mengabaikan shalatmu hanya karena lelah, shalat itu WAJIB. Banyak sekali muslim di posko yang tidak shalat, sungguh sedih melihatnya, Ya Allah apa yang harus dilakukan? Be strong and still fighting

KKN ini mudah, tapi kaca mata yang sedang kita kenakan salah, sehingga kita melihat bahwa KKN ini sulit. Ayolah teman-teman seperjuangan, semangatttt.... 27 hari lagi, dan KKN selesai. Semua akan baik-baik saja... ^^

Insya Allah postingan berikutnya akan saya sertakan foto-foto di lokasi :) saya mau mandi yahh, terima kasih sudah baca..
Sekian semoga bermanfaat~

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Himdeureo

Jalan ini sulit, Apakah akan terasa mudah jika melaluinya bersamamu? Aku sekarang tidak mahir membuat tulisan panjang lebar lagi, mungkin karena aku tidak punya objek dalam tulisan ini. Tak ku tujukan pada siapapun, tak ku sematkan untuk siapapun. Tulisan tulisan tak bertuan. Miliki saja bila kau ingin. *** Aku ada disini. Dalam ratusan tulisan yang bisa kau baca tiap hari. Kau bisa mampir jika ingin. Kau bisa membacanya jika rindu. Seolah aku sedang bercakap di depanmu. Kau bisa membawaku dalam semua kegiatanmu. Saat kau menunggu antrian, saat kau sedang bosan, saat kau akan tidur. Aku selalu ada. Tapi bagiku, kau tidak ada dimanapun. Kau tidak bisa ku temukan dalam apapun. Kau tidak akan pernah hadir walau ku cari bertahun tahun. *** Aku membencimu, sebanyak aku ingin melupakanmu.

My Hardest Part (1)

Bismillahirrahmanirrahim... Aku akan memberanikan untuk membuka sebuah luka dalam hidupku. Ini tentang sesuatu yang menimpaku setahun yang lalu. Jika ada dari kalian yang merasa tidak nyaman dengan tulisan ini, bisa skip saat ini juga. Tulisan ini entah akan jadi berapa bagian. Saking panjang dan lamanya. *** Kalian mungkin pernah mampir ke tulisanku di bulan maret 2023, judulnya NKTCTHI (Nanti Kita Tidak Cerita Tentang Hari Ini) yang juga ada part 2-nya .  Aku kekeuh selama itu tidak ingin membuka luka ini di blog-ku, karena aku masih beranggapan ini adalah sebuah aib. Tapi waktu berlalu, banyak pengalaman yang ku dapat, banyak artikel dan cerita orang lain bersliweran, yang membuat aku mengerti bahwa ini bukanlah aib, dan tak apa kalau kita terbuka membicarakan ini. Luka ini seperti luka luka lain yang normal untuk dimiliki dan bisa sembuh. Luka ini bisa terjadi pada siapa saja. Luka ini pun bukanlah dosa, jadi tak apa. Tujuan aku menceritakan luka ini adalah aku sangat berharap...
Mau produktif menulis, tapi makin kesini makin membuncah rasa malasku, Hati yang khawatir, cemas berkepanjangan, tiba tiba datang menyerang, Aku ingin produktif, tapi terlalu malas

Takdir

Ada yang mengejarku selama ini, aku menghindar. Entah apa yang salah, mungkin aku membenci caranya mendekatiku. Setiap perhatiannya memuakkan. Aku juga kebingungan dengan diriku ini. Ternyata memaksakan diri jatuh cinta memang tidak mudah. Mungkin begitulah aku di matamu? Seketika itu aku bercermin. Melihat pantulan diriku yang begitu hebat masih mengejarmu. Mungkin kamu sangat terganggu dan kebingungan menghindariku. Dasar aku, kamu, dan takdir ini.

Selamat Berpisah, Tuan

Selamat berpisah, Tuan Terima kasih karena menyempatkan singgah ke pelukan gadis malang sepertiku, Terima kasih untuk antusiasmu yang hanya sebentar, Terima kasih telah membawakan aku sebongkah harapan yang merekah, Terima kasih sebab menjadi mimpi baikku sampai sekarang. Kamu benar Tuan, kurasa ini karmaku, Karena telah menyia-nyiakanmu, Karena berbohong padamu dan pada perasaanku, Aku sedikit menyesal, Tuan. Mestinya aku mengaku. Tapi apakah itu akan mengubah hari ini? Apakah dengan kejujuranku, kamu tidak akan pergi? Aku meraba-raba, kenangan kita di masa lampau, Kamu hadir di saat aku sangat terjebak dalam kubangan gelap pikiranku, Kamu menawarkan cinta tulus nan sederhana. Lantas, semudah itu perasaanmu berubah Tuan Apakah tak ada sedikit pun rasa yang tertinggal? Aku memang gadis bodoh. Benar aku bagus dalam pelajaran, Tapi sangat bodoh dalam perasaan, Aku ingin membencimu Tuan, Tapi hatiku berontak, Penat. Selamat berpisah, Tuan Aku mengikhlaskanmu. Aku tak apa. Sudah biasa. Han...

My Hardest Part (2)

Bismillahirrahmanirrahim Tulisanku kedua, yang pertama bisa baca disini . Aku tidak tau kapan tulisan ini akan rampung ya.  *** Aku dan ibu akhirnya membuat janji temu dengan psikiater. Malam-malam gerimis kami memesan taksi online. Aneh rasanya di sepanjang perjalanan, apalagi saat supirnya mencoba ramah dengan bertanya apakah kami mau berobat? Berobat apa? Padahal satu-satunya dokter yang ada saat itu adalah dokter jiwa. Aku bertemu psikiater. Rasa di dalam dadaku campur aduk. Takut, malu, sedih, dan emosi lain silih berganti. Aku menceritakan apa yang ku alami pada dokternya, sambil menggegam erat buku jariku, sesekali aku menangis. Dokternya merespkan obat, mengatakan padaku bahwa sakitku ini memang ada, namanya anxiety disorder  atau gangguan kecemasan berlebih, dan bisa diobati.  Waktu pengobatannya enam bulan. Tapi sebenarnya waktu pengobatannya fleksibel, bisa lebih cepat, bisa juga lebih lama. Bahkan bisa tahunan. Aku lemas dan gontai berjalan keluar ruangan. Puk...

Kejujuran itu Terlampau Mahal

Hari ini aku berdiri di hadapan banyak pasang mata siswaku, sambil menggenggam puluhan lembar kertas soal.  Minggu lalu kami mengadakan PTS menggunakan aplikasi yang diakses dengan HP. Jaman semakin canggih, bahkan menjawab soal seperti ini saja diharuskan menggunakan teknologi. Ku akui memang lebih mudah menggunakan teknologi ini, tak payah kami mengoreksi jawaban satu satu dengan sebelumnya melubangi LJK pakai obat nyamuk. Walau katanya Lembar Jawaban Komputer, tetap saja mengoreksinya manual. Tapi begitulah~ Itu beberapa tahun silam. Meski kami tak bau asap obat nyamuk lagi, nyatanya teknologi selalu punya celah untuk dikeluhkan. Anak anak lebih suka berlelah lelah mempelajari tips dan trik untuk curang, ketimbang tips dan trik menjawab soal dengan mudah. Kalau guru punya 1001 cara untuk meminimalisir kecurangan, siswa juga punya 1001 cara menyiasati agar bisa curang. Apakah kecurangan senikmat itu? Hingga mereka lebih suka berkubang di dalamnya? Hari ini aku mengulang PTS itu. ...

Sang Pembaharu

Jujur sebagai manusia biasa yang sedikit idealis, aku cukup lelah mental dan fisik. Belakangan ini dunia semakin bercanda. Negara semakin melucu. Dan makin banyak manusia dengan ambisinya yang beragam, aku tentu berharap ambisinya baik untuk dunia, namun semua itu hanya khayalanku saja. Bahkan tanpa ambisi itu, iklim dunia saja sudah amburadul. Pemanasan global, cuaca ekstrem, dan ancaman kerusakan bumi yang tak main main. Malah sebagian manusia rakus nan tamak justru dengan kesadaran penuhnya, makin semangat dan gelap mata merusak bumi gila gilaan. Ugh. Masalah tiap harinya makin banyak. Baru saja membuka mata di pagi hari, gempuran berita buruk bermunculan. Aku sampai kebingungan dan berharap tidak tau apa apa. Sebagai manusia, aku seperti punya tanggung jawab untuk menjaga lingkungan dan moral di negara yang morat marit ini. Terlebih peranku sebagai guru, aku makin harus 'ideal' untuk menyadarakan ratusan siswaku agar mereka juga mau berkontribusi demi kehidupan yang lebih b...

Mood Booster❤

Bismillahirrahmanirrahim Sebaik-baik mood booster, adalah kalimat Allah. Buat kalian yang sedang bersedih. Semoga membantu. Terjemahan Al Quran, surah Fushilat. 30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: " Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu " 31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. From me, with a lot of love❤❤❤

Menelan Kekalahan

Kini aku tau, dampak yang harus ditanggung dari kalimat sederhana yang sering didengungkan, kalimat "yang penting ikut". Ternyata tidak sederhana kedengarannya. Berawal dari menggugurkan kewajiban, berakhir pada totalitas tanpa batas atas nama tanggung jawab dan idealisme. Aku diminta membimbing lomba. Aku sangat tidak tau apa apa, belum pernah ikut sama sekali. Dan kalau dipikir pikir, bukan bidangku juga. Tapi semua guru di muka bumi ini juga mengalami hal serupa. Sering lintas bidang yang dikuasai. Lulusan apa, tiba tiba mengajar apa. Ternyata hal seperti itu sudah jadi makanan sehari-hari. Singkat cerita aku mengerahkan seluruh tenaga, waktu, pikiran, bahkan uangku. Tapi tak apa. Aku akan melakukan yang terbaik. Begitu juga anakku, dia harus mendapatkan bimbingan yang terbaik dari aku. Dia juga bahkan harus mendapat dukungan moral (yang aku sendiri tertatih tatih memupuk diriku) setiap waktu. Aku mempelajari dengan seksama isi juknis, aku mempelajari semua material yang k...