Langsung ke konten utama

Featured post

Mood Booster❤

Bismillahirrahmanirrahim Sebaik-baik mood booster, adalah kalimat Allah. Buat kalian yang sedang bersedih. Semoga membantu. Terjemahan Al Quran, surah Fushilat. 30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: " Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu " 31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. From me, with a lot of love❤❤❤

2nd Choice

Gimana rasanya jadi second choice?
Jadi ban serep?

Tentu ini sangat melukai, nggak nyaman, memuakkan.

Kalau ini dalam hubungan asmara lawan jenis, aku jelas akan cut off.
Tapi bagaimana kalau ini dalam hubungan pertemanan?
:')
Hm..

***

Dari dulu temanku memang tidak banyak.
Aku introvert. Aku tidak terlalu suka bertemu dalam circle yang besar.
Aku suka pertemuan satu dua orang yang intimate, membicarakan hal hal penting seperti self improvement, atau sekadar deep talk.

Fyi, introvert itu bukan ansos ya.
Aku suka berteman. Tapi tidak di keramaian saja.

Dalam pertemanan, aku sangat tulus dan all out.
Aku bisa saja berselancar di market place berjam jam untuk mencari hadiah untuk teman temanku. Random saja. Walau akhirnya masih di keranjang dan uangnya tidak pernah cukup.

Jelas sebagai teman, aku sangat menyadari aku punya banyak kekurangan.
Aku cerewet, berisik, clingy, manja, bossy, tidak mandiri, attention seeker, dan banyak sekali kekurangan lain.
Tapi ku rasa tiap orang punya banyak kekurangan juga kan?
Tapi mungkin kekuranganku begitu banyak dan menjadi cacat bagi diriku, sampai aku ditinggalkan.

Dulu aku pernah kehilangan temanku dan aku belum sempat berterima kasih atau meminta maaf. Dia lebih dulu ke pangkuan Yang Maha Kuasa.

Aku trauma.
Aku belajar banyak dari kejadian itu.

Sebab itulah saat aku sudah cukup dewasa, aku sering tiba tiba menghubungi teman sekolahku, berterima kasih dan minta maaf atas semua sikapku.
Bersyukur ada sosial media, aku dimudahkan menghubungi mereka.
Dan bersyukur juga karena mereka semua selalu welcome dan kami saling saling memaafkan. :)

Semakin kesini pun,
Ketulusan pertemananku seringkali ku utarakan, saking aku takut tidak punya waktu dan kesempatan mengutarakannya.
Aku minta maaf atas sikapku, aku minta maaf untuk bantuan yang aku belum bisa beri, aku minta maaf karena sering mengeluh.
Dan berterima kasih atas kebaikan mereka, materi, waktu, nasehat, bahkan tawa yang dihabiskan bersama.

Namun pasang surut selalu ada.
Apa yang ditakutkan selalu saja terjadi.
Aku mulai kehilangan teman baikku.

Jangan tanya usahaku mengenggam mereka. Sudah ku lakukan berulang kali. Hingga muncullah rasa sungkan dan sadar diri.

Setan seringkali berbisik.
Kenapa hanya aku yang antusias?
Kenapa hanya aku yang effort?
Kenapa aku saja yang sering mengajak jalan? Dan dia selalu menolak mentah mentah?
Kenapa dia bisa berpergian dengan teman temannya?
Kenapa dia tidak pernah menyediakan waktu untukku?
Kenapa aku yang sudah mendengarkan keluh kesahnya malah dijadikan pelampiasan?
Kenapa dia selalu tidak suka ketika aku mendapatkan kenyamanan?
Kenapa dia selalu mengejekku?
Kenapa dia menyakitiku?
Kenapa dia menjadikan segala aibku sebagai bumerang?
Kenapa dia menjadikan aibku sebagai lelucon yang dinikmati banyak orang?
Kenapa, kenapa, dan kenapa?
Aku salah dimana?
Aku kurang apa?
Se-toxic itu kah aku untuk dia?
Dan bisikan lainnya, yang nyatanya terlalu jelas di depan mata terjadi. 
Tidak sekali, tapi berulang kali.

Renggang lah sudah pertemananku ini.
Aku dan mereka mulai menapaki jalan masing masing.

***

Ust Hanan bilang, milikilah circle positif. Berinvestasilah disana. Waktumu, tenaga, pikiran, dan kalau punya materi.
Tapi aku telah kehilangan satu persatu circle positif itu.
:)

Walau aku sudah berusaha semampuku.
Bila kurang keras usahaku kamu bilang! maka kamu jelas bukan teman baik bagiku.
Sebab teman baik itu tau keadaan masing masing.
Bahkan tanpa perlu penjelasan.

***

Sekarang sedang di fase "tau diri".

Ayolah diriku. Kita bisa sendiri. Janganlah bergantung pada makhluk. Jangan mengemis untuk sebuah hubungan. Jangan juga playing victim.

Tentu temanku tidak jahat.
Hanya aku yang kurang tau diri.
Tentu mereka...mungkin hanya sedang menjauhi aku.
Mungkin karena aku tidak baik untuk mereka.

Dan bagiku, mungkin ini saatnya untuk lebih kuat? Lebih mandiri? Lebih...introspeksi diri?
Lebih bijak? Lebih dewasa?
Ah banyak juga peernya.

Setelah ini...lelah rasanya.
Beberapa manusia diberi rejeki keluarga yang hangat, teman baik yang banyak, lingkungan yang baik...sebagai tempat mereka pulang.

Dan rejeki mereka itu kini menjadi ujian bagiku.
Keluargaku tidak cukup hangat.
Temanku tidak banyak.
Lingkunganku semakin sempit.
Aku kehilangan tempat pulang.

Ah!
Ada lagi tersisa satu, Tuhanku ternyata.
Satu satunya tempat pulang yang selalu ku nomor akhirkan.
:(
Tuhanku yang...selalu effort untukku...yang justru sering ku abaikan.

Mulai sekarang, aku akan berlatih berdialog denganNya.
Baiklah...
:)

***

Tapi...kalau boleh aku mengatakan,
aku adalah orang yang berusaha bertahan bahkan kalaupun pertemanan itu menjadi toxic.
Aku akan mengingat hal hal baik mereka padaku, dan aku akan tetap bertahan dengan berbekal ingatan itu.
Mereka adalah orang orang yang sangat berperan dalam perjalanan hidupku.
Mereka adalah orang orang yang tetap ada di saat hari hari buruk menyapa.

Melepaskan teman teman baik yang kini tidak satu visi misi lagi bukanlah hal yang mudah.
Teman tidak seperti baju kotor yang bisa diganti.

Aku ingin mengubah suasananya, tapi tidak dengan orangnya.

Maka kalau itu toxic, aku ingin kita membuat penawarnya. Hingga pertemanan ini masih bisa dihuni dan ditempati dengan nyaman.
Aku sangat menghargai pertemanan yang ku buat dengan mereka, seandainya mereka tau.
Ya kalau itu terlalu toxic dan pahit, kita bisa pergi sejenak. Buat jarak. Tinggal dalam diri masing masing.
Dan ketika sudah membaik, kita kembali lagi, membuat kenangan dan tawa yang menyenangkan.

Pertemanan tentu ada kurang dan baiknya.
Sampaikan dan perbaiki kurangnya. Ingat dan kenang terus baiknya.

Anw, sekian tulisan ini...
Maaf yang sudah nyasar kemari dan membaca tulisan ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Hardest Part (1)

Bismillahirrahmanirrahim... Aku akan memberanikan untuk membuka sebuah luka dalam hidupku. Ini tentang sesuatu yang menimpaku setahun yang lalu. Jika ada dari kalian yang merasa tidak nyaman dengan tulisan ini, bisa skip saat ini juga. Tulisan ini entah akan jadi berapa bagian. Saking panjang dan lamanya. *** Kalian mungkin pernah mampir ke tulisanku di bulan maret 2023, judulnya NKTCTHI (Nanti Kita Tidak Cerita Tentang Hari Ini) yang juga ada part 2-nya .  Aku kekeuh selama itu tidak ingin membuka luka ini di blog-ku, karena aku masih beranggapan ini adalah sebuah aib. Tapi waktu berlalu, banyak pengalaman yang ku dapat, banyak artikel dan cerita orang lain bersliweran, yang membuat aku mengerti bahwa ini bukanlah aib, dan tak apa kalau kita terbuka membicarakan ini. Luka ini seperti luka luka lain yang normal untuk dimiliki dan bisa sembuh. Luka ini bisa terjadi pada siapa saja. Luka ini pun bukanlah dosa, jadi tak apa. Tujuan aku menceritakan luka ini adalah aku sangat berharap...

Kejujuran itu Terlampau Mahal

Hari ini aku berdiri di hadapan banyak pasang mata siswaku, sambil menggenggam puluhan lembar kertas soal.  Minggu lalu kami mengadakan PTS menggunakan aplikasi yang diakses dengan HP. Jaman semakin canggih, bahkan menjawab soal seperti ini saja diharuskan menggunakan teknologi. Ku akui memang lebih mudah menggunakan teknologi ini, tak payah kami mengoreksi jawaban satu satu dengan sebelumnya melubangi LJK pakai obat nyamuk. Walau katanya Lembar Jawaban Komputer, tetap saja mengoreksinya manual. Tapi begitulah~ Itu beberapa tahun silam. Meski kami tak bau asap obat nyamuk lagi, nyatanya teknologi selalu punya celah untuk dikeluhkan. Anak anak lebih suka berlelah lelah mempelajari tips dan trik untuk curang, ketimbang tips dan trik menjawab soal dengan mudah. Kalau guru punya 1001 cara untuk meminimalisir kecurangan, siswa juga punya 1001 cara menyiasati agar bisa curang. Apakah kecurangan senikmat itu? Hingga mereka lebih suka berkubang di dalamnya? Hari ini aku mengulang PTS itu. ...

My Hardest Part (2)

Bismillahirrahmanirrahim Tulisanku kedua, yang pertama bisa baca disini . Aku tidak tau kapan tulisan ini akan rampung ya.  *** Aku dan ibu akhirnya membuat janji temu dengan psikiater. Malam-malam gerimis kami memesan taksi online. Aneh rasanya di sepanjang perjalanan, apalagi saat supirnya mencoba ramah dengan bertanya apakah kami mau berobat? Berobat apa? Padahal satu-satunya dokter yang ada saat itu adalah dokter jiwa. Aku bertemu psikiater. Rasa di dalam dadaku campur aduk. Takut, malu, sedih, dan emosi lain silih berganti. Aku menceritakan apa yang ku alami pada dokternya, sambil menggegam erat buku jariku, sesekali aku menangis. Dokternya merespkan obat, mengatakan padaku bahwa sakitku ini memang ada, namanya anxiety disorder  atau gangguan kecemasan berlebih, dan bisa diobati.  Waktu pengobatannya enam bulan. Tapi sebenarnya waktu pengobatannya fleksibel, bisa lebih cepat, bisa juga lebih lama. Bahkan bisa tahunan. Aku lemas dan gontai berjalan keluar ruangan. Puk...

Selamat Berpisah, Tuan

Selamat berpisah, Tuan Terima kasih karena menyempatkan singgah ke pelukan gadis malang sepertiku, Terima kasih untuk antusiasmu yang hanya sebentar, Terima kasih telah membawakan aku sebongkah harapan yang merekah, Terima kasih sebab menjadi mimpi baikku sampai sekarang. Kamu benar Tuan, kurasa ini karmaku, Karena telah menyia-nyiakanmu, Karena berbohong padamu dan pada perasaanku, Aku sedikit menyesal, Tuan. Mestinya aku mengaku. Tapi apakah itu akan mengubah hari ini? Apakah dengan kejujuranku, kamu tidak akan pergi? Aku meraba-raba, kenangan kita di masa lampau, Kamu hadir di saat aku sangat terjebak dalam kubangan gelap pikiranku, Kamu menawarkan cinta tulus nan sederhana. Lantas, semudah itu perasaanmu berubah Tuan Apakah tak ada sedikit pun rasa yang tertinggal? Aku memang gadis bodoh. Benar aku bagus dalam pelajaran, Tapi sangat bodoh dalam perasaan, Aku ingin membencimu Tuan, Tapi hatiku berontak, Penat. Selamat berpisah, Tuan Aku mengikhlaskanmu. Aku tak apa. Sudah biasa. Han...

Mood Booster❤

Bismillahirrahmanirrahim Sebaik-baik mood booster, adalah kalimat Allah. Buat kalian yang sedang bersedih. Semoga membantu. Terjemahan Al Quran, surah Fushilat. 30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: " Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu " 31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. From me, with a lot of love❤❤❤

Sang Pembaharu

Jujur sebagai manusia biasa yang sedikit idealis, aku cukup lelah mental dan fisik. Belakangan ini dunia semakin bercanda. Negara semakin melucu. Dan makin banyak manusia dengan ambisinya yang beragam, aku tentu berharap ambisinya baik untuk dunia, namun semua itu hanya khayalanku saja. Bahkan tanpa ambisi itu, iklim dunia saja sudah amburadul. Pemanasan global, cuaca ekstrem, dan ancaman kerusakan bumi yang tak main main. Malah sebagian manusia rakus nan tamak justru dengan kesadaran penuhnya, makin semangat dan gelap mata merusak bumi gila gilaan. Ugh. Masalah tiap harinya makin banyak. Baru saja membuka mata di pagi hari, gempuran berita buruk bermunculan. Aku sampai kebingungan dan berharap tidak tau apa apa. Sebagai manusia, aku seperti punya tanggung jawab untuk menjaga lingkungan dan moral di negara yang morat marit ini. Terlebih peranku sebagai guru, aku makin harus 'ideal' untuk menyadarakan ratusan siswaku agar mereka juga mau berkontribusi demi kehidupan yang lebih b...

Takdir

Ada yang mengejarku selama ini, aku menghindar. Entah apa yang salah, mungkin aku membenci caranya mendekatiku. Setiap perhatiannya memuakkan. Aku juga kebingungan dengan diriku ini. Ternyata memaksakan diri jatuh cinta memang tidak mudah. Mungkin begitulah aku di matamu? Seketika itu aku bercermin. Melihat pantulan diriku yang begitu hebat masih mengejarmu. Mungkin kamu sangat terganggu dan kebingungan menghindariku. Dasar aku, kamu, dan takdir ini.

My Hardest Part (4)

Bismillahirrahmanirrahim... Baca dulu part sebelumnya ya, part 1 , part 2 , dan part 3 . Hari-hari berjalan perlahan. 21 Maret itu aku mulai memberanikan diri jalan berdua dengan temanku ke kafe di kota kami. Pagi-pagi kami sudah duduk manis memesan es stroberi dan nasi goreng. Kafe-nya masih sepi. Sejak itu, aku mulai berani membuka diri di keramaian (yang sepi). Selama sakit aku sama sekali tidak keluar rumah untuk main, pikiranku runyam sekali, aku lebih suka tiduran di samping ibuku. Dan kini aku menatap jalan raya dari balik jendela kafe.  Ah. Menyenangkan bisa kembali setelah nyaris kehilangan diriku . Setelah dari kafe, kami ke miniso, kemudian jalan memutari sebuah kebun hijau. Aku bersyukur untuk banyak hal. Aku mulai kembali kerja lagi. Walau masih tertatih. Atasanku sangat bijaksana saat itu, beliau memberikan aku ruang dan waktu hingga pemulihanku.  Beliau tidak menuntut banyak hal. Aku menjalani hari yang terik dan hujan yang dingin. Ku nikmati tiap detailnya deng...

Tangga Nada

Kurang random apalagi sih aku? Ke toko, malah naksir mas random? Tapi ngalamin starstruck (star in my heart) wkwk Aku selama ini nggak pernah memperhatikan. Entah kenapa minggu itu kayak, kok mas ini manis sih? Udah gitu tinggi dan lembut juga. Tapi akuuuuu masih merasa bodo amat. Walau ketika pulangnya, ada perasaan aneh kayak...aku suka deh sama masnya🥲 Ada momen dia nyamperin aku dan aku blank, diem, suara parau. Kesal😭 Kenapa harus parau? Kenapa aku tidak menanggapi dengan sangat berterima kasih dan ngobrol dikit? Huuu Di jalan aku nyesel, kepikiran🥲 Waktu aku cerita sama temen temenku, mereka semua kayak satu suara dengan bilang, hayok lah kita kesana, siapa tau ketemu, kita samperin tanya nama dan wa-nya. Aku yang panik! Tapi sampai sekarang aku masih kepikiran😥 Aku pernah ketemu lagi, di tempat yang sama, dan yaudah nggak ada apa apa. Bahkan papasan juga nggak. Aku cuman ngeliatin dari jauh. Apakah semesta gak mendukung? Sedih banget, sampai aku agak cry dikit waktu ngobrol ...
Mau produktif menulis, tapi makin kesini makin membuncah rasa malasku, Hati yang khawatir, cemas berkepanjangan, tiba tiba datang menyerang, Aku ingin produktif, tapi terlalu malas